Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
USIA menjadi faktor utama penyebab penyakit stroke. Semakin lanjut usia seseorang, risiko penyakit stroke-nya semakin tinggi. Meskipun demikian, tren tersebut berubah seiring dengan pola hidup masyarakat yang juga berubah.
"Pada 2010 penderita stroke usia 40-50 tahun di Indonesia hanya 8,7% dari jumlah penderita stroke secara keseluruhan. Namun, di 2013, angka tersebut bertambah menjadi 12%. Angka kejadian pun bertambah menjadi dua kali lipat pada usia produktif," ucap dokter spesialis penyakit saraf Rumah Sakit Eka Hospital Bumi Serpong Damai, Audhy Tanasal, di Tangerang, Banten.
Menurut dia, konsumsi karbohidrat yang tinggi dan tidak diimbangi gerakan fisik membuat risiko penyumbatan pembuluh darah sebagai faktor penyebab stroke turut bertambah.
"Dulu kita banyak kegiatan komunitas yang banyak gerakan fisik, sekarang semua lebih mudah dengan gadget. Begitu pula dengan makanan. Kita lebih banyak makan junk food tanpa akses sayur-mayur," imbuhnya.
Kondisi Indonesia tersebut, lanjut Audhy, merupakan hal yang biasa ditemui di negara berkembang lain. Padahal, negara maju seperti Amerika Serikat justru sudah meninggalkan junk food dan kembali ke hidup natural. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika stroke justru lebih mengancam di negara berkembang.
Di Indonesia, stroke menjadi penyebab kematian nomor satu. Dengan demikian, pada Hari Stroke Dunia yang jatuh hari ini (29/10), Audhy menyatakan kesadaran masyarakat terhadap penyakit tersebut perlu ditingkatkan.
Dijelaskannya, waktu menjadi hal krusial pada saat penanganan stroke. Pada saat terjadi penyumbatan pembuluh darah sebagai faktor utama stroke, sebanyak 1,9 juta sel dalam otak rusak setiap menitnya. Akibatnya, sel otak di area tersebut rusak atau mati.
Kerusakan sel otak memberikan efek bermacam-macam, mulai kelumpuhan, gangguan berbicara, atau bahkan menyebabkan gangguan berpikir dan merasa.
"Oleh karena itu, diperlukan pengenalan dini dengan menggunakan metode FAST (face, arm, speech, time)," terang Audhy. Cara pertama ialah dengan melakukan tes pada wajah (face), lihat apakah ada ketidaksimetrisan pada wajah orang tersebut. Setelah itu, minta orang tersebut untuk mengangkat lengannya (arm), dan jika terjadi ketidaksimetrisan juga, yang harus dilakukan selanjutnya ialah mendengarkan orang tersebut saat berbicara (speech).
"Di sinilah yang meme-ngaruhi, kalau tiba-tiba dia juga cadel, segeralah bawa ke rumah sakit karena yang selanjutnya, waktu (time) sangat memengaruhi," tukas Audhy. (Ric/H-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved