Dunia Maya Miskin Pesan Damai

Richaldo Y. Hariandja
13/10/2016 09:42
Dunia Maya Miskin Pesan Damai
()

PENGAMAT data digital Irendra Radjawali menyatakan dunia maya miskin ujaran perdamaian. Menurutnya, saat ini bahasa teduh berada dalam posisi minor dan dikalahkan dan didominasinya ucapan-ucapan radikal.

Ungkapan tersebut disampaikannya setelah melakukan penelusuran percakapan di dunia maya (web scrapping). Dirinya menggunakan 300 kata kunci terkait radikalisme seperti ISIS, khalifah, jihad, kafir, dan Syria.

"Sebenarnya ada lebih dari 100 ribu kata yang menjadi dasar radikalisme. Tetapi, saya pakai 300 kata yang sering muncul ini untuk mencari polanya," ucap Irendra dalam konferensi pers Kompetisi Video Pendek Karena Kita Indonesia di Kantor Tempo, Jakarta, kemarin (Rabu, 12/10).

Menurutnya, kata-kata tersebut saling berkaitan dan menghasilkan temuan jika kelompok radikal agresif menggunakan kanal media sosial dalam menyebarkan paham radikal.

Selain itu, banjir kata-kata radikal juga dipengaruhi adanya penggunaan sistem robot anonim yang yang otomatis menyebarkan pesan-pesan radikal secara masif.

"Tapi yang perlu diingat, kata-kata yang sering muncul bukan berarti dia yang menjadi sumber penyebar kebencian. Ada kata-kata yang menjadi <>trigger (pemicu) pesan-pesan kebencian tersebut," terang pengamat data dari lulusan Universitas Bremen, Jerman, tersebut.

Oleh karena itu, dirinya menyatakan tengah mencari sumber maupun pihak radikal yang menyebarkan pesan tersebut ke dunia maya menggunakan piranti lunak yang sanggup membaca dan menyaring algoritma di internet.

Akan tetapi, sebelum hasil kajiannya dibuka, dirinya meminta agar pemerintah maupun pemuka agama mengimbangi upaya penyebaran radikalisme dengan memperbanyak pesa-pesan damai di internet.

Menanggapi hal tersebut, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Imam Pituduh menyatakan diperlukan upaya serupa. Menurutnya, hanya sedikit lembaga maupun perseorangan yang menebarkan pesan deradikalisme.

"Tapi itu pun sifatnya masih manual, makanya kita harus masifkan pesan-pesan damai untuk mendegredasi konten negatif," papar Imam.

Menurut Imam, hal tersebut merupakan pekerjaan rumah bagi seluruh masyarakat Indonesia, bukan hanya pemeluk agama tertentu.

Ubah paradigma
Sementara itu, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Gomar Gultom dalam kesempatan yang sama meminta masyarakat, terutama generasi muda mengubah perilaku yang berkembang saat ini. Menurutnya, kebiasaan masyarakat dalam menyebarkan konten di internet harus diimbangi dengan pesan deradikalisme.

"Kita punya smartphone dan kebanyakan kalau yang kita post hal tidak penting seperti makanan dan lokasi kita. Mana pesan perdamaiannya?" ucap dia.

Sementara, lanjut dia, pesan radikal mengalir secara masif dan bekerja secara otomatis. Hal itu diperparah dengan kebiasaan generasi muda yang cenderung meninggalkan agama <>mainstream akibat era digital.

"Oleh karena itu kita harus lakukan perubahan untuk membuat Indonesia yang akomodatif terhadap perbedaan," tutup dia.(H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya