Lembar Pelangi dari Indonesia Timur

Abdillah Marzuqi
16/10/2016 04:51
Lembar Pelangi dari Indonesia Timur
(Dok)

Lewat buku Lembar-Lembar Pelangi, Nila Tanzil berbagi kisah tentang keputusannya untuk meninggalkan karier di Ibu Kota untuk fokus mendirikan dan mengelola Taman Bacan Pelangi di Indonesia Timur.

Mereka yang tinggal di daerah perkotaan mungkin tak membayangkan bagaimana terbatasnya kondisi pendidikan di pelosok Indonesia. Lebih tak terbayang lagi, bagaimana bila ada orang kota yang terjun langsung ke pelosok negeri untuk membantu memperbaiki kondisi ini.

Buku Lembar-Lembar Pelangi menyajikan kedua hal tersebut. Buku karya Nila Tanzil ini seolah menjadi sebuah potret pendidikan di Indonesia Timur dengan beragam tantangan dan potensinya.

Lembar demi lembar buku menyajikan sekumpulan cerita berdasarkan pengalaman Nila Tanzil di daerah-daerah Indonesia bagian Timur ketika ia mendirikan dan mengembangkan Taman Bacaan Pelangi, sebuah jaringan perpustakaan anak-anak di kawasan Indonesia Timur.

Kisah nyata penulis itu bisa jadi menyenangkan, mengharukan, bahkan menyedihkan. Yang pasti buku ini penuh kejutan. Sebab di dalamnya tidak hanya bercerita soal cerita anak-anak di daerah terpencil dengan berbagai tantangan dan mimpi mereka. Terdapat pula membingkai soal budaya, ekonomi, kehidupan, lingkungan, dan adat masyarakat.

Nila Tanzil juga berbagi tantangan yang dia temui, mulai dilema saat memutuskan untuk mengikuti panggilan dan kata hati, meninggalkan karier di dunia korporasi untuk terjun langsung ke masyarakat di daerah pelosok di Indonesia Timur.

Buku yang terdiri atas 22 bagian ini tidak hanya berisi bingkai cerita yang inspiratif. Sebab beberapa bagian juga menceritakan kejujuran penulis tentang apa yang berkecamuk di internal dan kegalauan yang dialaminya.

Misalnya, bagian pertama buku ini bercerita tentang latar belakang penulis. Nila memiliki latar belakang pekerjaan di bidang komunikasi dan finansial. Ia bertutur sedikit tentang kehidupannya sebelum memutuskan untuk fokus pada dunia literasi. Lalu bagaimana ia tiba-tiba terpikir untuk mendirikan taman bacaan, padahal ia juga seorang wanita karier di dunia korporasi. Life is Full of Surprises (hal 3) menjawab pertanyaan itu.

Makna dan tujuan hidup

Pada bagian lain buku ini juga digambarkan proses penulis dalam menemukan makna dan tujuan dalam hidup, pahit dan manisnya pengalaman yang dialami. Juga keraguan yang muncul dari hati sebelum akhirnya melangkah mantap mengabdikan diri untuk berkarya di bidang sosial dan pendidikan dengan mendirikan perpustakaan-perpustakaan anak-anak di berbagai daerah pelosok Indonesia Timur. Semuanya tertuang di dalam buku ini, terlebih dalam bagian 18 yang berjudul Finding Meaning and Purpose (hal 192).

Tergambar jelas dalam buku ini cara masyarakat lokal begitu menghargai tamu meski mereka hidup dalam keterbatasan. Bahkan mereka merelakan ayam kesayangan milik cucu mereka dipotong untuk dihidangkan pada tamu di rumah mereka, atau bagaimana pandangan mereka tentang tata cara makan. Anak-anak biasa memakan makanan sisa orangtua. Sebab diyakini dalam makanan tersebut terkandung berkah (Cerita Si Anak Berambut Pirang, hal 37).

Bagaimana kehidupan di wilayah tersebut? Misalnya, masih sangat terbatasnya akses sanitasi di wilayah Indonesia Timur sehingga diistilahkan dengan 'mandi koboi' alias mandi dengan mandi seadanya dengan air seminimal mungkin (hal 51).

Membaca ceritanya Nila kita bisa tahu bahwa ekspansi mimpi bisa terjadi dengan buku. Cerita tentang anak-anak di Kampung Roe Flores yang hanya mengenal dua profesi dalam benak mereka, yakni guru dan pastor. Sebab di sana, mereka hanya bertemu dengan dua profesi itu, mereka tidak punya gambaran tentang profesi lain. Setelah dua tahun Taman Bacaan Pelangi menyapa desa mereka, anak-anak mulai tahu ada pekerjaan namanya pilot, penyelam, dokter, pemain bola, dan tentara. Mereka pun mulai bermimpi untuk cita-cita itu (hal 116).

Pengalaman ke berbagai daerah terpencil akan menyadarkan betapa besar potensi anak-anak di Indonesia Timur. Dengan mendapatkan akses yang lebih baik ke buku-buku anak berkualitas, mereka seperti mendapat jendela ke mimpi-mimpi mereka. Buku dapat menginspirasi anak-anak untuk berani bermimpi lebih besar dan mewujudkannya.

Kini, 39 perpustakaan Taman Bacaan Pelangi sudah didirikan dan tersebar di 15 pulau di Indonesia Timur. Buku Lembar-Lembar Pelangi dengan ketebalan 258 halaman ini diterbitkan oleh Penerbit Rak Buku. Uniknya, setiap satu pembelian buku ini seharga Rp65.000,- pihak penerbit berkomitmen untuk mendonasikan satu buku cerita anak untuk Taman Bacaan Pelangi.

Boleh jadi benar adanya. Data Perpustakaan Nasional Republik Indonesia 2015 menyatakan dari 170.647 sekolah dasar di Indonesia, hanya 45,9% yang memiliki perpustakaan. Artinya, masih terdapat 92.215 sekolah dasar tanpa perpustakaan, mayoritas di antaranya berlokasi di Indonesia Timur, seperti NTT, NTB, Sulawesi, Maluku, Ambon, dan Papua.

Selain itu, data Worid's Most Literate Nations, hasil riset yang dirilis John Miller, President of Central Connecticut State Universrty, Amerika Serikat, 2016, menyatakan peringkat minat baca Indonesia berada di urutan kedua terakhir dari 61 negara. Hal ini sejalan dengan data UNESCO pada 2012 yang menyebutkan indeks minat membaca Indonesia hanya 0,001%, artinya dari 1.000 orang hanya 1 orang yang gemar membaca.

Namun, setelah membaca buku ini, bolehlah muncul pertanyaan. Apakah itu juga berlaku di wilayah tempat Taman Bacaan Pelangi berada, sebab anak-anak di sana begitu antusias dengan buku. Melebihi apa pun. (M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya