Pertanian Modern untuk Kedaulatan Pangan

Andhika Prasetyo
30/9/2016 08:40
Pertanian Modern untuk Kedaulatan Pangan
(ANTARA/WAHDI SEPTIAWAN)

SELAMA ini kemajuan teknologi kerap lebih dikaitkan dengan alat-alat komunikasi. Padahal, kenyataannya, perkembangan teknologi yang makin lama semakin canggih juga terjadi dan bahkan jadi penentu kesuksesan pada sektor pertanian. Makin unggul teknologi yang digunakan, semakin baik jumlah dan kualitas produksi pertanian yang dihasilkan.

Itu pulalah yang kini tengah dikejar pemerintah. Kementerian Pertanian (Kementan) menekankan pertanian modern sebagai solusi utama untuk mencapai swasembada pangan. Berbagai upaya dengan mengedepankan pada penggunaan teknologi terus dilakukan.

Kementan menyebutkan pertanian modern harus dilandasi tiga fondasi utama yang melingkupi peningkatan efisiensi, peningkatan produktivitas, dan pengembangan luas tanam.

Yang pertama, peningkatan efisiensi dilakukan dengan cara mekanisasi pertanian. Berdasarkan data Kementan, pada tahun ini ada 100 ribu alat mesin pertanian, seperti rice transplanter, combine harvester, dan pompa air, yang sebagian besar mengadaptasi teknologi terbaru dibagikan kepada masyarakat.

"Combine harvester, misalnya, sebuah mesin yang menggabungkan tiga fungsi sekaligus, yakni pemotongan, perontokan, dan pembersihan. Petani yang memakai alat ini tak buang banyak waktu untuk memanen hasil produksi. Dalam 1 jam, combine harvester dapat memanen 1 hektare sawah," ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta, kemarin.

Kecanggihan teknologi juga dapat diandalkan dalam menyiasati perubahan iklim sehingga produktivitas tetap terjaga kendati kondisi iklim tidak menentu.

Terkait dengan hal itu, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Publik Kementan, Agung Hendriadi, mengungkapkan berbagai varietas unggul yang tahan pada berbagai kondisi cuaca diciptakan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementan.

Berbagai varietas baru padi itu, misalnya, telah digunakan seperti jenis padi hibrida yang bersifat amfibi atau tahan genangan dan kekeringan serta toleran terhadap hama dan penyakit. Beberapa di antaranya ialah Inpari 38, Inpari 39, Limboto, Batulegi, dan Towuti.

Sementara itu, dari sisi pengembangan luas tanam, ia menjelaskan pemerintah memakai metode kalender tanam (katam) terpadu. Katam terpadu dipakai sebagai sistem informasi untuk mengantisipasi variabilitas iklim.

Dengan paket inovasi teknologi itu, petani dapat menyesuaikan waktu dan pola tanam, teknologi budi daya yang tepat, dan penerapan varietas unggul adaptif yang tahan terhadap kekeringan dan genangan.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir senada dengan upaya pemerintah. Menurutnya, penerapan pertanian modern bisa membuat produksi lebih baik dan efisien.

"Misalnya, petani menggunakan benih atau bibit hasil pengembangan bioteknologi serta biaya produksi atau tenaga kerja akan jauh lebih murah," pungkas dia.

Berbasis riset
Bukan hanya Kementan yang mencari solusi swasembada pangan, melainkan juga Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). LIPI turut memprioritaskan pengembangan riset yang berbasis pada ketahanan pangan.

Sebagai contoh, kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dan Subang, Jawa Barat, yang terkenal sebagai sentra industri umbi-umbian. LIPI membantu kedua daerah itu untuk memilih komoditas hingga proses pengolahan yang menggunakan teknologi tepat guna.

"Yang menjalankan masyarakatnya, LIPI hanya bantu dari segi teknologi dan pembinaan," ungkap Kepala Pusat Pengembangan Teknologi Tepat Guna LIPI, Yoyon Ahmudiarto, kemarin (Kamis, 29/9).

Di masa depan, Yoyon berharap ada dukungan yang kuat dari pemerintah daerah terkait dengan pengembangan riset aplikatif pada bidang pangan. Jika terjalin baik, kerja sama itu bisa meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. "Dengan demikian, Indonesia bisa jadi negara yang mandiri dengan terciptanya swasembada pangan," tutupnya.(Mut/S-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya