Sayuran dari Antariksa

Heru Prasetyo
22/8/2015 00:00
Sayuran dari Antariksa
(DOK NASA)
TIGA astronaut yang kini berada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), yaitu Scott Kelly, Kjell Lindgren, dan Kimiya Yui, menjadi manusia pertama yang memakan sayuran yang ditumbuhkan di antariksa.

Senin (10/8), para astronaut menyiarkan lewat webcast bagaimana mereka memakan selada merah dengan saus minyak dan cuka, layaknya memakan salad.

"Ini adalah gigitan pertama manusia, satu lompatan besar bagi #NASAVEGIE and #JourneytoMars kita. #YearsinSpace," demikian cicit Kelly seusai menggigit selada merah.

Astronaut di ISS telah lama bereksperimen bertani di antariksa menggunakan modul pertanian bernama Vegetable Production System (Veggie).

Tahap awal tanaman yang dibudidayakan ialah selada.

Sayuran hasil pertanian di luar angkasa akhirnya dinyatakan bisa dimakan setelah sejumlah riset keamanan dilakukan.

Bagaimana rasa sayuran hasil pertanian di antariksa?

"Rasanya seperti arugula," kata Kelly.

Adapun, Lingren mengatakan, "Segar!"

Sebelum memakan, kru ISS memetik sayuran dan menaruhnya di antara tisu dengan asam sitrat terlebih dahulu.

Tujuannya untuk sterilisasi.

Keberhasilan menumbuhkan sayuran di luar angkasa sebagai bahan makanan memang lompatan besar.

Itu akan mendukung misi manusia mengarungi luar angkasa.

"Jika kita akan ke Mars suatu hari, dan kita pasti ke sana. Kita akan memiliki pesawat luar angkasa yang lebih berkelanjutan dalam suplai makanannya," kata Kelly.

Melalui akun Twitter dan Instagram, NASA mengumumkan, proyek ambisius itu dimulai sejak 8 Mei 2014.

Pada dasarnya, upaya NASA bercocok tanam itu murni untuk kepentingan riset, memantau bahan makanan apa yang bisa diproduksi langsung di antariksa dan memastikan astronaut bisa makan sayuran organik nan segar.

Untuk kebutuhan sumber cahaya dalam bercocok tanam, NASA menggunakan lampu LED berwarna merah, hijau, dan biru.

Adapun, sumber CO2 dan air berasal dari astronaut, dari embusan napas, serta limbah cair.

Untuk pengaturan suhu dan faktor lain, NASA menggunakan fasilitas yang telah ada di kabin ISS.

Ketika siap panen, sayuran yang ditumbuhkan di stasiun luar angkasa akan dikirim ke Bumi dan dibandingkan dengan sayuran yang tumbuh di Bumi.

Perbandingannya meliputi keamanan, rasa, dan yang pasti nutrisinya.

"Veggie akan memberi sumber baru bagi astronaut dan peneliti seiring upaya kita untuk menumbuhkan makanan segar dan pohon besar di ISS," ujar Gioia Massa, ilmuwan NASA yang terlibat proyek ini.

Gioia Massa, ilmwuan NASA di Kennedy Space Centre, Florida, mengatakan jika seseorang bisa mendapatkan kondisi lingkungan yang baik, tidak akan ada alasan mengapa tanaman tidak akan tumbuh di luar angkasa.

"Sayur itu nantinya akan dimasukkan ke rumah kaca portabel yang dibawa dari bumi. Sedangkan untuk sumber karbon dioksida dan air berasal dari astronaut yang dikeluarkan dari limbah kotoran," tuturnya.

"Adapun untuk mengontrol suhu, NASA menggunakan fasilitas yang telah ada di kabin ISS."

Uji coba kelayakan
Sementara itu, Profesor Ian Crawford, dari University of London, mengatakan kemampuan tanaman tumbuh di luar angkasa menjadi semakin penting dalam konteks riset di masa depan, dan menguji kelayakan permukiman manusia masa depan di Bulan dan Mars.

Program percobaan pengembangan tanaman (Mars Plant Experiment/MPX) akan diluncurkan pertengahan 2020 dan dan diperkirakan mendarat di 'Planet Merah' awal 2021.

"Ini akan menjadi langkah pertama. Kita hanya mengirim bibit ke sana dan melihatnya tumbuh," kata wakil peneliti utama MPX Heather Smith dari Ames Research Center di Mountain View, California.

Dalam percobaan itu, NASA akan membawa udara dan sekitar 200 bibit tanaman berbunga kecil dari bumi ke Mars.

Rencananya MPX akan menggunakan kotak bening yang disebut Cube Sat--kotak untuk satelit kecil dan murah--yang akan ditempelkan ke bagian luar kendaraan robotik.

Kotak ini akan menahan udara Bumi dan sekitar 200 bibit Arabidopsis, tanaman berbunga kecil yang biasanya digunakan dalam penelitian ilmiah.

Bibit-bibit itu akan mendapatkan air ketika kendaraan jelajah mendarat di Mars, dan akan dibiarkan tumbuh selama sekitar dua pekan.

"Dalam 15 hari, kami akan punya rumah kaca kecil di Mars," kata Smith.

Ia menambahkan, MPX akan menyediakan pengujian pengembangan dan pertumbuhan organisme di lingkungan Mars, menunjukkan bagaimana kehidupan Bumi beradaptasi dengan Planet Merah yang radiasinya relatif tinggi dan gravitasinya rendah.

"Kami akan memulai dari eksperimen sederhana ke rumah kaca di Mars. Itu akan menjadi tujuannya, ini juga akan menjadi organisme multiseluler pertama yang tumbuh, hidup dan mati di planet lain," katanya. (Nasa/The Guardian/Universe Today/ant/space.com/L-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya