Pilihan Fesyen tidak Terbatas

Putri Rosmalia
03/10/2016 07:23
Pilihan Fesyen tidak Terbatas
(ANTARA/Widodo S. Jusuf)

SAAT ini batik sudah tidak lagi dianggap sebagai pilihan fesyen yang kuno dan selalu formal.

Seiring dengan perkembangan dunia fesyen, batik mulai dapat diterima semua kalangan.

Tidak hanya digunakan sebagai busana acara-acara resmi, penggunaan batik sebagai busana bahkan kini tak lagi berbatas.

"Saat ini para pemuda sudah mulai antusias dengan desain-desain batik modern sebab pada dasarnya masyarakat, terutama kalangan pemuda, mau menggunakan batik, tetapi tidak mau terkesan kuno. Inilah yang membuat kami desainer batik harus terus berkarya," ungkap desainer batik Amanda Hartanto selepas acara peragaan busana Oemah Etnik dan Amanda Hartanto Batik, di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Jakarta, kemarin.

Amanda menyampaikan saat ini kesadaran terhadap pelestarian seni dan budaya sudah semakin besar terjadi di masyarakat.

Semakin banyak pemuda yang menyelipkan berbagai sentuhan tradisional dalam busana keseharian mereka, termasuk batik.

Meskipun belum menyeluruh, telah tampak rasa optimisme yang tinggi atas kemajuan perkembangan dan pelestarian batik di berbagai penjuru Tanah Air.

"Saya ingin sampai pada akhirnya nanti semua orang di Indonesia bisa mengatakan dan bersikap, yakni mereka menyatakan bangga memakai batik," ungkap Amanda.

Akan tetapi, ia menyadari saat ini salah satu masalah yang dianggapnya masih terjadi di masyarakat ialah kesadaran untuk memilih batik asli atau yang dibuat melalui proses cap atau tulis.

Penerimaan masyarakat terhadap batik saat ini belum sepenuhnya diimbangi dengan pengetahuan atas filosofi dan makna batik yang utuh.

Banyak kalangan hanya menggunakan pakaian dengan motif batik yang berasal dari cetakan pabrik tekstil.

"Umumnya orang-orang yang belum mulai mau untuk memilih batik cap atau tulis sebagai andalan belum mengetahui secara utuh apa itu batik. Apa filosofi dari setiap lembar kain batik. Harus dipahami, batik itu bukan sekadar motif, melainkan sebuah teknik yang menggabungkan berbagai nilai hidup seperti profesionalisme, kesabaran, serta nilai keindahan budaya," tutur Amanda.

Menurut Amanda, harga batik cap dan tulis yang relatif lebih tinggi umumnya menjadi penyebab utama keengganan seseorang dalam membeli batik asli.

Namun, terlepas dari hal tersebut, kemajuan dalam tren penggunaan batik di Nusantara tetap merupakan hal positif yang harus diapresiasi dan dipelihara.

"Saya dalam berkarya juga selalu sekaligus mengedukasi pelanggan dan orang-orang yang saya temui tentang filosofi batik tersebut. Batik itu merupakan kain bermotif yang dibuat menggunakan teknik tulis dan cap, tingkat kesulitan yang membuatnya menjadi terkesan mahal. Itu yang biasa saya sampaikan," tutur Amanda.

Merek internasional

Senada dengan Amanda, perancang batik dari merek Oemah Etnik, Rizki Triana, menyampaikan tren batik semakin membaik seiring dengan perkembangan waktu.

Saat ini, menurut dia, tidak hanya para perajin lokal di daerah yang menyisipkan batik dalam pilihan karyanya, tetapi juga mulai banyak merek pakaian modern yang menyelipkan unsur batik dalam produk mereka.

"Kita bisa lihat tidak hanya merek lokal, tetapi juga mulai banyak merek internasional yang juga menggunakan batik. Tidak hanya berhenti pada pakaian, tetapi juga digunakan pada berbagai jenis pendukung fesyen seperti sepatu, tas, dan topi," ungkap Rizki, pada kesempatan yang sama.

Kendati demikian, ia mengakui sebagai perancang batik kerap kali menghadapi berbagai tantangan. Itu termasuk dukungan dari berbagai pihak yang kadang tidak hadir atas pilihannya menekuni batik.

"Memang untuk memulai dan menjalani ini tidak selalu lancar dan ada dukungan. Namun, sekarang bisa dilihat, dengan terus berkarya, pada akhirnya orang-orang bisa menerima dan ikut senang karena mereka juga jadi memiliki banyak pilihan dalam busana batik yang selama ini tidak ada," ungkap Rizki.

Rizki pun menyadari di masa yang akan datang, popularitas batik mungkin akan kembali mengalami masa pasang naik dan surut.

Itu sebabnya, menurut dia, kreativitas menjadi hal utama yang harus dipertahankan demi terus lestari dan membudayanya hobi dan kebanggaan masyarakat Indonesia menggunakan batik.

Seiring dengan waktu, ia juga berharap, masyarakat kelak dapat sejalan dengan semakin menyatu serta diserapnya setiap filosofi dan makna teladan salah satu kekayaan Indonesia yang telah diakui dunia tersebut.

(S-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya