Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA belum memiliki kajian tentang kerugian dan kerusakan (loss and damage) akibat perubahan iklim.
Padahal, kajian tersebut penting untuk menerapkan langkah komprehensif dalam menghadapi perubahan iklim, termasuk menghitung pendanaan dan merencanakan langkah adaptasi secara tepat.
Denia Syam, perwakilan dari Indonesia Climate Alliance (ICA), mengatakan sampai saat ini upaya Indonesia dalam menghadapi dampak perubahan iklim masih pada tataran rencana adaptasi.
Memang, kata dia, perubahan-perubahan yang terjadi di alam sebagai akibat dari naik-nya suhu permukaan bumi perlu diadaptasi negara rentan seperti Indonesia.
Indonesia sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dihadapkan pada risiko langsung ataupun turunan dari kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim.
"Meski demikian, risiko bencana akibat perubahan iklim, khusunya dari kenaikan permukaan air laut ini, tidak bisa sepenuhnya dikurangi hanya dengan adaptasi. Loss and damage juga harus dihitung dan disiapkan solusinya," ujar Denia di Jakarta, kemarin.
Ia menambahkan, kajian loss and damage merupakan kajian ilmiah mendalam dengan mempertimbangkan beberapa skenario kenaikan suhu. Setiap kenaikan suhu memerlukan penanganan berbeda.
"Indonesia harus dapat memanfaatkan kesepakatan dunia menyetujui kerangka kerja lima tahun untuk isu loss and damage di bawah Warsaw International Mechanism on Loss and Damage Asociated with Climate Change Impacts (WIM) pada Konferensi Pe-ngendalian Perubahan Iklim PBB (Conference of Parties/COP) ke-22 di Marakesh, Maroko."
Kesepakatan itu, lanjutnya, merupakan momen penting sebab sebelumnya loss and damage menjadi isu yang cenderung dikesam-pingkan, khususnya oleh negara-negara maju dengan kekhawatiran akan adanya komitmen-komitmen baru yang mengikat mereka.
Isu tersebut mendapatkan pengukuhan politisnya di bawah Paris Agreement di COP ke-21 tahun lalu.
Dikatakan Denia, jika kerangka kerja dan tinjuan berkala itu dapat dijalankan, Indonesia sebagai salah satu negara yang rentan terhadap perubahan iklim sebaiknya mulai memikirkan isu penting itu dan dapat memosisikan diri secara strategis.
Bencana hidrometeorologi
Perubahan iklim juga menjadi penyebab meningkatnya bencana hidrometeorologi.
Angka kejadian bencana dapat meningkat karena curah hujan diprediksi terus meningkat hingga akhir tahun.
Bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan puting beliung akan terus terjadi di berbagai wilayah.
Direktur Pengurangan Risiko Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana Lilik Kurniawan secara terpisah menyatakan tidak ada satu pun kabupaten/kota yang bebas dari ancaman bencana.
"Pada 2007, dana untuk merespons bencana tahun sebelumnya mencapai 10% dari APBN. Karenanya, penting bagi pemerintah kabupaten/kota untuk sadar dan merencanakan pembangunan agar risiko bencana di daerah dapat dikurangi," ujar dia.
Di level nasional, data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) 2013 menyebutkan bencana yang terjadi dalam rentang waktu 2004-2013 menyebabkan kerugian hingga mencapai Rp162,8 triliun.
(H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved