Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI dunia pendidikan, tak ada tantangan paling menyeramkan dalam siklus belajar-mengajar kecuali perilaku siswa yang terus merosot karena tergerus oleh ingar-bingar gaya hidup hedonis.
Gaya hidup hedonis yang kasatmata dapat kita saksikan dalam keseharian siswa, yaitu perilaku bergerombol dan merokok bareng di luar sekolah.
Itu merupakan penanda hilangnya gairah belajar dan munculnya mental keroyokan yang ditafsirkan secara salah sebagai bagian dari bertoleransi sesama teman.
Banyak kasus perilaku merokok pada pelajar disebabkan tingginya 'budaya keroyokan' ini, yaitu siswa berkenalan dengan rokok karena ingin berpartisipasi pada kelompok mereka demi membela eksistensi kelompok.
Hampir bisa dipastikan 90% kebiasaan merokok siswa muncul bukan disebabkan keinginan pribadi, melainkan pengaruh kelompok.
Karena itu, tugas pendidikan, terutama sekolah, ialah bagaimana membuat skema kelompok-kelompok tandingan yang lebih menarik dan lebih banyak dalam rangka menghentikan kebiasaan merokok siswa.
Sekolah dituntut membuat skema belajar, baik dalam konteks kurikulum, kokurikulum maupun ekstrakurikulum, yang bisa mengadaptasi peran serta kelompok lebih banyak dalam rangka menekan kebiasaan merokok siswa.
Selain zona antirokok, sekolah juga berkewajiban memberikan bimbingan setiap saat kepada siswa dan orangtua tentang bahaya merokok bagi pertumbuhan kecerdasan seorang anak.
Relasi rokok dan narkoba
Tak dapat dimungkiri rokok merupakan pintu masuk utama narkoba. Jika dirujuk dari definisi narkoba yang dibuat Badan Narkotika Nasional (BNN), di dalam narkoba terdapat setidaknya tiga komponen atau zat aktif utama, yaitu narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya.
Rokok dan alkohol merupakan bentuk ketiga. Unsur utama rokok ialah nikotin yang merupakan salah satu zat psikotropika stimulan.
Karena itu, jarang disadari masyarakat kita bahwa rokok sebenarnya sudah masuk kategori narkotika jenis rendah.
Pecandu rentan masuk ke dunia narkoba yang sesungguhnya.
Sebagaimana narkoba, rokok juga memiliki sifat-sifat ketergantungan semacam habituasi, yaitu seorang pengguna rokok akan memiliki perasaan rindu jika tidak merokok.
Dalam kelompok perokok sebagaimana kita temui pada anak-anak sekolah, kegemaran untuk terus-menerus mengkonsumsi ulang zat tersebut merupakan similarity perception dari rangsangan otak yang dirangsang kelompok.
Pada adiksi, zat dalam rokok ini mampu memberikan ketergantungan yang pekat karena biasanya penggunaan rokok dalam jangka panjang akan menempatkan ketergantungan anak dalam batas yang tidak bisa dicegah.
Jika ini yang terjadi, seorang pengguna rokok dan narkoba akan dihinggapi ketergantungan psikologis. Rokok dan narkoba dianggap sebagai solusi dari tekanan (stres) dari kejenuhan bersekolah, misalnya.
Reaksi stres juga merupakan akibat ketidakberdayaan sekolah dan orangtua dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan anak melalui budaya sekolah dan suasana keluarga yang harmonis.
Selain ketergantungan psikologis, rokok dan narkoba juga memiliki waktu penggunaan.
Karena itu, pemakaian zat berikutnya memerlukan dosis yang lebih besar daripada sebelumnya untuk mencapai efek kenikmatan yang sama.
Toleransi inilah yang akan membuat seorang perokok, dan pemakai narkoba lainnya, terus menambah jumlah batang rokok yang diisap dari waktu ke waktu.
Rokok merupakan narkoba termurah dan dijual bebas.
Dengan Rp1.000 seorang anak sudah mampu mendapatkan sebatang rokok yang mengandung 4.000 macam zat kimia.
Tidak ada satu pun produk farmasi yang berisikan 4.000 macam zat kimia dapat dibeli dengan harga sedemikian murah.
Oleh karena itu, siapa pun mudah memperoleh sebatang rokok, baik mereka yang berusia tua maupun anak sekolah dasar.
Selain itu, rokok memberikan kenikmatan, walaupun sementara, dan inilah yang menjadi magnet bagi anak-anak labil yang tidak puas akan kenyataan hidup ini atau bagi para remaja sebagai teman setia saat kumpul-kumpul.
Jadi, tidak perlu heran jika merokok telah menjadi kebiasaan buruk yang popular di masyarakat.
Berdasarkan laporan Breslau dkk (2001), 1 dari 4 orang dewasa di Amerika Serikat memiliki ketergantungan terhadap nikotin walaupun belakangan ini popularitas merokok di kalangan remaja 'Negeri Paman Sam' terus melorot.
Penduduk Indonesia merupakan salah satu konsumen rokok terbesar di dunia serta memiliki produksi rokok yang tidak kalah besar pula.
Fakta ini membuat berbagai perusahaan rokok asing, seperti Philip Morris, berebut pangsa pasar di negeri ini.
Karena itu, tak ada kata lain bagi sekolah dan masyarakat selain kata melawan rokok dan narkoba dengan pengembangan budaya sekolah sehat yang bisa dilaksanakan dan diukur.
Sekolah dan orangtua harus lebih sering bertemu untuk saling memberikan informasi tentang anak-anak mereka.
Jika sebelumnya sekolah biasa memanggil orangtua pada saat pembagian rapor dan kenaikan kelas, akan lebih baik jika sekolah-sekolah di Indonesia melakukan evaluasi atas performansi anak dan guru setiap dua bulan sekali.
Selain itu, sekolah harus banyak menginisiasi orangtua dengan parenting advocacy program yang disusun bersama antara sekolah dan orangtua.
Ada banyak cara dan jalan untuk membawa masyarakat dan orangtua siswa menjadi peduli dan membantu sekolah untuk menjaga anak-anak mereka dari bahaya rokok dan narkoba.
Beberapa ide dasar yang bisa mengurangi dampak negatif rokok dan narkoba di sekolah ialah (1) bagaimana meminimalkan keterputusan hubungan antara sekolah dan masyarakat; (2) meminimalkan konflik antara guru dan siswa, siswa dan siswa, guru dan guru, atau bahkan guru dan kepala sekolah; serta (3) membangun mekanisme yang lebih familier dalam konteks kenyamanan anak dalam belajar selama di rumah dan di sekolah.
Jelas sekali ada begitu banyak cara agar masyarakat dan sekolah bisa memberikan kontribusi positif terhadap bahaya rokok dan narkoba, serta dalam waktu yang bersamaan juga dapat meningkatkan kualitas sekolah.
Tak mudah membuat dan meyakinkan anak-anak agar tak merokok, kecuali ada kesadaran antara pengelola sekolah dan orangtua untuk terus bersama-sama memberikan perhatian yang lebih intens terhadap perkembangan perilaku anak-anak mereka, baik ketika di sekolah maupun di rumah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved