INDUSTRI rokok dituding masih mengincar remaja dan anak-anak untuk dijadikan sebagai perokok pemula. Hal itu terlihat dari masih maraknya iklan produk rokok yang diletakkan di sekitar lingkungan sekolah.
"Berbagai bentuk iklan dikemas menarik untuk menjaring siswa sekolah menjadi perokok baru," sebut Santi Indra Astuti, anggota Tim Monitoring Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA), di Makassar, kemarin.
Maraknya iklan rokok, khususnya di media luar ruang yang diletakkan sekolah, lanjut Santi, tergambar dari hasil riset bersama yang dilakukan YPMA, Lentera Anak Indonesia (LAI), dan Smoke Free Agent (SFA) sepanjang Maret hingga April 2015. Riset dilakukan di 360 sekolah, mulai tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga SMA, di lima kota, yaitu Jakarta, Bandung, Makassar, Mataram, dan Padang.
Dari total sekolah yang disurvei, iklan rokok, khususnya yang berbentuk billboard, ditemukan di 32% sekolah. Iklan terbanyak ada di Kota Makassar, disusul Mataram, Bandung, dan Jakarta.
Sementara itu, iklan dan promosi rokok di tempat penjualan ditemukan di 85% warung, toko, dan minimarket dekat sekolah.
Santi menambahkan, iklan rokok yang berada di sekitar sekolah terletak begitu dekat sehingga dapat dengan mudah dibaca anak-anak dari dalam lingkungan sekolah. Iklan di tempat penjualan pun mudah diakses anak sekolah lantaran mereka biasa berkumpul di wilayah tersebut. Menarik anak Pada kesempatan serupa, psikolog dan dosen Universitas Negeri Makassar, Asniar Khumas, mengatakan pesan dari iklan yang dibuat terbukti ampuh menjaring anak-anak sebagai perokok.
"Hampir 70% perokok pemula mengaku menjadi perokok karena gambaran keren dari iklan yang ditampilkan," imbuh dia.
Menurut dia, industri rokok secara terus-menerus telah memasukkan pesan-pesan positif melalui iklan tersebut sehingga tanpa disadari persepsi rokok merupakan hal keren dan gaul telah tertanam di dalam alam bawah anak-anak dan remaja.
Senada dengan Asniar, Santi menambahkan bahwa iklan rokok berkontribusi atas tingginya jumlah perokok muda di Indonesia. Dia menyebutkan, sekitar 30% anak usia di bawah usia 10 tahun di Indonesia sudah pernah mencicipi rokok.
Setiap tahun terdapat 3,9 juta anak muda Indonesia yang direkrut sebagai perokok pengganti.
"Artinya setiap hari terdapat 10.869 anak terbujuk merokok dan 20,3% anak sekolah menjadi perokok aktif," tambah dia.
Saat menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulsel Salam Soba mengatakan pihaknya akan mengeluarkan surat edaran kepada pengelola sekolah sebagai bentuk penguatan dan penegasan dari SK Gubernur yang sudah ada tentang Larangan Merokok di lingkungan sekolah, termasuk membendung iklan rokok di sekitar sekolah. (Ant/H-4)