KETERLAMBATAN pencairan dana riset dari pemerintah membuat kinerja para peneliti di bidang vaksin tidak maksimal. Dalam setahun, waktu yang bisa mereka gunakan untuk penelitian secara efektif hanya tiga bulan.
"Tantangan yang belum terpecahkan sampai saat ini ialah masalah pendanaan. Dana banyak, tapi tidak fokus dan keluarnya baru Mei. Padahal, waktu riset itu semestinya dari Januari hingga Desember," ujar Direktur Utama PT Bio Farma, Iskandar, dalam pembukaan Forum Riset Vaksin Nasional (FRVN) 2015 di Jakarta, kemarin (Rabu, 26/8/2015). Forum komunikasi para peneliti vaksin dan produk biologi itu merupakan acara tahunan yang diinisiasi Bio Farma.
Iskandar menjelaskan sebagian besar peneliti vaksin berada di lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Mereka mengandalkan dana dari pemerintah, terutama dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), serta Kementerian Kesehatan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). Sayangnya, pencairan dana itu kerap terlambat.
"Pencairan dana yang terlambat menyebabkan waktu efektif yang tersedia untuk meneliti hanya sekitar tiga bulan. Padahal, penelitian produk-produk biologi, termasuk vaksin, perlu penelitian panjang dan intens."
Jangan heran, lanjut Iskandar, meski sudah hampir lima tahun FRVN berjalan, belum ada hasil penelitian yang siap diproduksi massal.
"Para periset tidak bisa maksimal kalau hanya punya waktu kerja tiga bulan. Belum lagi mereka (yang kebanyakan juga berprofesi sebagai dosen) diganggu dengan kegiatan pengabdian masyarakat, harus mengajar, menguji, dan sebagainya," imbuh Iskandar.
Karena itu, pihaknya selaku produsen vaksin berencana 'meminjam' periset, terutama yang berasal dari kampus, selama tiga tahun agar mereka bisa memfokuskan diri hanya pada kegiatan riset.
Selama riset berjalan, mereka dibebastugaskan dari kewajiban lain. Dengan begitu, ia berharap pada tiga tahun mendatang sudah ada vaksin baru atau produk biologi lain yang siap diproduksi. "Tapi, rencana itu tentu harus dibicarakan dulu," katanya.
Sistem top down Pada kesempatan sama, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek Dikti Muhammad Dimyati mengungkapkan pihaknya tahun ini mulai menerapkan penyaringan proposal penelitian melalui sistem top down.
Artinya, pemerintah menjadi pihak yang menginstruksikan penelitian bidang tertentu kepada akademisi sehingga kontinuitas penelitian terjamin setidaknya selama 3-4 tahun.
Terdapat tiga penelitian bidang industri yang diprioritaskan, yakni penelitian tentang radar, konverter bahan bakar gas untuk kapal nelayan, dan mesin mobil riset unggulan strategis nasional (rusnas). "Anggaran kita untuk riset mencapai Rp800 miliar."
Sementara itu, Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengungkapkan pihaknya menyediakan Rp10 miliar untuk keperluan riset melalui Balitbangkes. Ia berharap penelitian vaksin bisa dipercepat agar dapat menghasilkan produk. "Vaksin itu penting. Kalau tidak ada perlindungan dari vaksin, penyakit akan bertebaran." (H-3)