Duet Ki Anom dan Ki Manteb yang Mengharukan...

Ono Sarwono
26/10/2016 10:38
Duet Ki Anom dan Ki Manteb yang Mengharukan...
(DOK. PEPADI PUSAT)

SEJARAH dunia pakeliran wayang kulit terukir. Dua dalang terhebat, Ki Anom Suroto dan Ki Manteb Soedharsono, tampil duet dalam satu panggung di Marakash Square, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (22/10) malam. Ribuan penikmat wayang pun semalam suntuk tidak beringsut dari tempat duduk mereka sejak awal hingga tancep kayon (selesai).

Dua dalang yang berusia 68 tahun (Ki Anom lahir di Klaten, 11 Agustus 1948, Ki Manteb lahir di Sukoharjo, 31 Agustus 1948) itu merupakan dalang maestro yang dimiliki negeri ini. Keduanya berpengalaman mendalang lebih dari 50 tahun dengan keistimewaan masing-masing.

Inilah yang menjadikan pergelaran malam itu begitu sempurna. Lakon yang mereka bawakan ialah Babat Wanamarta. Inti ceritanya mengisahkan perjuangan Pandawa (Puntadewa, Bratasena, Permadi, Tangsen, dan Pinten), putra mendiang Raja Astina Prabu Pandudewanata-Kunti/Madrim, mendirikan negara Indraprastha (Amarta) di wilayah belantara Wanamarta. Pesan moralnya ialah untuk mendapatkan kemuliaan harus melewati proses perjuangan yang tidak gampang.

Yang paling menarik dan penting sehingga pergelaran malam itu pantas dicatat ialah dua dalang besar itu 'rela' manggung dalam satu panggung. Mereka secara bergantian membawakan lakon itu dengan apik. Ini benar-benar mengharukan. Ketika Ki Anom manggung, Ki Manteb duduk bersama para niyaga. Begitu juga sebaliknya, saat Ki Manteb manggung, Ki Anom duduk bersama niyaga. Lalu, dalam setiap 'sif', keduanya berpelukan. Peristiwa ini belum pernah terjadi sepanjang mereka berkarier.

Selama ini mereka memang tidak pernah muncul bareng dalam satu pergelaran. Karena itu, muncul isu macam-macam, di antaranya keduanya diembuskan tidak akur. "Malam ini mengonter isu yang menyebut saya dengan Karangpandan (panggilan Ki Anom terhadap Ki Manteb) tidak akur," ujar Ki Anom. Karangpandan ialah tempat domilisi Ki Manteb.

Ki Manteb pun menegaskan dirinya dengan Ki Anom tidak memiliki sedikit pun masalah. Contoh keakraban mereka pun tersua dalam gending Pepeling ciptaan Ki Anom. Sebelum didendangkan, lagu itu diawali bawa (lagu vokal sebagai pendahulu gending) gubahan Ki Manteb.

Tidak mudah
Pertanyaannya, siapa gerangan yang mampu menduetkan mereka dalam satu panggung itu? Ia adalah sosok pecinta sekaligus pelestari budaya bernama Kondang Sutrisno, yang saat ini menjabat Ketua Umum Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Pusat. "Saya sudah lama menginginkan kedua dalang hebat ini main dalam satu panggung. Baru kesampaian malam ini," ujar Kondang kepada Media Indonesia yang ikut menyaksikan pentas bersejarah tersebut.

Sejatinya memang tidak mudah menduetkan kedua dalang ini dalam satu panggung. Selain memiliki jadwal pentas yang sama-sama padat, mereka bukan kaliber dalang yang bisa diatur-atur dengan alasan apa pun. Karena itu, ketika Ki Anom dan Ki Manteb bersedia pentas dalam satu panggung, Kondang menyambutnya dengan antusias. Ia sediakan semua perangkat pentas yang serbaterbaik. "Wayang yang digunakan malam ini koleksi saya yang terbaik," kata Kondang. Maka, jadilah pentas yang dikemas sebagai malam tirakatan bulan Muharam itu serba yang terbaik.

Konsekuensinya, meski sempat diguyur hujan, ribuan penggemar wayang tumplek bleg (tumpah ruah) di tempat tersebut malam itu termasuk penggemar fanatik kedua dalang yang tergabung dalam PSMS (Penggemar Sejati Manteb Soedharsono) Oye dan KAS FC (Ki Anom Suroto Fans Club) se-Jabodetabek, bahkan ada dari luar kota seperti Bandung.

Lalu, kapan kedua dalang yang pantas diteladani tersebut tampil bareng lagi? Menurut rencana, pada 7 November mendatang di Karanganyar, Jawa Tengah, dalam rangka peringatan pengakuan UNESCO terhadap wayang sebagai warisan budaya dunia. Kita tunggu.(H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya