Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan/Grt/Zic/L-2
10/10/2015 00:00
()
AREAL terumbu karang alamiah memiliki biota-biota yang menghasilkan senyawa bioaktif lebih beraneka ragam jika dibandingkan dengan areal yang mengalami tekanan polusi.
Kesimpulan itu diambil dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti Hedi Indra Januar di Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) beberapa tahun terakhir.
Senyawa bioaktif ialah senyawa phytochemical (seperti vitamin, mineral, dan elektrolit) yang menghasilkan aktivitas biologi positif.
Berdasarkan penelitian di beberapa kawasan konservasi laut, seperti Taman Nasional Karimunjawa, Taman Nasional Wakatobi, Taman Wisata Perairan Laut Banda, dan Taman Wisata Perairan Kapoposang, ditemukan invertebrata penghasil senyawa bioaktif, seperti spons dan karang lunak, memiliki kecenderungan menghasilkan senyawa bioaktif lebih tinggi pada kondisi perairan yang alamiah.
Data kumulatif yang dimiliki Balitbang KP menunjukkan, pada peningkatan polusi di lingkungannya, keragaman biota laut invertebrata dapat berkurang hingga 50%.
Selain itu, pada eksplorasi senyawa bioaktif antitumor, peluang untuk menemukan suatu jenis biota dengan kandungan aktivitas antitumor yang potensial dapat berkurang dari 60%-70% hingga menjadi sekitar 30%, pada peningkatan polusi di lingkungan perairan terumbu karang.
Sebelumnya, yaitu pada 2010, Balitbang KP menemukan delapan jenis senyawa bioaktif yang dihasilkan biota karang lunak jenis Nephtheidae dari areal Konservasi Inti III Taman Nasional Kepulauan Seribu.
Satu di antara senyawa tersebut teridentifikasi sebagai jenis varian senyawa baru.
Pada penelitian secara spasial dari lokasi terumbu karang di Taman Nasional tersebut juga ditemukan biota serupa yang menghasilkan kadar yang lebih rendah daripada senyawa baru tersebut jika biota itu hidup di perairan terpolusi.
Hal itu menunjukkan kualitas lingkungan berperan erat dalam keberagaman senyawa biopotensial yang diproduksi biota-biota invertebrata.
Hubungan yang erat antara bioaktivitas suatu biota invertebrata dasar laut dan kondisi lingkungan disebabkan oleh faktor ekologi dari sistem metabolisme biota tersebut.
Pada wilayah terumbu karang yang padat dan sehat, biota dasar laut akan saling mengeluarkan senyawa bioaktif untuk merebut atau mempertahankan ruang hidupnya.
Selain itu, senyawa bioaktif juga dapat dihasilkan sebagai strategi biota tersebut agar tidak dimangsa predator.
Sementara itu, pada daerah terpolusi, yang terjadi ialah sebaliknya.