Rumah Mewah dan Barang Antik

Abdillah Marzuqi
18/10/2015 00:00
Rumah Mewah dan Barang Antik
(MI/GALIH PRADIPTA)
PENONTON membeludak. Kursi yang disediakan rupanya tidak cukup. Lorong di samping kursi yang sedianya diperuntukkan jalan pun penuh dipenuhi penonton. Mereka rela duduk lesehan di atas karpet bekas diinjak orang yang lewat. Tak hanya di depan panggung dan kedua sayap di lantai utama, sisi atas tribune berbentuk persegi pun penuh. Bahkan, banyak di antara penonton terpaksa berdiri.

Suasana yang belum sepenuhnya tenang berubah menjadi lebih berisik tatkala layar penutup panggung diangkat. Penonton yang semula diam terpancing berkomentar. Mereka bergumam-gumam lirih.

"Keren properti panggungnya," kata seorang penonton yang berada di sayap kanan setengah berbisik.

Wajar bila mereka berujar demikian. Di depan mereka terpampang panggung dengan properti yang tidak main-main. Pintu berdaun dua diletakkan tepat di tengah. Pintu kayu itu membagi panggung menjadi dua bagian dengan setiap properti. Di sisi kanan panggung terdapat sebuah lukisan pemburu tengah bergulat dengan singa yang berukuran lebih dari 1,5 meter, jam berdiri, lukisan kecil sekitar setengah meter, lampu hias, dan satu set sofa, beserta meja. Di sisi kiri panggung, diletakkan kursi goyang, guci berukuran sedang, patung, dan cermin. Malam itu, panggung dan propertinya dikesankan sebagai ruang tamu dan ruang tengah.

Persis di bawah panggung, empat orang telah siap dengan alat musik. Terlihat beberapa instrumen, yang paling akrab ialah keyboard dan jimbe, sedangkan alat musik lainnya hasil buatan sendiri atau modifikasi, seperti drum yang ditempeli besi berlilit kawat.

Adegan pertama dimulai dengan bunyi gending Jawa. Tampak seorang wanita tua duduk di kursi goyang. Kakinya selonjor setengah ditekuk agar pas dengan sandaran kaki. Sebentar berlalu, wanita tua masuk. Berganti dengan wanita paruh baya yang memasuki panggung.

Adegan tersebut merupakan pembuka dalam lakon Barang Antik produksi Teater Indonesia yang dipentaskan di Ruang Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (14/10). Naskah berdurasi 90 menit itu bercerita tentang keluarga Suryo Pranoto Sadikun yang mengalami keterpurukan ekonomi. Suryo beserta istri dan ibunya tinggal di rumah mewah peninggalan bapaknya. Mendiang ayahnya ialah kolektor barang antik.

Namun sayang, Suryo tidak bekerja. Ia tidak punya penghasilan. Di sisi lain, istrinya yang terlilit utang malah menuntut banyak materi.

Suryo lalu memutuskan untuk menjual barang antik peninggalan bapaknya. Namun, sang ibu tidak mengizinkan. Suryo akhirnya nekat menjual barang antik itu secara diam-diam.

Akan tetapi, ia tidak rela kehilangan barang berharga milik mendiang bapaknya. Dia hanya mau uang dari para pembeli. Akhirnya, Suryo mensyaratkan setiap pembeli agar membawa uang tunai. Ia membunuh pembeli yang datang dan mengambil uang mereka.

Naskah itu sebenarnya berkaca pada pengalaman sang sutradara, Budi Kecil. Beberapa tahun lalu, masih segar dalam ingatan Budi saat ia lewat di salah satu kawasan elite di bilangan Jakarta Timur. Budi, secara tak sengaja, mampir minum di sebuah gerobak tukang es kelapa. Setelah sekian saat berbincang, Budi bertanya pada tukang es tempat tinggalnya. Budi merasa heran bagaimana orang tersebut bisa berjualan di tempat elite itu.

Alangkah kagetnya Budi saat tahu bahwa tukang es tersebut ialah salah seorang pemilik rumah di kawasan itu. Bahkan, rumah tukang es tepat di belakang Budi. Tukang es mengaku tidak bekerja dan hanya jualan es untuk mencari uang.

"Buat apa tinggal di rumah besar, tapi kehidupan di dalamnya melarat?" tegas Budi.

Cerita itulah yang kemudian dibingkai Budi dalam sebuah naskah teater yang dipentaskan dalam ajang Festival Teater Jakarta Pusat 2015. Selain Budi Kecil, mereka yang terlibat antara lain penata artistik Nahar, penata lampu Eggy Iskandar, dan penata musik Arya Bellamy. Sementara itu, di jajaran pemain terdapat Olis Tegal, Piala Dewi Lolita, Lina Erent, Embong Swatantra, Tininya Dody, Ical Vrigar, Ferry Nyoe, dan Ndah Barong Muslim.

Decak kagum
Sepertinya, malam itu adalah milik Teater Indonesia. Maklum, pentas berjudul Barang Antik itu tampil sebagai peserta terakhir sebelum FTJ-P Award diumumkan beberapa jam setelahnya.

Meski sebagai peserta terakhir, Teater Indonesia mampu menyuguhkan pementasan yang mampu mengundang decak kagum para penontonnya. Latar panggung memang tidak diubah sama sekali. Namun, hal itu tidak membuat pertunjukan jadi membosankan. Musik dan tata lampu yang dibuat serasi dengan adegan, serta para pemain yang sukses membawakan karakter masing-masing, menjadikan pentas tersebut sungguh enak dinikmati.

Dua pemain dalam lakon itu, Olis Tegal dan Lina Erent, berhasil menyabet penghargaan aktor terbaik dan aktris pendukung terbaik. Selain penghargaan itu, pementasan Barang Antik mendapat kategori lain, yakni naskah terbaik, penata musik terbaik, dan sutradara terbaik. Sebab inilah, Teater Indonesia didapuk sebagai grup terbaik FTJ-P 2015 pada 14 Oktober lalu.

Festival Teater Jakarta Pusat 2015 diselenggarakan Asosiasi Teater Jakarta Pusat bersama Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Pusat selama enam hari di Ruang Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta. (M-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya