MATAHARI belum terlalu tinggi, panasnya belum terlalu menyengat. Namun, alun-alun Kota Tua sudah ramai. Maklum, pagi itu ialah akhir pekan.
Banyak orang memanfaatkannya untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Sayup terdengar bunyi gamelan menyeruak. Pelan memang, tapi cukup untuk sekadar membangkitkan rasa penasaran. Tabuhan itu berasal dari dalam gedung di sisi barat alun-alun. Tepatnya bangunan yang sekarang di gunakan sebagai Museum wayang.
Pintu museum sengaja dibuka untuk agar bunyi gamelan dapat didengar kerumunan orang di alun-alun. Pintu yang terbuka itu juga membuat orang di luar museum tua bergerak untuk sekadar melongok asal bunyi, sedikit mengintip ruang pertunjukan.
Seorang pria muda berpakaian batik tergopoh-gopoh memasuki ruang pertunjukan di dalam gedung museum wayang. Itu bukan kali pertama. Sebelumnya, beberapa kali ia keluar-masuk ruangan. Tampaknya ia memang tengah menyiapkan sesuatu dan ia benar terburu-buru.
Beberapa menit kemudian pertunjukan dimulai. Pria yang terburu-buru tadi ternyata ialah dalang yang saat itu tampil. Ia memainkan lakon Kumbokarno Gugur dalam ajang Festival Wayang 2015 yang dihelat di Museum Wayang, Sabtu (10/10) lalu. Lakon itu bercerita tentang Kumbakarna yang gugur demi negaranya Alengka, bukan demi membela Rahwana.
Saat ditemui seusai pementasan, dalang muda Buyung Gendon Abimanyu menyatakan bahwa kesenian wayang harus terus dipertahankan dan juga dikembangkan. Apalagi, menurutnya saat ini era globalisasi. Wayang harus berhadapan dengan banyak seni modern.
"Perlu adanya pengembangan karena saat ini wayang semakin surut dan semakin surut," tegas Abimanyu yang saat ini berusia 22 tahun.
Namun, bagaimanapun upaya pengembangan wayang, identitas wayang sebagai tontonan, tuntunan, sekaligus tatanan harus tetap diperhatikan.
Seni wayang memang semakin berkurang peminat. Berbagai upaya dilakukan untuk menarik anak muda agar menyukai wayang. Hal ini menjadi salah satu tujuan Festival Wayang Indonesia (FWI) 2015 di Kota Tua pada 7-11 Oktober. "Seni wayang sudah mengalami berbagai penyesuaian agar bisa diterima masyarakat sekarang," kata Ketua Umum Sekretariat Nasional Perwayangan Indonesia (Sena Wangi), Suparmin Sunjoyo.
Menurut Suparmin, sejauh ini penyesuaian yang dilakukan berupa waktu. Selama ini pergelaran wayang menghabiskan waktu minimal 8 jam. Namun sekarang sudah lebih diringkas dan dipadatkan. "Satu pergelaran bisa hanya 2 jam. Bahkan ada yang 10 menit atau 5 menit," tuturnya. Selain waktu, penggunaan bahasa juga menyesuaikan. Banyak pergelaran wayang kini menggunakan bahasa Indonesia. Ini dilakukan agar wayang dapat menjangkau semua daerah. Di luar dari bahasa, tema-tema yang diangkat juga lebih dinamis dan dekat dengan masyarakat.
Wayang sekarang tak lagi melulu membahas kisah-kisah Pandawa atau perang Baratayuda. Pergelaran wayang sekarang banyak yang mengangkat tema yang dekat dengan masyarakat. "Misalnya, kisah kepahlawanan Soekarno ya," jelas Suparmin.
Instrumen musik juga mengalami banyak penyesuaian. Sinden, misalnya, sudah bisa menyanyikan lagu-lagu populer. Alat musiknya juga sudah bisa menggunakan drum dan gitar.
Meski demikian, Suparmin menegaskan ada hal-hal yang tak bisa diubah seenaknya dalam pewayangan. Saat ini, sudah ada dua aliran dalam wayang, tradisional dan kontemporer. "Yang tradisional masih berpegang pada tradisi, sedangkan kontemporer ini banyak guyon. Ini kan terkadang merusak aturan ya," terang Suparmin. Tontonan menghibur Sebagai salah satu seni pertunjukan, wayang dituntut agar bisa menghibur. Wayang sebagai tontonan harus enak untuk ditonton, dilihat, atau didengarkan. Karena itu, paduan antara unsur musik, drama, dan seni suara dalam wayang harus padu. "Pagelaran wayang itu sifatnya menghibur masyarakat," terang Abimanyu.
Sebagai tontonan, wayang mampu menampung pengembangan dan ide cerita baru dalam merespons kondisi kekinian. Seperti yang diungkap salah seorang dalang Kentus Bharata. Kentus memainkan lakon Hanoman Duto dalam Festival Wayang 2015. Lakon ini bercerita tentang Hanoman yang diutus Prabu Rama untuk menyampaikan pesan pada Sinta yang tengah diculik Rahwana.
Kentus menyatakan lakon ini relevan dengan kondisi kekinian saat banyak terjadi kasus penculikan. Meskipun cerita wayang diambil dari kisah Ramayana dan Mahabarata dari India, cerita tidak bisa masuk secara frontal dalam budaya Indonesia. Contohnya, dalam cerita Mahabarata India, Drupadi mempunyai suami lima orang pandawa. Ini tidak bisa berlaku pada budaya Indonesia. Dalam wayang Indonesia, cerita itu bergeser. Drupadi menjadi istri Puntadewa yang kemudian punya anak bernama Pancawala. "Sebab secara konsep, budaya, dan nilai filosofis, kita punya wayang sendiri untuk memvisualkan cerita tersebut," tegas Kentus.
Wayang tidak sekadar seni pertunjukan, tapi juga berfungsi sebagai penuntun. Wayang ialah ekspresi nilai luhur. Menurut Abimayu, wayang mengandung ajaran budi pekerti. Sebab, di dalam wayang diajarkan cara berbakti, seperti bagaimana anak berbakti pada orangtua, istri pada suami, kawula kepada ratu. "Itu semua diajarkan dalam wayang," ujar Abimanyu yang mulai belajar sejak usia 10 tahun.
Wayang juga merupakan cerminan kehidupan manusia. Dalam wayang ada yang jujur, seperti Yudhistira, ada yang licik seperti Patih Sengkuni, ada yang setia seperti Adipati Karna, ada yang serakah seperti Duryudana, dan ada pula yang bijak seperti Semar.
"Manusia ada yang jahat, wayang pun ada yang jahat, seperti Rahwana, Duryudana, atau Sengkuni. Manusia ada yang jujur, wayang juga ada yang jujur, misalnya, Puntadewa," tegas Abimanyu.
Setiap pergelaran wayang kulit haruslah memenuhi tatanan tertentu yang telah ada. Salah satunya ialah bahasa. Dalam wayang, sangat dibedakan antara tata bahasa yang digunakan ketika anak berbicara dengan orang-tua dan punakawan kepada ratu. Menurut Abimanyu, wayang mempunyai tatanan tersendiri, seperti tatanan berbahasa kepada orangtua atau saat berbicara kepada ratu.
Wayang telah diakui UNESCO sebagai World Master of Oral and Intangible Heritage of Humanity, warisan mahakarya dunia, pada 7 November 2003, saat generasi muda mencintai dan turut mengembangkan wayang Indonesia. (M-2)