Pengungsi Salat di Zona Merah

Puji Santoso
13/9/2016 05:41
Pengungsi Salat di Zona Merah
(ANTARA/Septianda Perdana)

RATUSAN kaum muslim warga Desa Kuta Rakyat, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, nekat melaksanakan salat Idul Adha 1437 Hijriah di kampung halaman mereka, yang merupakan zona merah Gunung Sinabung.

Mereka sengaja melaksanakan salat Idul Adha di zona bahaya dengan alasan rindu berkumpul bersama keluarga di kampung halaman.

Sejak Gunung Sinabung erupsi dua tahun lalu, warga di sekitar lereng gunung mengungsi di Kabanjahe hingga sekarang.

Menurut Saleh Sembiring, warga Desa Kuta Rakyat, selain faktor ekonomi, warga setempat memilih melaksanakan salat Idul Adha di kampung halaman, karena keterbatasan fasilitas ibadah di tempat pengungsian.

"Kami rindu suasana kampung kami. Kami rindu kebersamaan melaksanakan Lebaran Haji, berkumpul bersama keluarga," ujar Saleh Sembiring, kemarin.

Seusai salat Id, warga desa menyembelih dua sapi dan tiga kambing.

Mereka berharap pemerintah daerah dan pusat segera memberi kejelasan mengenai nasib mereka di pengungsian.

"Kami minta pemerintah segera mempercepat pembangunan rumah relokasi mandiri, agar kami dapat kembali membangun kehidupan secara normal," harapnya.

Masih dalam perayaan Idul Adha, di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, diselenggarakan upacara arak-arakan Manten Sapi.

Arak-arakan hewan kurban itu diselenggarakan warga Desa Sebalong, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, kemarin.

Dalam arak-arakan itu, terdapat tiga sapi dan delapan kambing yang siap disembelih sebagai hewan kurban.

Hewan-hewan kurban itu dirias dan disandingkan dengan beras, bumbu dapur, hingga kayu bakar, kemudian diarak keliling desa.

Sebelum diarak, hewan-hewan ternak itu dimandikan dan dirias pemiliknya yang akan berkurban.

Sapi maupun kambing dikalungi untaian bunga, sedangkan di punggung dan bagian perut sapi ditutupi kain bersih.

"Ini tradisi yang sudah berumur ratusan tahun di tempat kami. Tujuannya, syiar Islam dan memotivasi warga untuk bisa terus bersedekah," kata Muhammad Yasin, tokoh masyarakat setempat.

Cacing hati

Di Temanggung, Jawa Tengah, dan Kota Yogyakarta, ditemukan sapi untuk hewan kurban mengidap penyakit cacing hati.

"Di Temanggung ada empat sapi yang mengidap penyakit cacing hati, dua di antaranya masih dalam tahap penyembuhan," kata Nurul Hasanah, Kasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan, Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Temanggung.

Sementara itu, di Yogyakarta, dari 22 titik penyembelihan hewan kurban, ditemukan sapi mengidap gejala awal cacing hati di Kecamatan Kraton.

Namun, petugas menyatakan hewan tersebut tetap layak dikonsumsi.

Di Tasikmalaya, Jawa Barat, pemerintah daerah setempat membentuk tim pemeriksaan hewan kurban yang disembelih.

Pemeriksaan difokuskan pada hati dan paru-paru karena sering ditemukan cacing.

"Kami membentuk tiga tim pemeriksa hewan kurban yang disebar di 69 kelurahan di 10 kecamatan Kota Tasikmalaya," ujar Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesmavet, Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Tasikmalaya Nina Karniada.

(AB/TS/AT/AD/AU/N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya