Pendidikan Keberagaman Sangat Penting

Usman Kansong
02/9/2016 08:20
Pendidikan Keberagaman Sangat Penting
(MI/Ramdani)

PENDIDIKAN selayaknya melatih kesanggupan peserta didik untuk dapat melihat bahwa ia merupakan warga negara. Sebagai warga negara, ia mesti dilatih untuk tidak melihat kebenaran berdasarkan apa yang diyakini-nya sendiri ataupun apa yang menguntungkan golongannya sendiri, tetapi dididik untuk mengakui realitas di luar dirinya. Warga negara harus dididik bahwa realitas Indonesia itu majemuk.

Hal itu diungkapkan filsuf Karlina Supelli saat memberi kuliah dalam acara Diversity Award di Jakarta, Rabu (31/8) malam. "Realitas yang berupa Indonesia dan dunia terhampar di hadapan kita dengan masyarakatnya yang majemuk. Dalam keragaman ada perbedaan dan persamaan, tetapi tidak saling menekan dan menelan," tutur Karlina yang juga dosen pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara itu.

Pendidikan semacam itu, sambung Karlina, akan menghasilkan cara berpikir yang masuk akal sehingga warga negara bisa melihat dan menyadari bahwa di luar dirinya ada realitas objektif bernama negara, ada tata sosial bernama masyarakat, dan ada tata simbolik yang disebut bangsa. Dengan begitu, warga negara akan mengacu pada undang-undang, hukum, dan nilai-nilai sosial-budaya.

Buruknya perilaku kewarganegaraan, ujar Karlina, merupakan gejala nyata dari gagalnya pendidikan. Di Indonesia, ilmu diajarkan sebagai alat mencapai tujuan, padahal ilmu punya tujuan etis.

"Salah satu praktik etis itu adalah melatih kesanggupan melihat realitas objektif dan memilah mana yang menurut kita sendiri dan mana yang berasal dari realitas."

Karlina melanjutkan, campur aduk ranah subjektif dan objektif bisa sangat berbahaya. Tanpa melatih kesanggupan berpikir, melatih kebiasaan membedakan mana urusan dunia dan urusan surga, kehidupan publik akan semrawut.

Ketidaksanggupan membedakan urusan dunia dan surga pada gilirannya menghadir-kan pemikiran yang tidak masuk akal.

"Kalau untuk sembahyang, orang boleh bikin jalan macet. Kalau untuk Tuhan, orang boleh menyerang dan membakar tempat ibadah orang tidak seiman. Kalau untuk Tuhan, orang yang orientasi hidup pribadinya berbeda boleh dinista dan disiksa. Seolah kita ini ada pada taraf yang setara dengan Tuhan. Kita tahu apa yang Tuhan mau," papar Karlina.

Adakah cara untuk berpikir masuk akal? "Jalannya ialah melatih diri untuk memilah dan memilih, memeriksa pikiran, hasrat, motivasi, dan implikasinya pada perilaku dan sikap kita," pungkasnya.

Diversity Award
Pada acara itu diumumkan pemenang Diversity Award untuk jurnalis. Untuk kategori media cetak pemenang Diversity Award ialah Furqon Ulya Himawan dari Media Indonesia dengan karya Toleransi Memudar di Kota Pelajar. Untuk kategori media daring, pemenangnya Heyder Affan dari BBC dengan karya Wahabi dan Islam moderat di Indonesia.

Untuk kategori fotografi jurnalistik, pemenangnya Jessica Helena dari LKBN Antara dengan karya Pengusiran Warga eks-Gafatar.

Di kategori radio pemenangnya Margi Ernawati dari Radio Elshinta Semarang dengan karya Al-Kautsar Bukanlah Pemicu Gusar. Tidak ada pemenang untuk kategori televisi.(H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya