BERBAGAI cara dapat dilakukan agar wayang tetap menjadi magnet bagi anak muda. Komunitas Wayang Jong dan Senjoyo Budoyo Yogyakarta melakukan berbagai kreasi dan tata cahaya di atas panggung agar lebih mengakrabkan wayang kepada generasi muda.
Hal itu diungkapkan dalang muda Hariyanto, 29, yang tergabung dalam Komunitas Wayang Jong dan Senjoyo Budoyo Yogyakarta. Salah satunya dengan membuat tata panggung dan lampu yang menarik. "Panggung dan lampu dapat dikreasikan menjadi panggung yang lebih atraktif," ujarnya.
Tujuan utama ialah agar penonton dapat melihat secara dekat dan jelas segala aktivitas yang terjadi di atas panggung. Dengan begitu, para penonton dapat langsung melihat secara gamblang aktivitas yang terjadi di panggung.
"Para pemusik saat menabuh gamelan, gerak bibir para sinden saat melantunkan gending, ataupun cara dalang menggerakkan wayang. Bahkan koleksi wayang di dalam kotak pun boleh dilihat oleh penonton muda," paparnya.
Hal lainnya ialah lakon dan adegan. Saat pergelaran wayang dapat dipilih lakon yang familier dengan anak muda dibandingkan dengan lakon yang kurang dikenal anak muda. Salah satu yang bisa dijadikan pilihan ialah lakon Gatotkaca lahir'. "Kebanyakan penonton muda tahu tokoh Gatotkaca. Adegan yang bisa membuat penonton bosan juga sebisa mungkin dihindari atau dipersingkat. Seperti adegan dengan cerita yang terlalu panjang. Yang paling utama ialah memunculkan interaksi hangat antara dalang, sinden, dan penonton muda," papar Hariyanto.
Ketiga, musik iringan. Tanpa mengubah pakem, musik iringan dapat digarap menjadi musik yang sesuai dengan penonton muda. "Dari musik berirama mengambang, digeser menjadi irama yang bisa menggugah semangat dan lebih atraktif," jelasnya. Selain hal itu, durasi waktu juga perlu diperhatikan. Pasalnya, penonton muda tentu berbeda dengan penonton wayang klasik yang terbiasa dengan pergelaran semalam suntuk. "Untuk penonton muda, waktu pergelaran bisa diperpendek menjadi 2-3 jam. Supaya penonton muda tidak bosan dan tidak kehilangan ketertarikan terhadap wayang," kata Haryanto.
Hal itu pula yang dirasakan pemegang rekor dalang termuda MURI Henokh Aldebaran Ngili siswa SMA Kolese De Britto Yogyakarta ketika mengamati ketertarikan anak muda terhadap wayang. "Wayang yang mengandung banyak nilai luhur justru dianggap terlalu kaku dan menjenuhkan untuk dipelajari," ujarnya.
Hal itu pula yang mendorong banyak dalang membuat terobosan dalam pertunjukan wayang mulai dari pengubahan lakon yang kontemporer, memodifikasi tampilan wayang, hingga memberikan visual efek dalam pertunjukan. Pakem dipertahankan Meskipun inovasi itu bertujuan untuk menjaring perhatian generasi muda, pakem seni wayang tetap harus dipertahankan dalam pertunjukan. Menurut Henoch, dalang harus tetap membuat pementasan sesuai pakem, namun tetap menyajikannya cerita wayang dengan alur yang mudah dipahami oleh penonton zaman sekarang. "Dengan begitu, generasi muda tetap belajar wayang, tanpa mengubah pakem dan tujuannya," tuturnya.
Ada juga dalang muda Foe Jose Amadeus Khrisna, 16. Ia pernah mengisi acara Wayang of World (WOW) dengan tema Negeri wayang Indonesia goes to mall di Java Mall, Semarang.
Kepiawaian Jose memainkan wayang agaknya tak perlu diragukan lagi. Sebab, sejak usia tiga tahun anak tunggal dari pasangan Tirto Adjie dan Mayningrum ini sudah menyukai wayang. Setiap malam Minggu, selama dua tahun, Jose kecil tak pernah ketinggalan menonton acara wayang di televisi swasta.
Berbagai acara dan festival wayang lokal serta regional telah dia ikuti. Jose pun sudah ikut mendalang pada Puppetry Festival, festival wayang level internasional bersama Rumah Topeng Setia Dharma, Bali, September 2013 di Bali. Bahkan November 2014 lalu, Jose ke Thailand untuk mengikuti festival wayang yang diikuti 150 negara.
Melalui wayang, generasi muda dapat mengenal nilai-nilai kehidupan. Diharapkan dengan mengenal wayang yang telah diakui UNESCO sebagai World Master of Oral and Intangible Heritage of Humanity, warisan mahakarya dunia, pada 7 November 2003, Generasi muda lainnya dapat mencintai dan terus mengembangkan seni budaya wayang Indonesia.