El nino Terus Menguat

Cornelius Eko Susanto
19/8/2015 00:00
El nino Terus Menguat
(ANTARA/Dedhez Anggara)
IKATAN Ahli Bencana Indonesia (IABI) memperingatkan fenomena El Nino pada tahun ini bakal terus menguat dan semakin mendekati kondisi El Nino berintensitas kuat pada 1997. Fenomena El Nino pada 1997 cukup kuat sehingga menyebabkan kemarau parah di Indonesia.

"Saat ini memang baru terjadi El Nino moderat, tapi diprediksi akan terus menguat," kata Sekjen IABI Lili Kurniawan di Jakarta, kemarin.

Fenomena penguatan El Nino sudah terasa dari Juli dan dampaknya mulai terasa di Agustus ini. Hal itu, lanjut Lili, sesuai dengan prediksi beberapa lembaga meteorologi dunia dan juga Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Menurut dia, penguatan fenomena El Nino diramalkan terus menguat hingga awal 2016. Bahkan, diprediksi fenomena itu akan lebih parah daripada kejadian serupa di 1997.

El Nino sendiri berarti adanya gejala penyimpangan (anomali) pada suhu permukaan di Samudra Pasifik, di pantai barat Ekuador, dan Peru yang lebih tinggi dari rata-rata normal. Hal itu berdampak pada penurunan intensitas air hujan di sejumlah wilayah dan menyebabkan mundurnya awal musim hujan di sebagian wilayah Indonesia.

Lili mengatakan dampak El Nino paling terasa di wilayah selatan khatulistiwa, seperti Lampung Timur, Jawa, dan Bali hingga timur Indonesia. Curah hujan sangat sedikit di bawah 100 mm akan terjadi di daerah tersebut pada Agustus-Oktober 2015.

Akibat kemarau saat ini, wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara telah mengalami defisit air hingga sekitar 20 miliar meter kubik. Bencana kekeringan saat ini telah melanda 721 kecamatan yang tersebar pada 102 kabupaten/kota di 16 provinsi. Hingga Juli 2015, 111 ribu hektare lahan pertanian di Tanah Air mengalami kekeringan.

Pada kesempatan serupa, Ketua Kelompok Kerja Banjir dan Kekeringan IABI, Agus Maryono, mengatakan pe-ngaruh El Nino sangat sulit diredam lantaran fenomena global. Teknologi rekayasa atmosfer memang bisa dilakukan, tapi hanya efektif pada wilayah yang tidak terdampak secara masif. Adapun di wilayah yang terdampak secara masif seperti Jawa, penerapan teknologi akan menemui banyak kendala.

Menampung air hujan
Berkaca dari hal itu, ia mengajak masyarakat Indonesia untuk menampung air hujan karena bisa menanggulangi kekeringan panjang. "Masyarakat selama ini belum punya budaya menampung air hujan. Kalau kita sudah mampu, pada Oktober nanti kita tinggal memanen air sehingga dampak kemarau bisa diatasi.

"Dosen Fakultas Teknik UGM itu menambahkan, ia sudah melakukan penelitian terhadap air hujan, dan terbukti jika dikelola dengan baik, air hujan bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

"Air hujan dapat ditampung di toren menggunakan alat rain filter dan bisa digunakan untuk air sehari-hari. Jika ingin diminum, disarankan diperiksakan ke dinas kesehatan dulu dengan cara dimasak," jelas Agus.

Selain dengan menampung air hujan, hal yang bisa dilakukan untuk menanggulangi kekeringan ialah dengan membuat sumur resapan karena nantinya segala air yang jatuh ke tanah bisa diresap di dalam sumur tersebut. (H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya