Adiktifnya Pencitraan dari Udara

Dzulfikri Putra Malawi
16/8/2015 00:00
Adiktifnya Pencitraan dari Udara
(DOK. NICKO SILFIDO)
LEBIH dari 50 orang berkumpul di Taman Budaya, Sentul, Jawa Barat. Minggu (2/8), mereka pada awalnya tampak berdiskusi, lalu masing-masing mengeluarkan perangkat yang memiliki banyak baling-baling.

Bergantian kemudian mereka menerbangkan perangkat berkamera itu.

Itulah drone yang pada dasarnya ialah robot udara yang dikendalikan dari jarak jauh.

Setidaknya, dua tahun ini drone populer di kalangan urban dan banyak dimanfaatkan untuk fotografi serta video aerial.

Salah satu yang asyik memainkan drone-nya pada hari itu ialah Akbar Marwan.

Pria 38 tahun ini sudah cukup banyak mengabadikan pemandangan dari udara, salah satunya kaldera Bromo.

Foto dan video yang dibuatnya mendapat respons positif saat diunggah ke forum travel internasional.

Berkat pencitraan yang dihasilkan kamera berkualitas 4K (resolusi layar yang sangat spesifik dari 4096 x 2160), memang begitu bagus.

Akbar mengaku, sudah sejak 2013 tertarik dengan drone.

"Saya mengeluarkan kocek lebih dari Rp100 juta untuk tiga drone," ujar dosen teknologi informasi di salah satu universitas swasta di Depok ini.

Satu drone-nya berjenis Inspire 1 dan Phantom 3, satu lagi ialah hasil rakitan berbentuk fixed wing yang biasa digunakan untuk pemetaan citra udara.

Keranjingan yang sama juga menjangkiti Awi Wicaksono.

"Saya merasa adiktif mengendalikan drone," aku pria yang juga menjadi Ketua Umum Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI).

Saban sore menjelang malam, ia tidak pernah absen dari kegiatannya menerbangkan drone jenis quadcopter (ber-rotor empat) di kawasan perumahannya, Cakung, Jakarta Timur.

Jika Akbar dan Awi menggeluti drone untuk hobi, Anton Chandra melakukannya juga untuk bisnis.

"Sudah lama saya di dunia travel. Karena ada drone, saya gunakan sebagai fasilitas dokumentasi bagi rombongan yang saya bawa. Dampaknya lumayan untuk sektor wisata." ungkap pria yang mengenal dronesejak enam bulan lalu itu.

Makin banyaknya peminat drone juga didorong produk quadcopter buatan Shenzhen, Tiongkok. Mereka dapat menjual quadcopter mulai dari Rp10 juta.

Balapan
Selain untuk hobi aerial fotografi dan videografi, kini drone juga dijadikan ajang untuk balapan.

Kegiatan balap ini juga yang sering dilakukan beberapa anggota APDI.

Untuk balapan, digunakan mesin drone dengan bentuknya lebih kecil seperti mobil tamiya.

Drone tersebut diterbangkan dengan tujuan adu kecepatan dengan melewati rintangan yang dipasang di lapangan terbuka.

Rintangan paling umum berbentuk lingkaran dengan berbagai ukuran. Bulan depan, beberapa anggota APDI akan turut serta dalam kejuaraan dunia Aerial Grand Prix yang pesertanya dari Benua Eropa, Asia, Amerika, dan Australia.

Dengan balapan ini, para peminat drone bisa melatih ketangkasan mereka.

Aturan dan Keamanan
Fenomena maraknya drone juga yang mendorong terbentuknya APDI Februari lalu.

Para pilot yang berasal dari individual beragam profesi hingga kelompok komunitas merasa harus bergabung untuk membuat aturan khusus terkait dengan keselamatan dan etika terbang.

Sebanyak 300 lebih anggota mendaftar hingga terbentuk beberapa cabang di Pusat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra Barat.

Kini, untuk mengoperasikan drone tidak bisa dilakukan sembarangan.

Untuk itu, APDI tidak hanya membuat kegiatan fun flight yang bisa dilakukan hingga tiga hari sekali, tetapi juga membuat sertifikasi pilot drone.

Dari segi keamanan, jika pilot gagal menerbangkan, baling-baling drone bisa membuat orang terluka.

Maka dari itu, disarankan untuk tidak terbang di atas kerumunan orang banyak.

Selain itu, kawasan penerbangan juga harus diperhitungkan, jangan sampai membuat orang merasa tidak nyaman layaknya dimata-matai.

Misalnya, terbang di atas atap rumah dalam posisi diam dan di atas instalasi militer.

Untuk terbang di atas kerumunan orang seperti di tempat konser musik hanya mungkin di lakukan pilot yang berpengalaman yang menerbangkan dengan mode gabungan manual dan kompas.

Perlu keterampilan khusus untuk mengendalikan dengan mode penerbangan ini.

Orientasi arah dan keahlian kedua jempol tangan untuk mengontrol dipertaruhkan.

Walaupun saat ini drone sudah dilengkapi dengan fasilitas smart flight controller hingga dapat dikendalikan tanpa menggunakan jempol, mengendalikan dengan manual masih menjadi keasyikan dan tantangan tersendiri bagi para pilot.

"Saya lebih suka manual karena melatih orientasi arah dan kemampuan menstabilkan drone di atas," papar Akbar.

Soal arah terbang, adanya sistem kendali penerbangan dengan GPS yang ditanamkan pada drone membuat alat ini mampu menuju tujuan secara otomatis.

Namun, drone tetap punya permasalahan tersendiri.

Karena menggunakan radio frekuensi, drone juga kerap mendapatkan kesulitan lahan untuk terbang, terutama kawasan perkotaan yang banyak gedung bertingkat, seperti di kawasan Bundaran HI, Jakarta.

Di kawasan itu, sinyal kendali drone kerap terhambat.

Akibatnya bisa lepas kendali dan membahayakan orang.

Untuk itu, kelayakan mengudara menjadi pertimbangan tersendiri.

Lewat Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 90 Tahun 2015 tentang Pengendalian Pengoperasian Pesawat Udara tanpa Awak, pemerintah mengatur bahwa pesawat udara tanpa awak yang digunakan untuk kepentingan pemotretan, perfilman, dan pemetaan harus melampirkan surat izin dari institusi yang berwenang dan pemerintah daerah yang wilayahnya akan dipotret, difilmkan, atau dipetakan.

Dari sarasehan di Sentul, Jawa Barat, APDI merespons peraturan itu dengan konsep izin terbang berkelanjutan yang diberikan pemerintah, program APDI bisa difasilitasi pemerintah, dan standar kelayakan mengudara.

Terlepas dari aturan yang akan diterapkan untuk drone, kegiatan penerbangan ini akan tetap mengasyikkan bagi para pilot asalkan memahami dan mengenali alat serta lingkungan yang menjadi lokasi terbang. (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya