PEKAN ini, tiga ilmuwan berhasil meraih Hadiah Nobel Bidang Kedokteran atas hasil riset mereka memecahkan masalah pengobatan penyakit parasit yang diderita jutaan orang di dunia.
William Campbell dan Satoshi Omura menerima penghargaan atas penemuan avermectin, obat antiinfeksi cacing gelang--penyebab penyakit kaki gajah dan onchocerciasis.
Omura, ahli mikrobiologi asal Jepang, berhasil mengisolasi dan membudidayakan varian genetik kelompok bakteri bernama streptomyces dalam laboratorium.
Campbell, yang lahir di Irlandia pada 1930, berhasil menguji komponen dari salah satu hasil pembiakan yang dilakukan Omura.
Hasilnya, varian genetik tersebut aktif melawan parasit.
Komponen itulah yang kemudian dikembangkan menjadi avermectin.
Obat-obatan yang mengandung avermectin disebut berhasil mengurangi kasus onchocerciasis secara drastis.
Penyakit itu disebabkan cacing parasit bernama Onchorcerca volvulus yang dibawa lalat hitam (Simulium sp) yang habitatnya di sepanjang sungai.
Melalui gigitan, lalat tersebut membawa parasit yang akan menyebabkan gatal, perubahan warna, serta benjolan pada kulit, gangguan penglihatan, hingga kebutaan permanen.
Kasus onchocerciasis sendiri paling sering terjadi di daerah tropis.
Lebih dari 99% dari korban yang terinfeksi berada di Afrika.
Adapun kaki gajah (lymphatic filariasis) merupakan penyakit yang disebarkan nyamuk pembawa infeksi.
Jika terkena serangan, bagian tubuh akan membengkak dan mengeras. Menurut catatan, sekitar 120 juta orang di dunia terinfeksi filariasis.
Pengobatan kuno Peraih penghargaan di bidang yang sama, Tu Youyou, mengembangkan penawar penyakit malaria bernama artemisinin.
Hasilnya ialah pengemasan ulang pengobatan kuno Tiongkok secara modern.
Tu, perempuan pertama Tiongkok yang meraih Hadiah Nobel, ialah profesor di China Academy of Traditional Chinese Medicine.
Penawar yang dikembangkannya terinspirasi pengobatan herbal yang 1.700 tahun lalu digunakan untuk mengobati demam.
Herbal yang diolah Tu berasal dari tanaman Artemisia annua atau juga dikenal dengan nama qinghao.
Sepanjang kariernya, Tu harus meneliti lebih dari 2.000 herbal Tiongkok.
Dari total itu, 640 memiliki reaksi antimalaria.
Setelah proses uji coba pada hewan, hanya satu yang menghasilkan reaksi signifikan, yakni ekstraksi dari artemisia.
Namun, masalah muncul karena ekstraksi tidak bisa langsung ditiru.
Untuk mengetahui proses replikasi, Tu mempelajari literatur pengobatan kuno Tiongkok yang ditulis Ge Hong, seorang ahli kimia yang wafat pada 343.
Dalam tulisan berjudul Panduan Resep untuk Situasi Darurat Ge Hong mengungkap cara memanfaatkan artemisia untuk mengurangi gejala malaria.
"Celupkan segenggam qinghao ke 2 liter air, lalu peras sarinya dan minum lah".
Bagi Tu, tips dari Geng Ho itu menginspirasinya untuk menghindari proses pemanasan dalam melakukan ekstraksi, yang bisa berakibat pada hancurnya komponen dalam tanaman.
Ia lalu mengembangkan metode ekstraksi temperatur rendah demi tetap menjaga reaksi antimalaria.
Malaria disebabkan parasit plasmodium yang ditransmisikan melalui gigitan nyamuk terinfeksi.
Jika terinfeksi pada tubuh manusia, parasit itu akan berlipat ganda di bagian hati dan menyerang sel darah merah.
Jika tak segera ditangani, suplai darah ke organ vital akan terganggu.
Dalam pembuatan obat malaria, kemunculan parasit yang resisten terhadap obat pada kurun 1970-1980 merupakan kendala utama.
Hal itu muncul di sejumlah negara, seperti di India dan Asia Tenggara.
Obat chloroquine dan sulphadoxine-pyrimethamine, tidak mujarab lagi. Produk obat yang mengandung artemisinin sekarang merupakan standar yang digunakan karena kemanjurannya.
Meski begitu, Badan PBB WHO belakangan mendeteksi kemunculan parasit yang resisten terhadap artemisinin di lima negara, yakni Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Di seluruh dunia, hampir 200 juta orang menderita malaria.
Setiap tahunnya, penyakit itu menyebabkan kematian bagi sekitar 600 ribu orang, yang sebagian besar merupakan anak-anak di Afrika. (AFP/WHO/L-1)