Membiasakan Warga Memilah dari Awal

Putri Anisa Yulisani/J-4
03/10/2016 05:23
Membiasakan Warga Memilah dari Awal
(ANTARA/Yusran Uccang)

JUMAT menjadi hari penting bagi warga yang berada di sekitar Bumi Pesanggrahan Mas (BPM) di RW 08 Kelurahan Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Mulai pukul 08.00 WIB, satu per satu warga yang menjadi nasabah Akademi Kompos akan mengantarkan sampah mereka ke tempat bank sampah tersebut.

Pendiri sekaligus pengelola Akademi Kompos, Artomo, menjelaskan pihaknya bisa mendapat pasokan 2 ton sampah setiap bulan.

Sampah-sampah itu diterima setiap Jumat yang menjadi Hari Bank Daur Ulang Sampah (BDUS).

Artinya, ada 2 ton sampah yang alih-alih diangkut ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, justru dikelola bahkan dijual lewat Akademi Kompos.

Bersama timnya, Artomo mengajak warga membiasakan diri memilah sampah rumah tangga menjadi sampah organik dan anorganik.

Sampah anorganik akan dijual ke mitra yang selama ini sudah bekerja sama dengan Akademi Kompos.

Sementara itu, sampah organik dikelola dan dielaborasikan dengan urban farming, konsep berkebun di kawasan perkotaan dengan memanfaatkan lahan-lahan menganggur.

"Kami melatih warga untuk membiasakan diri memilah sampah rumah tangga menjadi sampah organik dan sampah anorganik," kata Artomo, beberapa waktu lalu.

Sampah-sampah setoran warga diolah menjadi pupuk padat dan pupuk cair, yang kemudian dipasarkan ke sejumlah lokasi.

Mengelola sampah pun berbonus keuntungan.

Hasil penjualan sampah anorganik dan pupuk itu kemudian dibagi kepada warga yang menjadi nasabah dengan cara bagi hasil.

Artomo menjelaskan saat ini telah memiliki 600 nasabah yang terdiri atas 348 nasabah rumah tangga dan 27 nasabah kolektif dari kelompok sekolah, dengan 15 orang per kelompoknya.

Namun, sayangnya, pengelolaan sampah masih terkendala dana.

"Proses daur ulang itu bukan hanya meningkatkan nilai sampah tadi. Kami juga harus mencari pasar untuk memasarkan produk. Sementara ini karena terkendala itu, ya, kami belum bisa maksimal," tuturnya.

Pendanaan yang kurang ikut berimbas pada minimnya peminjaman alat daur ulang di bank sampah.

"Alat seret, dana sosialisasi dari dinas kebersihan juga makin minim. Jadi untuk kegiatan pun kami serbasulit sekarang," kata Artomo.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya