Cara Nyaman Deteksi Kanker Payudara

Fetry Wuryasti
07/10/2015 00:00
Cara Nyaman Deteksi Kanker Payudara
(DOK. SIEMENS)
Tak seperti mamografi, pemeriksaan dengan ABVS tidak menggunakan penekanan kuat pada payudara. Proses pemeriksaan pun jadi lebih nyaman. Pemeriksaan payudara sendiri (sadari) sangat dianjurkan dilakukan oleh kaum perempuan. Pemeriksaan dengan meraba payudara sendiri itu bermanfaat untuk mendeteksi benjolan yang mungkin merupakan jaringan tumor payudara. Selain pemeriksaan sederhana itu, ada pula jenis pemeriksaan radiologi yang secara medis memang ditujukan untuk mendiagnosis tumor payudara secara lebih pasti, yakni pemeriksaan ultrasonografi (USG), mamografi, dan magnetic resonance imaging (MRI).

Menurut dokter spesialis radiologi Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Grand Family, Jakarta, Herlina Uinami, setiap alat radiologi tersebut mempunyai kelebihan dan keterbatasan masing-masing. "Pada pemeriksaan dengan USG biasa (dua dimensi) misalnya, sering kali ditemukan false negatif atau kesalahan pada diagnosis apakah tumor tersebut jinak atau ganas dan sering menyebabkan diagnosis tidak tepat," ujarnya pada simposium medis bertajuk ABVS Metode Terkini Deteksi Dini Kanker Payudara di RS tersebut, Sabtu (3/10).

Sementara itu, pemeriksaan mamografi, lanjutnya, tidak cocok dilakukan pada payudara yang jaringannya masih padat, seperti pada wanita usia muda (kurang dari 35 tahun), sebab pemeriksaan mamografi dilakukan dengan penekanan jaringan payudara menggunakan perangkat mamografi untuk mendapatkan citra atau gambar dengan kualitas optimal demi memaksimalkan akurasi diagnosis. Prosedur itu menimbulkan rasa sakit.

"Ini alasannya mamografi menjadi momok bagi sebagian besar perempuan. Di lain hal, pemeriksaan MRI memerlukan biaya yang cukup mahal," sambungnya. Beruntung, kata Herlina, saat ini ada alat yang bisa mendeteksi tumor payudara terutama pada wanita dengan jaringan payudara yang padat. Pemeriksaannya relatif tanpa rasa sakit dan menggunakan modalitas USG sehingga aman bagi semua orang, termasuk ibu hamil. Alat itu disebut automated breast volume scanner (ABVS).

Alat yang baru mulai dipakai di Indonesia pada 2010 itu dapat merekam gambar jaringan payudara secara tiga dimensi. Data yang telah terekam dapat dianalisis (rekonstruksi) berulang-ulang. "Gambar 3D itu dapat dibuat potongannya lapis demi lapis, paling tipis 0,5 mm, sehingga tumor ukuran kecil sekalipun dapat terdeteksi.

"Tak hanya itu, lanjut Herlina, ABVS juga dilengkapi doppler system yang bermanfaat untuk membedakan tumor jinak dan ganas melalui indikator tingkat kepadatan jaringan dan aliran darah arteri tumor. "Pada umumnya, tumor ganas (kanker) mempunyai aliran darah yang banyak sebagai sarana memperbanyak suplai nutrisinya. Doppler system pada ABVS ini sangat berguna untuk memperoleh informasi tentang aktivitas aliran darah tumor.

" Dengan kelebihan-kelebihan itu, menurut Herlina, pemeriksaan dengan ABVS sangat cocok bagi wanita muda dan ibu hamil tanpa menimbulkan trauma sakit dengan biaya cukup terjangkau. "Waktu pemeriksaan rata-rata sekitar 7 menit untuk setiap payudara." "Bilamana dalam analisis ditemukan sesuatu yang mencurigakan, pasien akan dipanggil kembali untuk lakukan pemeriksaan lanjutan sebelum diputuskan harus dibiopsi (diambil contoh jaringannya) atau tidak," jelas Herlina.

Sadari
Pada kesempatan sama, dokter spesialis bedah umum RSIA Grand Family Ni Made Rika Trismayanti mengajak perempuan untuk rutin mempraktikkan sadari sebagai langkah awal mendeteksi tumor. "Kurangnya kesadaran, pendidikan, fasilitas kesehatan, dan keadaan sosial ekonomi membuat pasien malu memeriksakan kesehatan payudaranya. Padahal, pemeriksaan sendiri dengan sadari bisa dilakukan pada saat mandi, di depan cermin dengan mengangkat tangan pada bagian payudara yang akan diraba, dan pada saat tiduran dengan meraba dari bagian luar ke arah puting susu," paparnya.

Jika ada perubahan pada kulit payudara, jaringan lunak di dalamnya yang teraba seperti benjolan, perubahan pada puting susu, serta benjolan di ketiak, semua itu harus diwaspadai dan perlu diperiksakan lebih lanjut. Rika menambahkan ada beberapa faktor risiko terkena kanker payudara. Ada yang tidak bisa diubah, ada yang bisa dimodifikasi.

"Faktor risiko yang tidak bisa diubah yakni jenis kelamin perempuan, berusia di atas 40 tahun, dan memiliki garis keturunan ibu dengan penyakit serupa. Selanjutnya juga hormonal, yakni mengalami menstruasi pertama sebelum usia 12 tahun atau mengalami menopause terlambat, misalnya usia 60 tahun masih menstruasi. Ini akan meningkatkan faktor risiko terkena kanker payudara. "Adapun faktor risiko yang dapat dimodifikasi, yaitu gaya hidup. "Hindari obesitas, pola makan tidak sehat, konsumsi alkohol, serta paparan radiasi elektromagnetik," kata Rika. (H-3)   



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya