LUKA yang lama sembuh disertai nyeri yang mengganggu merupakan keluhan yang kerap diungkapkan pasien setelah menjalani operasi. Namun, dengan teknologi bedah robotik, keluhan-keluhan itu bisa diminimalkan.
Sesuai dengan namanya, bedah robotik menggunakan robot untuk mengoperasi pasien. Namun, jangan bayangkan robot itu seperti yang di film-film, sebentuk manusia logam yang memegang pisau untuk membelah perut pasien. Robot yang dimaksud lebih mirip tiang pendek nan kukuh berlengan empat. Di ujung lengan-lengan itu terpasang peralatan operasi. Lengan-lengan itulah yang bergerak mengoperasi tubuh pasien. Semua gerakan dikendalikan dokter.
''Ini sebuah terobosan teknologi di bidang medis. Di negara-negara maju, teknologi ini sudah banyak digunakan dan mulai dijadikan andalan,'' ujar President Indonesian Gynecological Endoscopy Society (IGES) Wahyu Hadisaputra di acara seminar dan live robotic surgery di Rumah Sakit Umum (RSU) Bunda, Menteng, Jakarta, Minggu (16/8).
Ia menjelaskan bedah robotik merupakan salah satu pilihan terbaik untuk mengurangi berbagai keluhan pascaoperasi. Dengan teknik tersebut, sayatan operasi maksimal 2 sentimeter.
''Dengan sayatan sekecil itu, rasa nyeri yang ditimbulkan akibat operasi jauh lebih ringan. Jumlah darah yang ke luar selama operasi juga sedikit, tidak lebih dari 200 mililiter,'' imbuh Wahyu.
Sayatan tersebut digunakan untuk memasukkan alat-alat bedah yang terpasang di lengan-lengan robot, seperti gunting, penjepit, juga kamera fiber optik. Alat-alat tersebut digerakkan dokter yang duduk di depan panel pengontrol. Dokter dapat melihat kondisi dalam tubuh pasien dengan jelas lewat layar monitor beresolusi tinggi.
''Untuk dapat melakukan bedah robotik, dokter terlebih dulu harus mengikuti pelatihan dan sertifikasi keahlian bedah robotik yang diakui secara internasional.''
Bedah robotik dapat diaplikasikan untuk berbagai jenis pembedahan. Ragam masalah di area perut, dada, dan kepala yang membutuhkan operasi bisa dikerjakan dengan teknik canggih itu. ''Namun, pasien memiliki kondisi tubuh yang berbeda-beda, jadi harus terlebih dulu berkonsultasi dengan dokter untuk memutuskan teknik pembedahan yang tepat,'' jelas Wahyu.
Pada live surgery tersebut, kasus yang ditangani ialah pengangkatan miom dengan perlekatan usus pada seorang pasien perempuan berusia 38 tahun.
Kendala biaya Wahyu menambahkan, dalam sejarah kedokteran, bedah robotik merupakan pengembangan dari teknik bedah sa yatan minimal (minimally invasive surgery), seperti laparoskopi. Teknologi pembedahan dengan kamera sebagai pemantau organ dalam pasien yang bertujuan meminimalkan luka itu pertama kali dikembangkan pada 1902 oleh dokter bedah asal Jerman George Kelling.
Laparaskopi bisa diaplikasikan pada manusia pertama kali pada 1910 dan mulai populer pada 1966 di Amerika. Setelah itu, menjelang 2000-an, bedah robotik mulai dikembangkan. Pengembangan itu utamanya pada penggunaan lengan-lengan robot sebagai perpanjangan lengan dokter. Lengan-lengan robot itu memudahkan dokter menjangkau area yang sulit dicapai lengan dokter dan melakukan operasi secara lebih akurat.
Di Indonesia, bedah robotik baru diterapkan di RSU Bunda. Sejak diterapkan mulai 2012, sebanyak 142 pembedahan sukses dilakukan.
Menurut Wahyu, tingginya harga dari perangkat mesin bedah robotik menjadi penyebab utama sulitnya rumah sakit untuk menyediakan fasilitas operasi itu. Harga satu mesin robot bernama da Vinci Surgery System itu berkisar Rp200 miliar. Singapura menjadi negara terdekat dari Indonesia yang memiliki mesin itu.
''Tentu ini menjadi hambatan rumah sakit di Indonesia untuk bersaing dengan negara-negara tetangga yang telah lebih dulu dan lebih banyak memiliki perangkat bedah robotik,'' tambah Wahyu.
Sementara itu, CEO of RSU Bunda Rizal Sini mengatakan pengadaan layanan bedah robotik dilakukan untuk memberikan kualitas layanan tingkat internasional pada pasien. Selain itu, fasilitas tersebut diharapkan dapat meringankan beban biaya masyarakat Indonesia yang ingin menjalani bedah robotik. Tarif yang dikenakan lebih rendah daripada di Singapura.
''Biayanya bervariasi, bergantung pada tingkat keparahan penyakit. Namun, rata-ratanya Rp100 juta-Rp150 ju ta. Biaya tersebut jauh lebih murah daripada di luar negeri seperti Singapura yang mencapai Rp200 juta-Rp300 juta,'' papar Ivan.
Ia menambahkan, jika dibandingkan dengan operasi biasa, biaya bedah robotik memang lebih besar. Namun, biaya itu sepadan dengan hasil yang didapatkan pasien. (H-3)