Kaya dan Terkenal melalui Ponsel

Hera Khaerani
10/10/2015 00:00
Kaya dan Terkenal melalui Ponsel
()
KERLAP-KERLIP cahaya di konser musik belakangan ini tampak lain dari zaman dulu. Bukan hanya bersumber dari lampu sorot di atas panggung, cahaya pun tersebar di antara penonton.

Dengan lengan terangkat tinggi, mereka rela menahan pegal demi mengabadikan konser tersebut. Tampaknya, sekedar menikmati pertunjukan dirasa kurang cukup.

Sejalan dengan tren mengabadikan gambar ataupun video, berbagai telepon seluler pintar pun ditawarkan dengan kualitas kamera makin mumpuni.

Hasilnya bisa diprediksi, tak peduli sulitnya perekonomian saat ini, Indonesia masih dianggap sebagai pasar yang menggiurkan bagi perusahaan pembuat ponsel pintar.

Apabila Anda tergolong pengguna ponsel pintar yang demikian gemar mengambil foto atau video, mungkin ini saatnya untuk tidak hanya terjebak dalam konsumerisme.

Ponsel pintar canggih dan mahal yang Anda miliki saat ini sangat bisa menjadi modal awal untuk menghasilkan sumber penghasilan baru. Jadilah seorang pembuat konten!

Vice President Partnerships Makers Studio Gautam Talwar melihat pembuat konten (content creator) khususnya video merupakan profesi menjanjikan baru di abad ini.

"Pada 2017 nanti, video daring akan mencapai 69% dari total 'traffic' di internet," prediksinya saat berbicara dalam rangkaian acara Indosat ID Byte 2015 di @america, Pacific Place, Jakarta, Rabu (30/9).

Hal itu setidaknya sudah dibuktikan Makers Studios sendiri.

Per Januari 2015, mereka memiliki 55 ribu pembuat konten, dikunjungi sekitar 11 miliar orang tiap bulan, dan memiliki pelanggan 650 juta orang.

Sebanyak 70% penonton mereka lintas negara berusia 13-34 tahun, dan 60% di antaranya menonton lewat ponsel pintar.

Bila melihat segmentasi usianya, Talwar pun menyarankan kaum millennial berusia 13-34 tahun itu yang menjadi sasaran para pembuat konten baru.

Pasalnya, jumlah kalangan tersebut mencapai seperempat dari populasi dunia.

Mereka juga punya kecenderungan yang khas, di antaranya menonton video online tiga kali lipat lebih banyak, juga setiap harinya menggunakan media sosial dua kali lipat lebih sering ketimbang orang rata-rata.

Daya jual

Tidak hanya di luar negeri, tren pembuat konten video pun makin menjamur di Tanah Air.

Raditya Dika, Chandra Liow, Edho Zell, dan Skinny Indonesian 24 hanyalah segelintir pemuda yang meraih kesuksesan lewat Youtube.

Baik itu membuat parodi, prank, menunjukkan bakat bernyanyi atau bermain musik, membuat video tutorial, ataupun lainnya, semua konten itu bisa memiliki daya jual.

Chief Marketing Officer Kapanlagi Network Bernhard Soebiakto mengambil contoh, bisa saja ide datang dari membaca artikel sederhana di internet mengenai tipe-tipe jomlo.

Di tangan kreator konten yang kreatif, informasi itu bisa dikemas dalam video lucu di Youtube atau video berdurasi lebih singkat di Instagram.

Hal yang perlu diperhatikan saat ini, ada kecenderungan generasi millennial lebih suka menonton video berdurasi pendek ketimbang format tradisional yang lebih panjang.

Tidaklah mengherankan jika Instagram menyediakan fitur video berdurasi pendek, demikian pula Twitter dan media sosial lain.

Bahkan Youtube yang biasanya banyak dipenuhi bentuk video tradisional berdurasi panjang kini mulai berubah.

"Usahakan buat video kurang dari 10 menit, malah lebih singkat lebih baik," saran Talwar.

Itu bisa jadi tidak terlepas dari alat yang digunakan untuk menonton video. Hanya 19% memilih menonton lewat tablet, 54% lewat komputer, dan 81% menonton di televisi.

Terbanyak justru lewat ponsel pintar, sebanyak 98% generasi millennial.

Mereka merasa lebih terhubung dengan media digital ketimbang dengan konten televisi karena terbangun kepercayaan dan autentisitas.

Hasil penelitian menunjukkan, di antara lima orang paling berpengaruh di dunia saat ini, ada entertainer yang namanya melambung berkat video daring.

Maka tak mengherankan jika perusahaan komersial sekalipun mulai melirik para pembuat konten daring.

Toyota sebagai contoh.

Video iklan resmi mereka untuk All New Toyota AYGO 2014 tidak mendapat perhatian sebanyak iklan mobil itu yang dibuat oleh Rahat, seorang pembuat konten video 'prank' ternama.

Rahat mengemudikan mobil Toyota itu dengan balutan sarung jok tambahan sehingga terlihat seolah ada pengemudi tidak terlihat mengendarainya.

Wajar, orang-orang yang melihat pun terkejut dan ekspresi mereka tertangkap dalam kamera tersembunyi.

Video berjudul Invisible Driver Prank in Europe itu jauh melampaui iklan resmi yang dibuat perusahaan, baik dari segi jumlah penontonnya, jumlah jempol tanda suka yang didapatkan, komentar, ataupun berapa kali video itu disebar di media sosial.

Itu artinya peluang mendapat tawaran memproduksi video iklan di Youtube pun terbuka luas.

Nah, sudah siap memanfaatkan kemampuan kamera gawai Anda untuk bekerja dengan platform media sosial?

Sudah bukan saatnya lagi setia di kursi penonton bila Anda pun bisa ada di 'panggung' atau layar itu. (M-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya