Menembus Eropa dengan Kemauan

Abdillah M Marzuqi
23/10/2016 03:01
Menembus Eropa dengan Kemauan
()

KISAH ini berlatar dekade 60-an. Ketika itu, Indonesia tidak sedang baik-baik saja. Beberapa tahun sebelumnya, telah terjadi peristiwa besar yang menyebabkan banyak perubahan. Efeknya masih terasa meski kejadian telah lewat tiga tahun. Kondisi politik dan ekonomi belum sepenuhnya pulih.

Begitulah mula perjalanan Alijullah Hasan Jusuf. Kala itu, ia masih remaja yang duduk di STM Poncol Jakarta. Sekolahnya mendapati satu per satu guru secara giliran mangkir. Mereka harus mencari pekerjaan sambilan dengan mengajar di sekolah lain yang bergaji lebih tinggi. Alhasil intensitas pelajaran menurun.

Kondisi demikian membuat Ali semakin bertekad untuk merantau mencari ilmu di negara lain, yakni Eropa. Ali adalah seorang putra Aceh yang mempunyai hasrat besar untuk merantau ke luar negeri. Ia bertekad mencari pengalaman, belajar, dan mengeruk ilmu pengetahuan.

"Orang ini cuma 160 sentimeter tingginya, tetapi citanya-citanya lebih tinggi dari langit. Sejak kecil, Alijullah Hasan Jusuf adalah pemimpi sekaligus pekerja yang riang dan optimistis. Apa pun yang dikerjakan, dia impikan kelanjutannya hingga ke langit. Apa pun yang dia impikan, dia kerjakan," begitu yang tertulis dalam lembar luar buku.

Beberapa tahun sebelumnya, kala ia berusia 17 tahun, Alijullah cuma bermodalkan keyakinan yang naif: di mana ada kemauan yang baik, di situ ada jalan. Ia berangkat ke Eropa hanya dengan modal nekat, tanpa biaya, tanpa tiket, paspor, dan uang. Ali menyelinap ke dalam pesawat terbang sebagai penumpang gelap. Aneh, Ali berhasil mencapai sasarannya, yaitu tiba di Amsterdam, Belanda.

Namun, tanpa visa, Ali ditolak pemerintah Belanda, kemudian ditangani Kedutaan Besar RI dan dipulangkan kembali ke Tanah Air. Itulah yang digambarkan dalam buku pertama berjudul Penumpang Gelap: Menembus Eropa tanpa Uang.

Lalu berakhirkah kisak Ali? Kurang dari setahun pascakegagalan menyelundup ke Amsterdam, Belanda, dengan menjadi penumpang gelap pesawat Garuda Indonesia (buku pertama: Penumpang Gelap: Menembus Eropa tanpa Uang), Alijullah kembali mencoba mewujudkan mimpi. Kali ini tujuannya Paris atau London.

September 1968, Jakarta gempar. Kali ini bukan berita unjuk rasa, kasus pembunuhan, ataupun penembakan. Koran Dharma Bakti memuat judul Tanpa Uang Djeladjahi Eropa. Di dalamnya tertulis berita tentang seorang remaja yang berhasil menembus Eropa. Alijullah Hasan Jusuf berhasil untuk kedua kalinya. Ia berhasil menjejakkan kaki di Paris (hlm 175).

Menentang ketidakmungkinan

Kedua kalinya, Ali kembali mencoba menentang ketidakmungkinan. Ia menerobos pintu imigrasi dan pintu pesawat sampai berhasil duduk di kursi pesawat lagi. Tanpa tiket, paspor, apalagi visa. Ali selamat menyentuh tanah Prancis. Di Paris, dia bertahan diam satu tahun. Berhubung tidak memiliki paspor dan visa, dia tidak dapat dipertahankan Kedutaan Besar RI. Terpaksalah Ali pulang kembali ke Indonesia.

Cerita berakhir? Belum. Bukan Ali namanya jika membiarkan cita-citanya hilang melayang. Untuk ketiga kalinya, Ali naik pesawat, tetapi hebat, sebagai penumpang resmi. Tiket, paspor, dan visa dibayarnya dengan uang tabungan hasil kerja keras banting tulang siang malam. Ali berani menghadapi bahaya, risiko, dan bersemangat gigih demi mencapai sasaran cita-citanya.

Seorang remaja yang 48 tahun lalu dalam menggapai masa depan di tanah Eropa, tanpa uang, tanpa tiket pesawat, tanpa koneksi. Itulah terusan cerita dalam buku berjudul Paris Je Reviendrai "Aku Kan Kembali" (Penumpang Gelap Jilid 2).

Buku kedua ini menggambarkan Alijullah yang menumpang pesawat Qantas. Ia menyelinap dalam kabin sebagai penumpang gelap. Alijullah berlindung di tengah tubuh-tubuh raksasa pemain rugbi Prancis, mengumbar senyum pada laskar Komando Palestina, hingga menerobos gerbang imigrasi Bandara Le Bourget. Akhirnya, tanah Paris berhasil dia pijak.

Pendewasaan diri

Setahun sebagai warga gelap Paris, diisinya dengan harapan, kerja keras, kesedihan, lelah, waswas, juga kisah asmara. Namun, di Parislah akhirnya Alijullah memperoleh tambahan sifat tanpa harus menghilangkan semua cita-citanya: kedewasaan. Semua berakhir baik.

Kini, Alijullah menikmati masa tua sebagai pensiunan staf lokal KBRI Prancis di Paris.

Buku setebal 378 halaman ini diterbitkan Penerbit Kompas.

Lembar demi lembar buku ini akan membawa decak kagum bagaimana seorang anak manusia mampu melalui berbagai macam rintangan hanya dengan semangat dan keyakinan.

Kisah Alijullah dalam buku ini tidak hanya mengundang decak kagum, tetapi kadang juga prihatin. Ketika tergambar jelas dalam Bab 30 berjudul Bisnis Botol Kosong. Untuk menyambung hidup, Ali mengumpulkan botol kosong seusai pesta lalu menjualnya kembali (hlm 226).

Banyak senyum ketika membaca taktik Ali yang ala Abu Nawas. Bagaimana ia terpikir untuk menelepon Kedutaan Malaysia dengan asumsi tidak ada bukti sebagai orang Indonesia.

"Entah dari mana keluar ideku untuk menelepon Kedutaan Malaysia. Pikirku, kalau aku mau diterima ya syukur. Kalau tidak, mungkin aku bisa dikembalikan ke Kuala Lumpur karena tidak tak ada tanda-tanda aku dari Indonesia. Artinya, aku akan tetap di luar negeri." (hlm 133).

Menjadi penumpang gelap memang tidak layak ditiru, tetapi semangat dan tekad seorang Alijullah adalah sesuatu yang layak ditiru, bahkan wajib. (M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya