Wujudkan Dunia Penuh Toleransi

Putri Rosmalia Octaviyani
14/11/2016 07:59
Wujudkan Dunia Penuh Toleransi
(MI/Ramdani)

SELAIN perang, toleransi antarumat manusia ialah keniscayaan sejarah. Seiring berjalannya waktu toleransi bisa berubah menjadi permusuhan abadi dan perlu dicarikan jalan keluar bersama untuk mewujudkan tata kehidupan dunia yang lebih baik.

Demikian benang merah dalam diskusi bertema Toleransi di masa kini: belajar dari masa lalu, yang diselenggarakan oleh Institut Francais Indonesia (Institut Prancis di Indonesia/lFl) bekerja sama dengan Hadassah of Indonesia di Jakarta, kemarin (Minggu, 13/11), dalam rangka memperingati Hari Toleransi Sedunia.

Acara juga dimeriahkan dengan pergelaran Tolerance Film Festival pada 13-15 November yang dibuka oleh Nur Syam, Sekretaris Umum Kementerian Agama, Nur Syam.

Dalam sesi diskusi muncul pandangan bahwa toleransi antara umat muslim dan Yahudi bagi banyak orang di Indonesia ialah sesuatu yang baru. Namun, dalam sebuah riset bersama, dosen Fakultas Ushuluddin Jurusan Studi Agama-Agama UIN Syarif Hidayatullah, Ismatu Ropi, menyimpulkan bahwa buku-buku yang ditulis oleh sarjana muslim cenderung mempresepsikan agama dan orang Yahudi secara negatif dan didasarkan pada stereotipe.

Namun, hal itu terbantahkan oleh kajian sejarah yang dilakukan oleh Nur Munir, dosen Pascasarjana Kajian Timur Tengah Universitas Indonesia yang menyebutkan bahwa sesungguhnya sejarah telah menunjukkan fakta yang berbeda.

"Banyak sekali literatur dunia Islam dan Yahudi yang menceritakan kerja sama dan sumbangsih keilmuan dari kedua kelompok agama tersebut. Sejarah juga mencatat keduanya memiliki masa keemasan, bahwa toleransi terbentuk dengan baik, maka kita perlu belajar dari masa tersebut," ujar Nur Munir sebagai salah satu pembicara dalam diskusi itu.

Dia melanjutkan. kata 'hate' atau kebencian itu bisa datang dari komunitas mana saja, agama apa saja, dan di mana saja apabila disulut untuk benci. Dengan demikian, perdamaian juga datang dari komunitas mana saja, agama apa saja, dan di mana saja apabila mempromosikan perdamaian Dunia ini, ujarnya, ialah berdasarkan sejarah, dan sejarah berdasarkan manusia.

"Jika kita berbuat baik, dunia akan baik. Kita bisa membuat dunia ini perang, ya terserah kita. Maka marilah kita mengangkat nilai-nilai kemuliaan dan kebaikan dari agama masing-masing," tambah Nur Munir.

Kesadaran bersama
Gloria Truly Esterlita, peserta program doktoral Penologi di Prancis, mengapresiasi topik diskusi ini yang mengangkat isu kejahatan berbasis kebencian. Menurut dia, sangat penting adanya diseminasi pengetahuan soal isu tersebut agar ada kebangkitan kesadaran.

Ujaran kebencian (hate speech) memuat kebencian dalam pernyataan verbal baik melalui teks maupun oral yang menyerang seseorang atau suatu kelompok.

Menurut Truly dalam ujaran kebencian, ada proses interpelasi atau pemanggilan yang kerap dilakukan terhadap pihak yang diserang, Akibatnya, terjadi stigmatisasi buruk atau jahat.

Pada acara yang dikemas santai tersebut juga diputar film Dancing in Jaffa karya sutradara Hilla Medalia. Film tersebut mengangkat kisah maestro tari Pierre Dulaine yang membuka program dancing classroom di kota kelahirannya, Jaffa, kota yang terbelah dua antara penduduk Yahudi dan Palestina.

Isu identitas segregasi dan prasangka yang diramu dalam film dokumenter ini menggambarkan bagaimana dengan mengenal orang lain melalui tari dapat mentransformasi kebencian menjadi kasih sayang.(*/H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya