KEKERINGAN tampaknya masih akan lama mendera. El Nino yang sudah berlangsung sejak Juni diperkirakan akan terus menguat menuju akhir tahun.
"Dari model (iklim) yang kita gunakan mengatakan bahwa (El Nino) akan berlangsung moderat hingga kuat dan terus menanjak menuju akhir tahun. Sekarang ini pun (temperatur) sudah lebih hangat daripada 2002. Jadi tahun ini jelas akan signifikan," kata Dr DE Harrison, ahli fisika laut dari Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA), Rabu (26/8) waktu AS.
El Nino merupakan gangguan iklim global akibat kenaikan temperatur muka air laut di bagian tengah dan timur Pasifik. Gangguan ini biasa terjadi tiap 2 hingga 7 tahun.
Di Pusat Studi Perikanan Barat Laut NOAA di Seattle, AS, Harrison memprediksi itu berdasarkan pengamatan data Darwin Sea Level Pressure (SLP) dan Southern Oscillation Index (SOI).
Pada 2002, kenaikan temperatur tertinggi di kawasan Pasifik mencapai 1,54 derajat celsius SST (sea-surface temperature). Ketika ditanyakan mengenai kemungkinan kenaikan SST hingga menyamai atau bahkan melebihi El Nino 1997, Harrison tidak menutup kemungkinan. Meski begitu, pria yang juga aktif di organisasi World Climate Research Program itu mengakui jika prediksi El Nino merupakan hal yang sulit.
Dalam catatan iklim global sejak 1950, El Nino pada 1997 merupakan yang terkuat. Kenaikan temperatur saat itu mencapai 2,3 derajat celsius.
El Nino yang menguat menjadi alarm bagi negara di seluruh dunia karena menyebabkan anomali cuaca seperti kekeringan ataupun hujan lebat. Tidak hanya di Indonesia, kekeringan juga terjadi hingga Australia. Adapun, di Amerika Selatan, banjir mengancam Argentina, Uruguay, hingga selatan Brasil.
Harrison dan para sejawatnya juga berusaha menjawab pertanyaan besar tentang keÂterkaitan perubahan kondisi Bumi dengan intensitas El Nino. Namun, hingga kini para ilmuwan tidak punya jawaban pasti karena banyaknya variaÂbilitas dalam tiap dekade.
Hal itu pula yang menurut Harrison membuat tidak adanya tren jangka panjang untuk El Nino. Padahal, tren ini yang giat dicari oleh panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) PBB. Hujan, tetapi kering Di tempat terpisah, Kepala Ilmuwan Perubahan Global dari Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) Virginia Burkett menilai berbagai perubahan alam global terjadi berkaitan dan dipengaruhi perubahan temperatur Bumi.
Beberapa perubahan kondisi global yang ia soroti ialah kenaikan muka air laut dan tingginya curah hujan. KeÂnaikan muka air laut bukan hanya memperpendek garis pantai, melainkan juga mengancam ekosistem pesisir.
Di beberapa tempat telah diÂtemukan mangrove yang mati karena tidak adaptif terhadap salinitas tinggi. Untuk menghilangkan efek intrusi air laut butuh waktu yang lama dan hujan yang lebat.
Burkett mengungkapkan ironi akan parahnya kekeringan yang berbanding lurus dengan intensitas hujan.
"Di masa depan hujan akan lebih kuat, tetapi kekeringan yang terjadi juga akan lebih parah. Memang kami juga suÂsah menjelaskan ini kepada anggota kongres, tapi memang itu terjadi karena jarak antarhujan makin jauh," tuturnya di Washington DC.
Hujan deras, namun terjadi dalam waktu singkat membuat air tidak sempat terserap dengan baik ke tanah. Air akan mengalir ke pembuangan atau ke sungai-sungai dan akhir-nya ke laut. Dengan begitu cadangan air tanah tidak banyak terisi. (H-1)