SEJUMLAH usaha digalakkan untuk mencapai target kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 20 juta pada 2019. Indonesia juga berlomba dengan negara tetangga dalam persoalan angka dan menjual daya tarik untuk wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan Nusantara (wisnus). Menteri Pariwisata Arief Yahya menggarisbawahi pariwisata merupakan perpaduan bisnis dan strategi yang di dalamnya juga perlu manajemen.
Menurutnya, dalam manajemen, bisnis itu bukan yang besar makan yang kecil, melainkan yang cepat makan yang lambat. Negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand secara luas wilayah, potensi wisata, dan keindahan alam lebih kecil daripada Indonesia. Target Indonesia dalam 5 tahun mendatang hingga 2019 dari 9 juta menjadi 20 juta wisman. "Mereka sudah mencapai angka itu, sementara kita nanti di 2019. Dalam bisnis terbukti, negara-negara yang lambat mengambil keputusan, birokrasinya mengikat bukan memfasilitasi, inilah akibatnya seperti Indonesia," kata dia.
Arief menggarisbawahi empat hal yang harus diperhatikan dalam strategi untuk mencapai tujuan itu, yang pertama ialah murah, diferensiasi, kecepatan, dan yang terakhir fokus.
"Percepatan dengan tiga regulasi sedang dilakukan, mulai bebas visa untuk 90 negara yang diharapkan menambah jumlah wisman satu juta tiap tahunnya mulai 2016, kemudahan izin masuk kapal layar (yacht) ke Indonesia, hingga cruise, yaitu dengan mencabut sementara asas cabotage dan akan membuat cruise asing lebih mudah masuk dan mengangkut serta menurunkan penumpang untuk berwisata di lima pelabuhan di Indonesia, yakni Tanjung Priok, Tanjung Perak, Belawan, Makassar, dan Benoa Bali. Kami implementasikan yang biasa diimplementasikan di dunia," kata lulusan University of Surrey itu.
Pihaknya telah menghitung selama kurun waktu delapan bulan (Januari hingga Agustus) dari target 10 juta wisman sudah tercapai 6,3 juta wisman. Sisanya akan dikejar hingga akhir tahun.
Keinginan untuk menjelajah berbagai tempat juga menarik bagi wisnus sehingga berbagai negara juga menjadi destinasi. Meski demikian, dari neraca jasa perjalanan Indonesia 2010-2015, pada 2013, data sementara menunjukkan travel inflow US$9,119 juta, sementara outflow sebesar US$7,675 juta. "Ini berarti masih surplus sebesar US$1,444 juta. Sementara itu, pada 2014, data sangat sementara menunjukkan travel inflow US$ 10,261 juta, sementara yang keluar hanya US$ 7,682 juta. Ini berarti masih surplus sebesar US$ 2,579 juta," beber dia.
Arief menambahkan, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia sudah mencapai 6.322.592 wisman atau tumbuh 2,71% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, Januari hingga Agustus. Untuk mendongkraknya, Kemenpar juga akan memberlakukan bebas visa. "Bebas visa berikan impact terbesar dan tercepat. Jangan mempersulit wisman dengan urusan visa," kata dia.