Demi si Burung Surga

Sumaryanto Bronto
15/10/2016 06:13
Demi si Burung Surga
(MI/Sumaryanto)

CENDRAWASIH atau bird of paradise menjadi burung khas Papua.

Dari 43 spesies cendrawasih, 35 di antaranya bisa ditemukan di Papua.

Satwa yang memiliki bulu-bulu berwarna cerah itu tersebar di Indonesia bagian timur, terutama Papua, Ternate, Pulau Aru, dan pulau kecil di sekitarnya.

Burung unik ini dulu populasinya cukup banyak di hutan Papua. Sayangnya turun drastis karena diburu.

Di samping itu akibat pembalakan liar di Kabupaten Jayapura, habitat cendrawasih pun terancam.

Menurut World Wide Fund (WWF) for Nature Indonesia Program Papua dari sekitar 32.202 hektare (Ha) hutan di Distrik Nimbokrang, sekitar 7.750 Ha alih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit.

Padahal Distrik Nimbokrang terkenal sebagai kawasan untuk melihat cendrawasih.

Kecantikan dan merdunya kicauan burung itu menjadi salah satu alasan Alex Waisimon kembali ke tanah kelahirannya setelah keliling dunia sebagai anggota International Labor Organizations (ILO), menjadi chef di di Hamburg, Jerman, dan terakhir menetap di Bali selama tujuh tahun bersama istri dan empat anaknya sejak 2007.

"Saya pergi ke mana-mana, tapi tak pernah menemukan tempat seindah tempat kelahiran saya. Bangun pagi sudah ada suara burung. Pagi-pagi burung memuji Yang Kuasa dengan suara indahnya. Saya tak bisa menemukan sungai yang jernih di negeri orang lain," tuturnya mengungkapkan alasan kembali ke Papua tahun 2014.

Selama delapan bulan di Papua, Alex dapat mengenali berbagai jenis burung dan suaranya.

Alex mempelajari sifat-sifat cendrawasih, terutama cenderawasih mati-kawat (Twelve wired bird of paradise) dan cenderawasih kuning-kecil (Lesser bird of paradise).

Di hutan itu, Alex membangun gubuk pemantau yang menyatu dengan alam.

Sehingga para pecinta burung dapat mengamati tanpa menanggu aktivitas burung-burung itu.

Tidak hanya dari dalam negeri, kebanyakan pengamat burung yang datang dari luar negeri, bahkan fotografer profesional dari National Geographic dan BBC pun meminta bantuan Alex.

Biasanya mereka yang datang menghubungi Alex melalui pesan singkat.

"Menikmati burung-burung surga memang ada waktu khususnya. Sebagai contoh, Twelve wired bird of paradise hanya terlihat sampai sekitar pukul 06.30 WIT. Beberapa burung hanya ada di pagi hari sampai pukul 09.00 dan ada juga yang tampak di sore hari. Waktu paling menyenangkan untuk melihat burung ialah setelah hujan. Meski medannya jadi relatif lebih berat, pengamatan akan sepadan dengan perjuangannya. Burung-burung surga itu paling senang menari dan bermain bersama di antara pucuk-pucuk daun tertinggi," ujar Alex.

Hutan wisata adat

Tak sakadar mengembangkan potensi ekowisata bird watching, Alex juga berjuang melestarikan alam sekitar.

Kawasan yang tengah dikembangkan Alex ialah Isyo Hiil's yang dimiliki 1 marga, yakni Waisimon.

Adapun luas wilayah yang disepakati untuk pengelolaan Hutan Wisata Adat seluas 11 ribu Ha.

Pengelolaan itu dinilai sangat perlu. Apalagi ancaman terbesar hilangnya sumber daya hutan dan kekayaan flora dan fauna endemik yang masih tersisa di hutan adat Tabo Kutumai adalah sebagian wilayah yang sudah dilepaskan untuk investasi sawit dan konversi lahan.

Tak heran bila Alex berjuang mengajak masyarakat mempertahankan dan menjaga hutan agar tidak dialihfungsikan.

Salah satunya dengan mengembangkan potensi ekowisata melalui kegiatan bird watching yang bisa memberikan nilai ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan burung-burung cendrawasih dan alamnya.

Dalam 1,5 tahun saja sudah terlihat hasilnya. Awalnya pengunjung hanya bisa melihat 1-2 ekor burung.

Sekarang sedikitnya sudah bisa melihat 5-6 ekor dan volume suara burung juga meningkat drastis.

Tidak hanya itu, Alex juga menyiapkan lokasi-lokasi yang akan dibuat bangunan sederhana untuk 'sekolah alam' yang mempelajari tentang kekayaan flora dan fauna di Papua dan untuk beristirahat setelah pengamatan.

Bangunan sederhana tersebut nantinya akan menyatu dengan alam, sehingga tidak ada listrik ataupun struktur modern.

Tentunya dilengkapi sajian makanan lokal Papua yang sudah pasti organik.

Tak hanya peduli dengan kelestarian alam, Pak Alex yang merupakan pembinaan dari WWF juga sangat peduli dengan kehidupan warga sekitarnya, Ia membina masyarakat agar dapat menjadi pemandu wisata.

Alex berharap muara dari semua kegiatannya tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan warga.

(M-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya