Menkes Tekankan Gaya Hidup Sehat

Indriyani Astuti
15/11/2016 05:25
Menkes Tekankan Gaya Hidup Sehat
(ANTARA/Yudhi Mahatma)

MENTERI Kesehatan, Nila F Moeloek, mendorong masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat agar biaya kesehatan tidak menjadi beban yang signifikan bagi keuangan negara.

"Upaya mengurangi beban anggaran harus sejalan dengan perubahan paradigma, bahkan perilaku masyarakat untuk lebih berpandangan sehat dan menerapkan pola hidup sehat," kata Nila dalam acara peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-52 dengan tema Indonesia cinta sehat di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, kemarin.

Dengan belajar dari era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui kartu Indonesia sehat (KIS) yang dijalankan BPJS Kesehatan, anggaran banyak terserap untuk membiayai penyakit katastropik, yaitu jantung, gagal ginjal, kanker, dan stroke.

Fakta itu perlu ditindaklanjuti karena berpotensi membebani anggaran negara, atau membebani sekitar 74% anggaran BPJS Kesehatan.

Pentingnya perubahan pola hidup masyarakat ke arah yang lebih sehat mendasari program prioritas pembangunan kesehatan melalui program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga.

"Sebagai unit terkecil dari masyarakat, keluarga diharapkan menerapkan upaya kesehatan promotif dan preventif untuk menerapkan pola hidup sehat," kata Nila.

Program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga dilaksanakan secara bertahap dengan target seluruh puskesmas di Indonesia dapat melaksanakannya pada akhir 2019.

Pada 2018, Kemenkes berfokus pada sembilan provinsi prioritas, yaitu Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Pada kesempatan itu, Nila memperkenalkan logo baru Kemenkes.

Logo baru itu tanpa tulisan 'bakti husada'. Logo baru Kemenkes berbentuk palang dan hati yang didominasi warna hijau dan turquoise.

Perilaku hidup sehat

Pada peringatan HKN di Gedung Sate, Kota Bandung, kemarin, Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan mengatakan HKN menjadi momentum untuk mengampanyekan perilaku hidup sehat di masyarakat, terutama generasi muda.

"Kesehatan ini aset penting, apalagi di usia produktif."

Dia menilai, banyaknya generasi muda yang sehat akan berdampak terhadap kualitas pembangunan.

"Kalau tidak sehat, bagaimana bisa produktif?" tambahnya.

Lebih lanjut, Heryawan mengatakan, dalam mendukung langkah preventif itu, pihaknya telah melakukan sejumlah upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan.

Keberpihakan anggaran menjadi yang utama dengan memenuhi 10% APBD untuk bidang kesehatan.

Saat ini, jelas dia, alokasi untuk kesehatan mencapai lebih dari Rp3 triliun yang tersebar di sejumlah organisasi perangkat daerah.

"Itu tersebar di dinas lain, enggak hanya di dinas kesehatan. Seperti untuk sanitasi di Diskimrum, untuk olahraga di Disorda."

Pelaksana Tugas Kadis Kesehatan Jabar Ahmad Hadadi mengatakan jumlah warga Jabar yang menderita sakit fisik masih banyak.

"Indikatornya rumah sakit masih penuh."

Saat ini indeks kesehatan Jabar 70. Ini tidak jauh dari indeks rata-rata kesehatan nasional.

(BU/Ant/H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya