Kelangkaan Peneliti Picu Tersendatnya Iptek Indonesia

Putri Rosmalia Octaviyani
12/10/2015 00:00
Kelangkaan Peneliti Picu Tersendatnya Iptek Indonesia
()
LEMBAGA Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengeluhkan lambannya perkembangan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di Indonesia. Hal itu imbas dari minimnya jumlah peneliti dan hasil riset yang diproduksi negara kita.

"Perkembangan iptek mutlak membutuhkan jumlah sumber daya manusia (SDM) yang mencukupi," sebut peneliti biota laut dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Ratih Pangestuti, pada acara bincang peneliti inspiratif, di Jakarta, kemarin (Minggu, 11/10/2015). Ratih merupakan salah satu peneliti yang meraih LIPI Young Scientist Award 2015, yang diberikan pada Kamis (8/10).

Imbas dari minimnya periset dan publik yang tertarik dengan bidang iptek, membuat budaya berpikir kritis tidak mengembang di masyarakat kita.

Kurangnya jumlah peneliti di Indonesia, sebelumya digambarkan Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain. Dia menyebutkan, rata-rata jumlah peneliti di Indonesia baru mencapai 40 per 1 juta penduduk. Jumlah itu tertinggal jauh dengan negara berkembang lain di Asia.

Contohnya saja India yang sudah memiliki perbandingan 140 per 1 juta penduduk. Dengan total penduduk India yang telah mencapai 1 milyar lebih, praktis jumlah riil peneliti di negara itu pasti jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan Indonesia.

Di negara Asia lainnya, seperti Jepang memiliki 5 ribu per 1 juta penduduk. Korea Selatan, 5.500 per sejuta penduduk, dan Israel yang notabene merupakan negara dengan jumlah periset terbanyak memiliki 6.500 peneliti per sejuta penduduk.

Tidak hanya itu, alokasi dana bagi pengembangan iptek di Indonesia pun sangat minim. Menurut dia, alokasi anggaran penelitian di Indonesia hanya 0,09% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Sementara Malaysia mampu mengalokasikan 2% dari PDB, Tiongkik di atas 2%, Amerika Serikat mendekati 3%, dan Israel 4%.

Inspirasi
Berkaca dari permasalah tersebut, selaku peneliti, Ratih ingin menjadi inspirator sehingga semakin banyak anak muda di negara kita yang akan tertarik terjun ke bidang riset. "Saya ingin menularkan asyiknya terjun di bidang iptek pada adik-adik," sebut dia.

Ratih yakin, semakin banyak kaum muda yang terjun ke bidang penelitian, bakal berimbas pada proses riset yang lebih inovatif. Pemikiran kaum muda yang inovatif, lanjut dia, sangat dibutuhkan di dunia penelitian. Pasalnya, dengan jumlah alokasi dana yang terbatas, dibutuhkan inovasi agar menghasilkan produk riset yang baik.

Senada dengan Ratih, peneliti Pusat Informatika LIPI Suharyo Sumowidagdo juga mengatakan, saat ini mayoritas masyarakat Indonesia masih apatis dan enggan untuk berpikir ilmiah. Kepedulian yang kurang dari masyarakat terhadap sebuah riset dan inovasi membuat karya-karya yang dihasilkan tidak dikenal dan tidak berkembang.

"Perlu lebih banyak warga negara yang mengerti cara berpikir ilmiah dan mau mendukung hal-hal berbau ilmiah. Karena kalaupun penelitinya banyak tetapi masyarakat tidak mengerti dan tidak peduli, akan jadi percuma," ujar Suharyo.(Ant/H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya