SEJAK 1990-an, para ilmuwan menduga rona alam semesta mulai memudar.
Temuan ilmiah baru menegaskan gejala itu dan menandakan semesta tengah sekarat.
Melalui bukti teranyar, para ahli astronomi mengatakan keluaran energi dari total 200 ribu lebih galaksi ternyata hanya setengah dari kondisi pada 2 miliar tahun lalu.
Alam semesta diyakini tengah sekarat secara perlahan.
"Kondisi semesta mengalami kemunduran. Lalu perlahan menuju hari tua," kata Simon Driver, astronom di University of Western Australia sekaligus pemimpin proyek riset The Galaxy and Mass Assembly (GAMA).
Melalui riset yang dipresentasikan di pertemuan International Astronomical Union di Hawaii pekan lalu, peneliti menyatakan penurunan energi yang dihasilkan terlihat di seluruh panjang gelombang (wavelength).
Peneliti melakukan survei multi-wavelength, meliputi sinar ultraviolet dan inframerah.
Pengamatan memanfaatkan teleskop angkasa luar dan teleskop darat di bumi.
Menurut peneliti, berkurangnya energi yang dihasilkan sangat mungkin terjadi.
"Matinya bintang-bintang seperti padamnya api. Tersisa bara lalu perlahan cahayanya akan padam," ujar Joe Liske, anggota tim GAMA.
Akan tetapi, kematian perlahan itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Butuh miliaran tahun lagi untuk menunggu sinar terakhir semesta padam.