Bioremediasi untuk Selamatkan Pesisir

Siti Retno WUlandari
15/10/2016 06:01
Bioremediasi untuk Selamatkan Pesisir
(ANTARA: IDHAD ZAKARIA)

DI sebuah tempat di Pantai Cilacap, Jawa Tengah, terpasang demplot berukuran 50 x 50 x 170 sentimeter.

Pada demplot pasir itu, peneliti Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) Yeti Darmayati menumpahkan minyak sebagai cemaran.

Tepatnya diberikan 100 ribu ppm minyak ke pasir bervolume 36 ribu sentimeter kubik.

Percobaan itu dilakukan untuk mengetahui pembersihan cemaran minyak dengan teknik bioremediasi.

Sesuai dengan asal katanya, bioremediasi ialah penggunaan unsur biologis (mikroba) untuk menyelesaikan atau menghilangkan senyawa yang tidak diinginkan dari alam.

Penelitian di pesisir itu dipilih agar mendapatkan kondisi sealami mungkin, yakni adanya paparan air laut, sinar matahari, hingga hujan.

"Bakteri pendegradasi minyak itu meningkat ketika minyak mencemari perairan, tetapi ada angka aman polutan yang masih bisa dikendalikan bakteri, saat cemaran minyak tidak lebih dari 150 ribu ppm di suatu kawasan laut," ujar Yeti berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya di dekat kilang minyak di wilayah Indramayu, Pulau Pari, serta yang terakhir di Teluk Jakarta, Senin (10/10).

Dalam penelitiannya di Cilacap, Yeti menggunakan bakteri Alcanivorax sp sebanyak 20 liter dengan kepadatan 10 pangkat 8 mililiter.

Ia juga menambahkan nutrien 7.500 mg nitrogen per kilogram sedimen.

Nutrien bisa berasal dari pupuk, tetapi Yeti menekankan pupuk lokal justru lebih ampuh jika dibandingkan dengan pupuk impor. Keduanya pernah ia coba sewaktu penelitian.

"Caranya untuk menyuburkan bakteri itu bisa diberi tambahan bakteri pemakan minyak atau beri nutrien supaya proses membelah diri bakteri semakin cepat. Nah dari hasil penelitian, baiknya ya dikombinasi, meningkatnya hingga 8%," ungkap Yeti.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, dalam penelitian di Cilacap tersebut, bakteri mengalami pertumbuhan pesat pada hari 3-23.

Bakteri bekerja mendekomposisikan hidrokarbon minyak bumi menjadi senyawa yang lebih sederhana dan tidak berbahaya bagi lingkungan.

Proses dekomposisi atau pembersihan cemaran minyak bumi itu selesai dalam waktu 141.

Pengganti bahan kimia

Teknik bioremediasi untuk mengatasi cemaran minyak memang bukan hal baru.

Sejarah mencatat penelitian bioremediasi sudah dimulai sejak era 40-an dan sudah digunakan di Amerika Serikat sejak era 80-an.

Meski begitu, hingga kini penggunaannya belum bisa sepenuhnya menggeser bahan kimia seperti dalam tragedi kebocoran minyak di Teluk Meksiko pada April 2010.

Kejadian yang juga disebut tragedi Deepwater Horizon itu membuat minyak mengalir selama 87 hari atau diperkirakan mencapai sekitar 4,9 juta barel.

Untuk mengatasi tumpahan minyak yang meluas di Delta Sungai Mississipi itu digunakan bahan kimia.

Bahan itu disemprotkan menggunakan pesawat ke area tumpahan minyak.

Bahan kimia itu kemudian bekerja sebagai pendispersi atau pemecah molekul minyak menjadi molekul yang lebih kecil dan kemudian membawanya tenggelam ke badan air yang lebih dalam.

Teknik dispersi dengan bahan kimia itu umumnya memberi hasil dalam waktu cepat.

Namun, sebenarnya cara ini tidak benar-benar membersihkan cemaran minyak.

Maka dampak buruk lingkungan tetap bisa terjadi pada berbagai biota laut termasuk ikan hingga karang.

Yeti mengungkapkan pihaknya sedang membuat inovasi agar bakteri alamiah dapat digunakan sebagai pendispersi.

Inovasi itu penting mengingat Indonesia juga rentan akan tragedi tumpahan minyak.

Indonesia merupakan salah satu negara dari lima jalur utama transportasi laut dan memiliki banyak sumur minyak.

Minyak yang tumpah akibat hilir mudik kapal akan mengalir hingga kawasan pesisir.

Karena itu, pesisir menjadi lingkungan paling terdampak akibat cemaran minyak.

Sementara itu, di AS, para peneliti terus mengembangkan teknik bioremediasi dengan tetap memperhatikan keseimbangan keragaman bakteri yang ada di lingkungan tersebut.

"Penting untuk menjaga komunitas bakteri yang sehat dan beragam, dan kita harus berhati-hati memastikan respons kita terhadap cemaran minyak tidak mengganggu respons yang terjadi secara alamiah, pun dengan keberlangsungan lingkungan sekitar," jelas ahli mikrobiologi dari University of Texas, Brett Baker, seperti dilansir Sciencedaily.com.

Baker yang bekerja dengan peneliti pascasarjana, Nina Dombrowski, menjelaskan komunitas bakteri sebenarnya sudah hadir di lokasi tumpahan minyak dan dapat berlimpah jumlahnya sehingga menurunkan senyawa minyak yang ada.

Ada dua senyawa dalam minyak yaitu alkana yang cenderung mudah dipecah dan hidrokarbon aromatik, yang sulit untuk disingkirkan.

Bakteri dapat diandalkan untuk memecah dua senyawa itu. (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya