Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
GEMPA bumi di Nepal yang terjadi April lalu, tepatnya pada Sabtu, 25 April 2015, diyakini hanya mengeluarkan sebagian energi dan masih menyimpan kekuatan besar yang hanya tinggal menunggu waktunya.
Jean-Philippe Avoac, ahli geofisika di Universitas Cambridge, Inggris, terkejut ketika mendengar peristiwa gempa Nepal berkekuatan 7,8 SR itu.
Peristiwa tersebut merupakan gempa bumi paling kuat yang mengguncang Nepal sejak gempa bumi Nepal-Bihar pada 1934.
Yang menjadi perhatian Avoac, selain banyaknya jumlah korban, ialah persoalan proses terjadinya gempa.
Sebagai seorang ilmuwan, dia tahu betul bagaimana sebuah gempa bisa menyebabkan gempa-gempa berikutnya.
Secara umum, gempa bumi berskala besar terjadi ketika patahan atau retakan bumi mengalami pergerakan.
Aktivitas itu melepaskan akumulasi energi.
Untuk mengetahui banyaknya energi yang dikeluarkan Patahan Besar Himalaya pada April lalu, tim seismolog pimpinan Avoac menganalisis dampak gempa menggunakan seismometer dan radar satelit angkasa luar.
Menurut temuan peneliti, gempa menyebar ke arah timur sejauh 140 km dengan kecepatan 10.800 km/jam.
Gempa diawali dengan pergeseran retakan selebar 120 kilometer.
"Gempa itu bukan yang terbesar yang bisa terjadi di daerah ini," kata Avoac.
Beruntung, gempa yang terjadi di Nepal tidak menjalar ke bagian barat.
Jika terjadi, aktivitas itu diyakini bisa melepaskan energi gempa yang jauh lebih kuat karena patahan Himalaya bagian barat belum pernah mengalami keretakan sejak 1505.
"Jika gempa menyebar ke arah barat, itu benar-benar bisa menjadi gempa yang sangat mematikan karena banyak orang tinggal di sekitar Himalaya sekarang," aku Avoac, pemimpin penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience edisi pekan lalu.
Dalam studi lain, Avoac dan rekan-rekannya menggunakan jaringan GPS di daerah gempa untuk memantau proses retaknya patahan.
Mereka menemukan patahan bergeser selama enam detik.
Kabar baiknya, hal itu tidak menghasilkan jenis gelombang seismik frekuensi tinggi yang bisa menyebabkan efek kehancuran yang lebih berbahaya.
Kendati mampu mengidentifikasi potensi bencana, para peneliti tidak dapat memastikan kapan gempa besar berikutnya akan terjadi.
"Mungkin butuh satu dekade, mungkin beberapa dekade. Yang terpenting orang-orang yang tinggal di daerah sekitarnya menyadari bahwa terdapat risiko serius dari gempa bumi besar di sana, dan membangun akhirnya gedung-gedung yang lebih kukuh."
Gempa April lalu mengguncang bagian barat daya Nepal, 80 km dari Kathmandu. Lebih dari 9.000 orang tewas.
Kejadian itu pun mengakibatkan Gunung Everest bergeser 3 sentimeter ke arah barat daya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved