Acara Televisi Meresahkan

MI/Anshar Dwi Wibowo
22/8/2015 00:00
Acara Televisi Meresahkan
(ANTARA/WIDODO S. JUSUF)
PRESIDEN Joko Widodo mengaku menangkap keresahan publik atas program-program televisi yang menjadi konsumsi masyarakat. Program-program hiburan di televisi dinilai belum banyak menyisipkan nilai edukasi dan pesan-pesan positif.

"Keadaan menjadi semakin kurang produktif ketika media hanya mengejar rating jika dibandingkan dengan memandu publik untuk meneguhkan nilai-nilai keutamaan dan budaya kerja produktif," ujar Jokowi dalam pertemuan dengan sejumlah direktur program acara stasiun televisi swasta dan negeri di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin.

Pertemuan tersebut juga dihadiri Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, serta Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Jokowi bercerita, seorang guru pernah mencurahkan unek-unek kepadanya. Menurut sang guru, pagi hari ia mendidik murid-murid tentang budi pekerti. Namun, sinetron justru menyuguhkan hal yang berlawanan.

"Malamnya nonton sinetron di televisi yang isinya berbanding terbalik dengan apa yang saya (guru) sampaikan," kata Jokowi mengutip si guru.

Presiden tidak menampik jika televisi punya kepentingan mengejar rating untuk kebutuhan bisnis. Namun, hal itu bukan berarti televisi bebas menyuguhkan tayangan-tayangan yang mendorong masyarakat berperilaku konsumtif, bermewah-mewahan, atau menyuguhkan tayangan yang tidak rasional dan berbau takhayul.

"Hal-hal seperti itu yang saya tangkap yang menjadi sebuah keresahaan. Bukan di news-nya. Sekali lagi, ini bukan di masalah news," tuturnya.

Jokowi menuturkan, sejatinya program-program televisi yang mempunyai rating tinggi tetap bisa dikemas dengan nilai edukasi yang memuat konten positif dan inspiratif. Itu memerlukan kreativitas pembuat acara dan rumah produksi.

"Menghibur sekaligus mengedukasi. Menghibur dengan mengisi sisi moralitas dan optimisme. Saya kira kreativitas bisa memunculkan hal-hal seperti itu," ucapnya.

Pada kesempatan itu Presiden juga menegaskan dirinya tidak ingin mengekang kebebasan pers Indonesia.

Harus dievaluasi
Sebelumnya, KPI pernah meminta agar lembaga-lembaga penyiaran segera mengevaluasi program-program yang dianggap tidak memenuhi kualitas program siaran televisi. Berdasarkan hasil survei Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia dan sembilan perguruan tinggi negeri di sembilan kota besar Indonesia, acara variety show, sinetron, dan infotainment merupakan program televisi yang paling tidak berkualitas.

KPI juga mengajak masyarakat ikut mengawasi program siaran televisi. "Pengawasan bisa dilakukan publik agar selektif mengonsumsi program siaran yang baik dan berkualitas. Publik juga dapat melakukan pengaduan kalau menemukan program siaran televisi yang kurang bagus," kata Wakil Ketua KPI Pusat Idy Muzayyad beberapa waktu lalu. (Mut/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya