Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SISA ruangan dekat jendela pada bangunan vertikal menggugah pikiran tim peneliti Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Tim yang terdiri atas Mohammad Gopar, Ismadi, Kurnia Wiji Prasetiyo, Nanang Masruchin, Subyakto, Jayadi, Sudarmanto, dan Sasa Sofyan Munawar itu memiliki ide memanfaatkan ruangan tersebut untuk taman vertikal.
Tidak berhenti di situ, mereka juga ingin membuat wadah tanam yang ramah lingkungan.
Selama ini penggunaan media tanam vertikal masih memakai pot plastik.
Pot itu kemudian diganti dengan papan komposit berbahan sabut kelapa.
Para peneliti membuat papan dengan ukuran 116 x 49 x 4 sentimeter dengan rangka pinggir terbuat dari baja.
Tiap papan diberi 80 lubang dan tiap lubang tersebut memiliki wadah kompos.
Jika kompos telah dimasukkan, biji ataupun tanaman hanya perlu dimasukkan ke lubang tersebut.
Lubang juga berfungsi untuk mendukung tumbuhnya akar.
Di sisi lain, bahan komposit yang dapat ditembus air itu juga diberi bahan antirayap agar dapat tahan lama.
Mohammad Gopar menjelaskan papan juga dapat menggunakan bahan lainnya.
"Yang paling baik itu bahan papan kompositnya menggunakan akar pakis bisa tahan hingga tiga tahun. Karena tanaman tersebut dilindungi, kami beralih ke sabut kelapa, kan melimpah tuh, ketahanannya ini sudah satu tahun setengah masih tetap bagus," kata Mohammad Gopar saat dihubungi Media Indonesia seusai mengunjungi Pekan Inovasi Teknologi di Bogor, Sabtu (15/10).
Dengan bahan yang terbuat dari serat alam, umur papan memang tidak sepanjang pot plastik.
Namun, Gopar menjelaskan papan tersebut tidak lantas menjadi sampah karena dapat digunakan sebagai kompos untuk papan berikutnya.
Penggunaan kompos memang wajib pada media tanam itu karena jika tidak digunakan, sabut kelapa akan lebih cepat hancur.
Hal itu disebabkan pertumbuhan tanaman akan menggerogoti papan tersebut.
"Tidak akan menjadi sampah, justru bisa menjadi kompos untuk media tanam berikutnya. Nah kalau media tanam tidak diberi kompos, tanaman akan menggerogoti sabut kelapa. Cepat hancur," tukasnya.
Menggandeng industri
Proyek penelitian papan sabut kelapa yang sudah dimulai sejak 2011 itu baru saja berhasil menggandeng industri.
Namun, Gopar belum dapat memastikan kapan papan sabut kelapa itu akan tersedia di pasaran.
Berdasarkan pengalaman pribadi menggunakan papan tersebut di kediamannya, Gopar memastikan inovasi wadah sekaligus media tanam itu memberi hasil yang baik.
Di sisi lain, meski papan itu cukup menyerap air, penyiraman tetap harus sering dilakukan.
"Paling tidak, dalam satu hari tanaman harus tersiram air sebanyak tiga kali," tambah Gopar.
Rangka dari baja juga terbukti memudahkan papan tersebut untuk dirangkai secara vertikal.
Namun, Gopar menyarankan pemasangan vertikal dilakukan setelah tanaman berdaun.
Hal itu bertujuan untuk menjaga tanaman agar memiliki akar yang cukup kuat untuk hidup di bidang vertikal. (Wnd/M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved