6000 Visa Haji Segera Tuntas

MI/PUTRI ROSMALIA OCTAVIYANI
24/8/2015 00:00
6000 Visa Haji Segera Tuntas
(ANTARA/SEPTIANDA PERDANA)
SEKRETARIS Jenderal Kementerian Agama Nur Syam mengatakan sempitnya waktu antara pelunasan pembayaran ibadah haji dan keberangkatan menjadi salah satu faktor utama terhambatnya penyelesaian visa jemaah. Waktu terakhir pembayaran, yakni 10 Agustus 2015 dengan keberangkatan kloter pertama jemaah pada 21 Agustus yang lalu membuat banyaknya visa yang belum selesai proses pembuatannya.

''Untuk membuat visa ini kan butuh waktu. Nah, waktu yang kurang dari dua minggu sebelum berangkat kemarin sangat mepet, jadi banyak jemaah yang tertahan di embarkasi,'' ujar Nur Syam kepada Media Indonesia, kemarin.

Dijelaskan Nur Syam, saat ini terdapat sedikitnya 6.000 visa jemaah yang hingga saat ini belum terselesaikan. Terhambatnya penyelesaian visa tesebut terjadi karena berbagai masalah, yang umumnya terkait masalah teknis dan kelengkapan data. Sistem baru e-hajj yang diterapkan Arab Saudi untuk melakukan pendataan secara elektronik juga menjadi salah satu hambatan.

''E-hajj masih jadi hambatan besar juga. Masih sering terjadi kekeliruan atau kesalahan ketika meng-input data menggunakan sistem ini,'' terang Nur.

Selain itu, adanya data susulan dari kuota tambahan di beberapa daerah juga membuat penyetoran data semakin terlambat. Namun, dikatakan Nur Syam, ditergetkan dalam kurun waktu dua sampai tiga hari ke depan, permasalahan visa bagi calon jemaah sudah dapat diselesaikan.

Dirjen Haji dan Umrah Kemenag Abdul Jamil mengatakan penyelesaian calon jemaah yang belum memiliki visa sedang dan terus dilakukan. Pembaruan sistem data elektronik memang menjadi kendala utama. Namun, selain hal itu, pelaksanaan haji tahun ini dikatakannya lebih terkelola dan efisien. ''Tahun ini separuh dari total 71 kloter langsung mendarat di Madinah bukan Jedah. Lebih dekat ke pemondokan. Mereka jadi bisa lebih hemat tenaga dan lebih efisien waktu yang digunakan,'' ujar Abdul.

Tertukar

Jemaah haji Indonesia yang belum berangkat diimbau untuk memeriksa kelengkapan dokumen, terutama kesesuaian paspor dan visa, sebelum mereka berangkat. ''Kalau bisa, ketika sampai di embarkasi dan mendapat paspor, jemaah segera mengecek dokumennya. Sesuai atau tidak,'' kata Kepala Daerah Kerja (Daker) Mekah, Panitia Penyelenggara Haji Indonesia (PPHI) Arsyad Hidayat, seusai apel pagi di Mekah, Arab Saudi, kemarin.

Hal itu dikemukakannya menyusul kejadian tertukarnya empat paspor dan visa jemaah di  Makassar, Sulsel. ''Kalau tidak (sesuai), segera dilaporkan untuk diteruskan ke Jakarta agar dilakukan perubahan,'' ujar Arsyad.

Ia mengatakan kasus tertukarnya dokumen jemaah terjadi dan bisa diatasi dengan cepat. Dokumen yang tertukar langsung dikirim ke Jakarta dan ditunggu penyelesaiannya di kedutaan.

Setelah selesai, kata dia, dokumen langsung dibawa kembali ke Makassar. Setelah sampai, diserahkan ke jemaah haji dan langsung take off atau tinggal landas. ''Dokumen itu sangat penting. Pesan kami, dokumen itu harus dijaga dan diperiksa betul sebelum berangkat,'' ujarnya.

Indonesia tahun ini mendapatkan kuota 168 ribu jemaah haji dari Arab Saudi. Kloter pertama jemaah haji sudah diberangkatkan pada 21 Agustus lalu, sedangkan kloter terakhir dijadwalkan berangkat 17 September mendatang. (Ant/X-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya