KEMUDAHAN meng-klik tautan (link) di internet memang amat menggoda.
Tidak hanya mengakses berbagai informasi, dengan satu kali klik saja kita bisa dengan mudah menyebarkan informasi tersebut kepada jutaan orang lain.
Namun, banyak yang tidak sadar, satu sentuhan sederhana itu juga bisa berbuntut bencana kalau tak dilakukan dengan bijaksana.
Seperti beberapa waktu lalu muncul perdebatan terkait dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia atas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial(BPJS) Kesehatan.
Padahal, MUI hanya menilai BPJS Kesehatan perlu disempurnakan agar sesuai prinsip syariah.
Ketika menyatakan sesuatu tidak sesuai syariah, tidak serta-merta berarti MUI mengeluarkan fatwa haram.
Sayangnya, hal itulah yang kemudian meramaikan jagat media sosial, hingga kadung bertebaran hujatan untuk lembaga tersebut.
Ini berkat aktivitas clicking monkeys yang juga didukung pemberitaan berbagai media yang keliru.
Hal yang sama terjadi ketika di media sosial tersebar foto pengemudi perempuan Go-Jek.
Wajahnya tampak luka-luka, dikira akibat menjadi korban penganiayaan ojek pangkalan.
Klarifikasi kemudian muncul, luka yang dialami perempuan tersebut akibat kecelakaan tunggal.
Ruby Astari termasuk salah satu pengguna media sosial yang turut terpancing untuk menyebar kemarahan atas penganiayaan yang dikiranya betul terjadi kepada pengemudi Go-Jek tersebut.
Setelah mengetahui kebenarannya, dia mengakui kesalahannya dan berusaha klarifikasi, setidaknya di akun media sosial miliknya.
Kepada Media Indonesia, Senin (17/8), Ruby mengaku itu bukan pertama kalinya dia kebablasan dalam berbagi informasi yang belum diklarifikasi kebenarannya.
"Semua yang biasanya emotional-related, contohnya kasus kekerasan terhadap perempuan. Biasanya perempuan yang peduli sama isu gender akan lebih mudah terpancing untuk re-share sesuatu yang menurut mereka masalah serius yang wajib diketahui khalayak banyak, dengan harapan akan ada tindakan dari pihak hukum untuk menolong si korban kekerasan," katanya menjelaskan kerentanan baginya dalam berbagi informasi.
Belakangan ini, orang-orang yang terbiasa membagi informasi salah atau hoax ke berbagai media sosial tanpa melakukan klarifikasi itu kerap disebut sebagai clicking monkeys.
Perumpamaan itu dipilih karena orang-orang tersebut jadi serupa kumpulan monyet yang sibuk saling melempar buah busuk di hutan. Malas membaca Pengamat media sosial Nukman Luthfie, sebenarnya enggan untuk menggunakan istilah clicking monkeys karena dirasa terlalu merendahkan harkat manusia ketika disamakan dengan hewan.
Namun, berbicara soal kebiasaan berbagi informasi yang tak jelas kebenarannya, dia menilai hal itu didorong kecenderungan masyarakat yang hanya membaca judul berita saja tanpa menilik isinya.
"Orang yang mencari link sampai ke sumber aslinya bisa hanya 2,5% padahal penyebarannya jauh lebih dari itu," ungkap Nukman.
Celakanya, kebiasaan ini makin disuburkan oleh gaya berita di media massa, terutama media daring yang membuat judul berkesan jelas atau sudah menyimpulkan, pun bernada provokatif.
"User jadi hanya ambil judul lalu tarik kesimpulan, mereka berasumsi judul sama dengan isi."
Namun, tentu saja betapa pun provokatifnya judul berita atau informasi yang tersebar, tidak akan tersulut bila tidak ada percikan sebelumnya.
Menurut Nukman, keteledoran berbagi informasi palsu banyak melanda orang yang sejak awal memang ingin mendapat dukungan atas prasangka dan persepsi yang dimilikinya.
Hal ini misalnya akan mudah terlihat pada isu politik.
Orang yang suka dengan politisi tertentu cenderung membagi tautan bernada positif soal orang yang disukainya itu, tak peduli sumbernya kredibel atau tidak.
Sebaliknya, orang itu juga akan sangat bernafsu berbagi tautan bernada negatif soal politisi yang tidak disukainya.
Lalu, tentu saja ada pula golongan orang yang sengaja berbagi sembarang tautan hanya demi mencari sensasi, ingin cepat dikenal, atau dianggap orang yang paling tahu soal informasi terkini.
Nukman mengingatkan pantang menyepelekan penyebaran berita palsu karena bisa merusak reputasi dan berpeluang tidak disukai orang lain.
Belajar dari pengalaman, Ruby yang telah mengakui 'dosanya' di media sosial, kini memilih lebih awas diri.
Banyak tautan yang kemudian cukup dibagi ke beberapa lingkaran khusus,
seperti grup BBM atau Whatsapp yang isinya teman-teman dekat dan bisa dipercaya.
"Untuk mengurangi risiko kena masalah seperti somasi dari pihak-pihak yang mungkin merasa dirugikan dengan re-share berita yang ternyata hoax, meski tanpa sengaja," pikirnya.
Nah, masih mau jadi 'monyet' di internet?
Kalau tidak, baca dengan teliti, verifikasi lebih dahulu, baru bagikan manakala memang dirasa perlu. (M-4)