SETIAP anak memiliki potensi yang perlu ditumbuhkan. Pendidikan yang baik akan menumbuhkan potensi itu sehingga anak-anak berkembang menjadi generasi penerus yang menyokong kemajuan bangsa. "Paradigma tentang pendidikan perludiubah. Kita harus melihat pendidikan itu sebagai proses menumbuhkan potensi, bukan menanamkan. Inilah fi losofi pendidikan yang sebenarnya sudah ada sejak zaman Ki Hajar Dewantara," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan dalam perbincangan di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Senin (10/1). Ia lalu mengibaratkan anak seperti biji, punya potensi untuk menjadi pohon dengan dukungan tanah yang subur dan iklim yang sesuai. Seperti itulah peran pendidikan, menumbuhkan potensi yang sudah ada dalam diri anak. "Pada saat kita melihat biji, yang keliatan memang hanya sebentuk biji, belum terlihat akar dan daunnya. Nah, biji yang diletakkan pada pot dengan tanah yang subur dan dengan iklim yang baik akan tumbuh menjadi pohon yang lengkap," paparnya. Dalam menumbuhkan potensi anak melalui pendidikan, peran guru dan sekolah amatlah penting. Karena itu,menurut Anies, langkah pertama dan penting yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memajukan pendidikan ialah dengan membentuk direktorat jenderal guru yang tugas utamanya khusus menangani guru. "Salah satu persoalan paling njelimet dalam pendidikan ialah mengelola guru.
Mengelola itu artinya dari mulai persiapan, rekrutmen, penugasan, pendampingan, dan pengembangannya." Setelah membentuk direktorat jenderal guru, langkah selanjutnya yang dilakukan Kemendikbud ialah pembinaan terhadap guru dan kepala sekolah. Langkah ketiga ialah menjadikan sekolah sebagai ekosistem pendidikan dengan membangun kultur sekolah yang baik. Yakni, kultur yang memungkinkan terjadinya pembiasaanpembiasaan yang baik. "Misalnya, kita ingin anak-anak Indonesia berintegritas, maka anak diajari dan dibiasakan dengan budaya berintegritas," imbuh mantan Rektor Universitas Paramadina itu. Langkah keempat, lanjut Anies, melibatkan orangtua secara aktif dalam proses pendidikan anak di sekolah. Kendati negara tidak berniat mengintervensi kehidupan rumah tangga, orangtua didorong untuk terlibat dalam pendidikan anak-anak di sekolah. "Sebab itu kita dorong gerakan mengantar anak ke sekolah pada tahun ajaran baru belum lama ini. Ternyata respons para orangtua positif luar biasa. Gerakan ini sempat jadi trending topic di media sosial. Para orangtua jadi kenal wali kelas anak, kepala sekolah, tahu ruang kelas anak. Nah, di sini kita mendorong pemahaman bahwa mendidik perlu kerja sama antara orangtua dan sekolah." Langkah kelima, mengubah orientasi sekolah dari orientasi pada perolehan nilai beberapa mata pelajaran menjadi konsentrasi pada semua mata pelajaran lewat penghapusan aturan yang menjadikan ujian nasional sebagai penentu kelulusan siswa.
Langkah keenam, lanjut Anies, Kemendikbud menjadikan integritas sebagai salah satu tolok ukur penting dalam pembentukan karakter murid. Lalu yang terakhir ialah mengutamakan pendidikan karakter. "Seperti adanya gerakan menumbuhkan budi pekerti yang diatur melalui Permendikbud 21 Tahun 2015." Anies menegaskan tiap anak sejatinya memiliki karakter pembelajar. Tugas orang-orang dalam dunia pendidikan ialah mendorong anak agar menjadi pembelajar seumur hidup. "Sebab, ketika seorang anak berhasil menjadi pembelajar, apa pun profesinya akan bisa dikerjakannya dengan baik," pungkas Anies. Membangun kebudayaan Pada kesempatan itu, Anies juga menjelaskan peran strategis sekolah dalam membentuk budaya bangsa. Menurutnya, sekolah-sekolah di Indonesia mendidik sekitar 52 juta anak. Jumlah itu 20% dari total penduduk. Sekolah merupakan tempat strategis untuk membangun kebudayaan baik. "Sekolah dapat menjadi strategi pembentukan budaya baru, misalnya budaya disiplin, budaya jujur, dimulainya di sekolah." Ki Hajar Dewantara pun ketika membicarakan kebudayaan selalu mengaitkan dengan pendidikan karena pendidikan dapat menumbuhkan budaya-budaya.
"Kalau sekolah kita budayanya menyontek, niscaya kebudayaan yang terbentuk di negara ini adalah budaya menyontek. Kalau budaya di sekolah yang ditumbuhkan adalah budaya potong kompas, budaya masyarakatnya adalah budaya potong kompas," tuturnya. Mengingat begitu pentingnya peran pendidikan, Anies pun mendorong semua pihak untuk turut berperan memajukan pendidikan. (H-3)