Kalangan masyarakat di kawasan hutan dan perkebunan perlu diedukasi bahwa kegiatan membakar lahan tidak akan menyuburkan tanah melainkan membuat unsur hara lenyap dengan mudah melalui aliran air dan udara. "Kebanyakan masyarakat dalam membakar lahan merasa akan membuat tanah lebih subur.Ini Memang benar karena mendapatkan unsur hara dengan cepat namun mesti diingat ini hanya terjadi pada tahun pertama saja, lalu tahun kedua dan seterusnya, semuanya lenyap," kata pakar lingkungan bidang tata kelola air dan hidrologi Universitas Sriwijaya,Palembang,Momon Sodik Imanudin,melalui rilis yang diterima pers,kemarin.
Menurutnya, saat dibakar unsur hara akan mudah hilang karena tidak ada kesempatan tersimpan di dalam tanah mengingat lahan yang terbakar rawan erosi. Kondisi ini berbeda jika pembersihan lahan tanpa dibakar atau ramah lingkungan. Humus dapat bersembunyi dalam tutupan tanah, semisal daun kering maka ada waktu untuk pembusukan.
Bila musim hujan tiba, semua unsur hara ini akan tersapu ke sungai, belum lagi jika menghitung biota penyubur tanah lainnya yang turut mati akibat dibakar seperti cacing tanah, jangkrik, dan tringgiling. Menurutnya, berdasarkan riset lembaga terkemuka, kerugian akibat kehilangan unsur hara mencapai nominal Rp65 juta per hektar.
Hal ini berakibat petani merasakan dampak secara bertahap pada masa mendatang dengan ditandai penurunan produksi lahan.jika terjadi pada perkebunan sawit maka buahnya tidak sebanyak yang dihasilkan lahan yang tidak dibakar, jika pada perkebunan ubi akan berkurang kesuburannya. Sedangkan untuk memulihkan lahan yang terbakar bukan hal mudah. Berdasarkan penelitian Momon di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, dibutuhkan waktu lima tahun dengan biaya Rp5 juta per hektare per tahun.
Ia mengingatkan jika pembakaran lahan berlangsung lama , tanah akan menjadi lapar dan terus menerus ingin makan karena unsur haranya berkurang. Tanah harus dipupuk. Terkait bencana asap di Sumsel, data terakhir mencatat sebanyak 9.300 hektare lahan terbakar dan 99 persen akibat ulah manusia.