Pernikahan Beda Agama

Iwan J Kurniawan/M-1
23/8/2015 00:00
Pernikahan Beda Agama
()
MANTRA gayatri mulai terdengar.

Ada damai di hati Max dan Indira.

Kisah percintaan mereka menyimpan mimpi-mimpi yang terbawa pada satu ikatan batin.

Penuh lika-liku dan rahasia Ilahi.

Lewat novel terbarunya, Di Bawah Langit yang Sama, Helga Rif menghadirkan kisah sederhana.

Novelis yang kini tinggal di Denpasar, Bali, itu menyajikan kisah-kisah tentang dunia perempuan yang penuh gejolak.

Novel ini menyajikan pembukaan yang relatif datar, terutama tentang persoalan tokoh utama saat berada di Singapura.

Tokoh 'aku' sebagai penutur merupakan cara Helga untuk memulai kisah dalam karya fiksinya ini.

Keputusan 'aku' melanjutkan kuliah dan bekerja di 'Negeri Singa' membuat tokoh utama ini menemukan pujaan hatinya.

Helga cenderung menyajikan novel ini dengan cara realis, gaya yang juga ciri khasnya.

Dalam sebanyak 13 bab novel ini tema cinta dikupas tuntas.

Helga sebagai pribadi mungkin mudah jatuh cinta.

Dia tanpa sadar telah menumpahkan segala pikirannya lewat novel setebal 266 halaman ini.

Jalur ceritanya mengalir dan mudah ditebak dari bab ke bab lainnya.

Alur bersifat linear juga menjadi cara Helga. Namun, ia juga menyimpan kejutan yang kuat.

Percintaan antara tokoh utama (Indira) dan Max merupakan hubungan beda kultural.

Maklum, Max seorang bule.

Hal itu bisa kita temukan pada beberapa kalimat penting, terutama saat Max menelepon Indira (hlm 114).

"How are you darling?" ucap Max di ujung telepon.

Pembaca diajak untuk memahami jalannya cerita tentang Max yang berwibawa.

Pencampuradukan bahasa mencirikan Helga tak memedulikan petilan-petilan bahasa asing yang ia bubuhi.

Itu menjadi gaya khas penulisannya. Novel ini memang sangat nge-pop.

Kasta dan agama

Terlepas dari pembukaan novel yang datar, pembaca bisa menemukan alur yang kuat.

Itu terjadi saat Indira menemui Max yang sedang santai duduk di bawah pohon.

Di sinilah persoalan utama yang menjadi keraguan selama ini mampu Indira ungkapkan.

Dia menuturkan kepada Max perbedaan budaya mereka. Apalagi, Indira sangat menjaga adat dan agama.

Persoalan tingkat kasta yang masih kuat di tengah-tengah masyarakat membuat semuanya harus diutarakan Indira secara jelas (hlm 154).

Benang merah konflik pada novel ini tertuang lewat status dan agama. Max merupakan penganut Nasrani sejati, sedangkan Indira merupakan pengikut Hindu yang taat pula.

Keluarga masing-masing sempat menentang agar mereka tidak pindah agama gara-gara cinta.

Di Bawah Langit yang Sama novel keenam Helga.

Novelis tersebut menyuguhkan persoalan-persoalan yang terjadi di lingkungan sehari-harinya di Bali.

Pertama kali ia mengeluarkan novel Gara-Gara Irana Jadi Arini pada 1997.

Sayang, judul novel Helga itu masih kurang memprovokasi pembaca sastra.

Belum ada letupan keras dan konflik yang kuat.

Meski demikian, Helga berani menulis.

Ia konsisten menyajikan isi kepalanya lewat karya fiksi terbaru ini.

----------------------------------------

Judul: Di Bawah Langit yang Sama
Penulis Helga Rif
Penerbit: Gagas Media,Jakarta,2015
ISBN: 979 780 811 4
Genre: Fiksi



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya