Lulusan SMA-SMK Banyak Menganggur

Syarief Oebaidillah
08/10/2015 00:00
 Lulusan SMA-SMK Banyak Menganggur
(ANTARA/M Rusman)
TINGKAT pengangguran dari lulusan sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) di Indonesia amat merisaukan. Hingga kini, lulusan SMA dan SMK yang baru saja lulus tidak langsung mendapatkan pekerjaan.

"Tingkat pengangguran lulusan dari keduanya amat merisaukan, yakni mencapai 40%. Ini data 2012, yang tak jauh berbeda dengan saat ini," kata Konsultan Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) Totok Amin Soefijanto dalam sebuah diskusi di Jakarta, kemarin.

Yang agak berbeda, kata dia, angka pengangguran untuk kelompok murid perempuan lulusan SMK lebih rendah daripada kelompok murid perempuan lulusan SMA.

Namun, pendidikan SMK yang bertujuan melahirkan tenaga dengan tingkat keterampilan menengah agar bisa memenuhi permintaan pasar, kenyataannya belum mampu membekali murid dengan keterampilan umum yang membuat mereka mudah mendapat pekerjaan.

Lulusan SMK juga berpotensi terkendala meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, karena ujian masuk ke pendidikan politeknik sangat difokuskan pada keterampilan akademisi. Akibatnya, kebanyakan politeknik justru diisi lulusan SMA ketimbang lulusan SMK.

"Selain itu, tidak ada perbedaan nyata antara pendapatan lulusan SMA dan SMK. Pendapatan lulusan SMK akan tersendat dalam 7-8 tahun setelah lulus. Hanya saja, perempuan lulusan SMK yang belajar di bidang-bidang nonteknis justru cenderung mempunyai pendapatan lebih tinggi," jelas Totok.

Ia menilai perlu ada kesempatan bagi murid SMK, ter­utama dari keluarga termiskin, untuk bisa menempuh pendidikan ke jenjang lebih tinggi serta menciptakan jalur yang lebih fleksibel agar murid pada lintas pendidikan kejuruan bisa masuk jenjang pendidikan tinggi.

"Selanjutnya, pemerintah perlu menciptakan kombinasi lulusan SMA dan SMK yang berdasarkan permintaan pasar serta menggunakan sistem penjaminan mutu yang baik, dan mengatur pasokan tenaga kerja dengan fleksibel di bawah kerja sama publik-swasta."

Itu mengingat sedikitnya perbedaan lulusan SMA dan lulusan SMK dalam hal kualitas kerja, tanpa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

"Juga, harus ada kemudahan peralihan antara SMA dan SMK, sehingga ada peluang bagi lulusan SMK untuk memperoleh keterampilan yang relevan secara terus-menerus," tutupnya.

Tidak bersinergi
Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Sumarna F Abdurrahman mengatakan pengangguran di SMK terjadi karena ketidaksinergian antara keahlian lulusan SMK dan permintaan industri. Itu terlihat selama lima tahun terakhir, pengangguran terbanyak adalah pengangguran yang terdidik ketimbang tenaga terlatih. "Artinya, lulusan tidak sesuai dengan keinginan industri," jelas dia.

Menurut dia, perlu ada sinergi lembaga pendidikan dan industri, serta dilakukan sertifikasi. "Sehingga tiap tenaga kerja yang masuk industri punya kompetensi, terlebih akhir tahun ini masyarakat ekonomi ASEAN mulai berlaku." (Ant/H-2)

oebay@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya