IJSO Ikon Sains dan Budaya

Syarief Oebaidillah
03/12/2016 04:21
IJSO Ikon Sains dan Budaya
(ANTARA/Str-Alan)

INTERNATIONAL Junior Science Olympiad (IJSO) ke-13 yang digelar di Bali diharapkan dapat menjadi simbol integrasi antara sains dan budaya.

Tujuan penting IJSO lainnya agar anak-anak muda peserta olimpiade itu memiliki pengalaman bersentuhan langsung dengan budaya yang berbeda dalam wadah interaksi siswa dari seluruh dunia.

Menurut Dirjen Dikdasmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad, di Jakarta, kemarin, agenda IJSO dilangsungkan mulai 2-11 Desember dan akan dibuka secara resmi oleh Mendikbud Muhadjir Effendy di Nusa Dua, Bali, hari ini.

"Manfaat lain yang diharapkan, IJSO berpotensi mempromosikan perdamaian dan kesepahaman global."

Hamid menambahkan Pulau Dewata juga ditetapkan sebagai venue IJSO 2016.

Dia yakin hal tersebut dapat menarik lebih banyak saintis dan para pegiat ilmu pengetahuan alam berkunjung ke Indonesia.

Hamid mengatakan IJSO merupakan ajang kompetisi tahunan bidang ilmu pengetahuan alam (sains) yang mencakup mata pelajaran fisika, biologi, dan kimia untuk siswa usia 15 tahun ke bawah atau setingkat SMP.

Sejak dilaksanakan pertama kali di Jakarta pada 2004, IJSO telah mendapat pengakuan dari berbagai negara secara signifikan.

"IJSO juga bertujuan mempromosikan minat sains di antara para siswa, mengekspos mereka dalam menyelesaikan masalah, berpikir kritis, dan eksperimentasi," ujar Hamid.

Manfaat IJSO diakui memberikan dampak positif bagi pendidikan sains dan matematika pada siswa di Tanah Air karena membuka level kompetisi secara internasional.

Sekitar 50 negara anggota berpartisipasi setiap tahunnya.

Hamid menjelaskan kompetisi-kompetisi akademis yang terdapat dalam arena IJSO termasuk tes-tes yang cukup menantang dalam topik sains, baik pertanyaan teori maupun praktik.

Tes-tes tersebut dirancang untuk menangani pemahaman siswa tentang konsep-konsep dalam sains, dan kemampuan mereka dalam menerapkan konsep tersebut ke dalam situasi yang digambarkan dalam tes.

Bangun jejaring

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pembinaan SMP Ditjen Dikdasmen Kemendikbud Supriano menambahkan IJSO telah menjadi ajang bergengsi bagi para juara Olimpiade Sains Nasional (OSN) untuk lebih mengasah kompetensi dan prestasi mereka dalam skala yang lebih mendunia.

Ia memaparkan saat IJSO pertama kali digelar di Indonesia pada 2004, diikuti 33 negara dan terus terjadi peningkatan jumlah negara yang ingin berpartisipasi.

Tahun ini sempat terdaftar 62 negara mengingat faktor daya tarik Bali sebagai destinasi wisata.

"Namun yang pasti ikut 48 negara dan kami selaku tuan rumah optimistis dapat meraih medali emas lebih banyak dibanding saat ikut IJSO Korea yang meraih dua emas," ujar Supriano.

Ia melanjutkan, setelah kompetisi, para siswa diharapkan tetap menjalin komunikasi melalui surel maupun medsos yang semakin menegaskan bahwa perkenalan dan perkembangan sains antarbangsa sangat penting dan bisa dilanjutkan di kemudian hari.

(H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya