DIY Sabet Juara Umum OPSI 2015

MI/Bay
19/10/2015 00:00
DIY Sabet Juara Umum  OPSI 2015
(Dok)
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meraih  juara umum pada Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2015 dengan meraih tiga medali emas, empat medali perak, dua medali perunggu, dan empat penghargaan khusus. Sedangkan tuan rumah Jawa Timur mampu merebut dua medali emas dalam bidang penelitian IPA tahun ini.

Perolehan medali ini merupakan prestasi membanggakan bagi  provinsi peraih emas  dan dapat memicu provinsi yang lain untuk berprestasi sehingga budaya penelitian di kalangan siswa SMA dapat lebih meningkat. Kegiatan OPSI, yang diselenggarakan setiap tahun ini, bertujuan untuk menggelorakan semangat meneliti di kalangan peserta didik. Para juara terbaik akan dipersiapkan mengikuti olimpiade sains tingkat dunia.

Kasubdit Kelembagaan dan Peserta Didik, Suharlan, selaku Ketua Umum Panitia OPSI 2015 ,Suharlan  menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh peserta ,baik yang berhasil meraih juara maupun yang belum meraih juara. "Generasisekarang adalah generasi yang dapat diandalkan pada 20 tahun yang mendatang termasuk para pemenang OPSI. Ke depan, kegiatan OPSI akan terus digalakkan," kata Suharlan saat sambutan penutupan OPSI di Surabaya,belum lama ini, melalui rilisnya kepada pers,kemarin.

Suharlan yang juga Kasubdit Peserta Didik Direktorat Pembinaan SMA Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud berharap setiap kabupaten kota dapat mengirimkan naskah penelitian yang lebih meningkat pada OPSI 2016.

OPSI pada tahun ini secara keseluruhan menerima 790 naskah penelitian dan terpilih 88 naskah sebagai finalis terdiri atas 58 naskah untuk kelompok IPA dan 30 naskah untuk IPS dan Humaniora. OPSI tahun ini diikuti 168 kontestan didampingi 58 guru. Juri yang terlibat 26 dosen dan peneliti. Terpilih sebanyak 32 juara IPA dan 16 juara IPS dan Humaniora.

Quinita Maria Jose Noronha dan Sepvina Mutikasari dari SMAN 3 Yogyakarta meraih medali emas melalui penelitian berjudul Kaca Mata Duitan. Mereka membuat kaca mata khusus yang dapat mendeteksi nominal uang bagi penyandang tuna netra. "Cara kerjanya dengan membedakan komposisi warna pada setiap nominal uang. Setelah data didapatkan kemudian diolah dengan (perangkat komputer) dan outputnya berupa audio," kata Sepvina.

Peserta didik dari Papua juga tidak kalah bersaing dengan peserta dari daerah lain. Adalah Hari Ratuh Nurlely Sama' dan Agusta Ngoranubun, dari SMAN 2 Merauke, Papua. Mereka meraih medali perak kategori IPS dan Humaniora bidang ekonomi. Judul penelitian mereka  Mata Uang Nominal Kecilku Kini Keberadaannya Tak Semanis Gula-Gula. "Saya setiap membeli sesuatu ke toko sering diberi kembalian dengan gula-gula (permen). Pedagang sering membulatkan harga," kata Hari mengisahkan awal mula ide penelitiannya.

Menurut Suharlan sejak tiga tahun terakhir kegiatan OPSI telah berafilisi dengan dua lomba penelitian tingkat dunia yaitu International Science Project Olympiad (ISPRO) dan Intel-International Science Engineering Fair (Intel-ISEF). Prestasi para peserta didik Indonesia di kedua ajang tersebut sangat membanggakan dan melahirkan temuan atau inovasi yang layak dijadikan sebagai karya dan aset bangsa.Menurutnya,para peraih medali OPSi 2015 akan mendapat prioritas mewakili Indonesia pada kedua ajang penelitian tingkat internasional tersebut.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya