TIGA windu silam, tepatnya pada 1990, Theodore Roosevelt memimpin perburuan Smithsonian.
Ia tidak sendiri saat menyiapkan jebakan, tetapi bersama dengan kolega-koleganya.
Saat itu, Roosevelt dan putranya, Kermit, membunuh 11 gajah, 17 singa, dan 20 badak yang dikirim ke Amerika.
"Sungguh, terkadang saya malu atas semua kesenangan itu," ujar Roosevelt pada pidatonya selang beberapa lama.
"Saya telah melakukan pembantaian terhadap badak ataupun binatang lain. Saya mempersiapkannya sedemikian rupa. Di saat yang sama, orang lain harus bekerja keras untuk melestarikan spesies itu."
Inilah yang menarik. Di satu sisi, Roosevelt ialah penyeru pelestarian binatang.
Di lain sisi, ia juga penikmat perburuan.
Cerita sama juga dilakonkan Raja Spanyol Juan Carlos.
Pada 2012, ia melakukan safari perburuan gajah ke Botswana. Persis saat Spanyol dilanda krisis keuangan.
Ia sempat terluka saat itu.
Reputasinya anjlok.
Ia akhirnya meminta maaf atas safari itu.
Awal Juli, dunia internasional dibuat geger atas kematian singa Cecil, di Zimbabwe.
Singa 13 tahun itu mati ditembak seorang pemburu yang juga dokter gigi Amerika, Walter James Palmer.
Para kelompok penyayang satwa liar beramai-ramai mengecam perburuan yang diduga ilegal itu.
Ironisnya, lokasi kejadian sama dengan April lalu, yakni di sekitaran Taman Nasional Hwange, Zimbabwe.
Menurut otoritas Zimbabwe, Palmer tidak memiliki wewenang untuk membunuh Cecil.
Singa itu sengaja dipancing untuk keluar dari lahan konservasi.
Ia dilukai dengan panah sebelum akhirnya ditembak.
Banyak pemburu 'lima besar' hewan langka (macan tutul, singa, gajah, badak, dan kerbau air) percaya perburuan yang mereka lakukan ialah olahraga.
Mereka juga mengklaim sebagai pelestari satwa liar dengan menyalurkan dana ke cagar alam.
"Pemburu itu manusia normal yang hidup dan pecinta alam," kata Adri Kitshoff, ketua the Professional Hunters Association of South Africa.
"Mereka bukan pembunuh yang haus darah," tambahnya.
Populasi turun Sungguh sebuah tarik ulur tentang moralitas yang sangat menarik.
Nyatanya, praktik perburuan dan perambahan manusia telah mengakibatkan penurunan populasi satwa liar di sub-Sahara Afrika.
Selama 2013, tak kurang dari 7.600 pemburu asing masuk ke Afrika Selatan, lebih dari setengah berasal dari Amerika.
Ini didukung dengan banyaknya situs yang menawarkan paket wisata 'perburuan'.
Salah satu agen, Palala Afrika Selatan, menawarkan paket safari selama tujuh hari dengan biaya US$5.000 (sekitar Rp70 juta).
Di dalamnya sudah termasuk aktivitas berburu kijang besar dan babi hutan.
Salah seorang agen, Martin Pieters, mengatakan ia menyediakan perburuan yang fair dan etis di Zimbabwe.
"Bayangkan, Anda diam dalam malam gelap. Duduk tak bergerak dari target yang berjarak 60 kilometer, menunggu kesempatan. Anda tahu, meskipun sudah melakukan segalanya dengan benar, binatang itu mungkin tidak datang. Itu baru namanya berburu," tambahnya.
Untuk dapat berburu singa, pemburu harus membayar lebih. Itu layaknya komoditas eksklusif dengan harga yang eksklusif pula. Sang raja hutan diperuntukkan yang berkantong tebal.
Populasi singa afrika anjlok hingga 48,5% selama 20 tahun terakhir.
Sampai hari ini, populasi singa Afrika diperkirakan kurang dari 40 ribu singa yang tersebar di beberapa negara Afrika.
Ancaman berasal dari populasi manusia yang semakin meningkat, habitat yang semakin menyempit, dan penyakit.
Singa ditetapkan masuk 'daftar merah' spesies yang menghadapi ancaman.
Sayangnya, Amerika memimpin dunia dalam impor 'trofi' (sebutan untuk singa mati).
Kurun 1999 sampai 2008, Amerika mengimpor 4.021 piala yang digunakan sebagai hiasan rumah dan kantor.
Jumlah itu merupakan setengah dari keseluruhan 'piala' yang diperdagangkan secara internasional.
Belum terlambat untuk menghentikan perburuan itu.
Bagaimanapun juga, seperti kata pemikir Jerman Immanuel Kant (1724-1804),
"Setiap perlakuan yang menyiksa hewan, atau membiarkan mereka menderita, atau memperlakukan mereka tanpa sayang, ialah perbuatan merendahkan diri sendiri." (ifaw.org/africanskyhunting.co.za/bigstory.ap.org/zuq/L-1)