Ibu Menyusui Perlu Dukungan Orang Sekitar

(Pro/H-3)
24/8/2016 01:45
Ibu Menyusui Perlu Dukungan Orang Sekitar
(Thinkstock)

Suami dan orang-orang sekitar turut menentukan sukses atau tidaknya seorang ibu menyusui bayinya. Kurangnya dukungan mereka bisa menyebabkan ibu gagal menjalani program pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif yang dibutuhkan bayi pada enam bulan pertama kehidupannya. "Mengingat, kelancaran produksi dan pengeluaran ASI sangat dipengaruhi pola pikir dan kondisi psikologis ibu. Suara-suara miring dari lingkungan bisa mengurangi kepercayaan diri serta kenyamanan ibu sehingga mengganggu proses menyusui," terang dokter spesialis anak dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ), Jakarta, Naomi Esthernita F Dewanto, pada diskusi kesehatan di RS tersebut, Kamis (18/8).

Ia mencontohkan, pada ibu yang baru melahirkan, produksi ASI-nya masih sedikit. Ibu baru umumnya juga belum mahir menempatkan bayi pada posisi yang benar saat menyusui. Kondisi tersebut dapat membuat si ibu panik dan bayi menjadi rewel. "Jika pada saat-saat seperti itu ada suara-suara yang menganjurkan si ibu beralih ke susu formula, program ASI eksklusif bisa gagal," ujar Naomi yang juga Koordinator Klinik Laktasi SHKJ itu. Juga ketika ibu bekerja sudah habis masa cutinya. Ketiadaan dukungan, kesempatan, dan waktu bagi ibu untuk memerah ASI di tempat kerja jelas akan mengganggu kesinambungan program ASI eksklusif. Karena itulah, menurut Naomi, seluruh pihak harus memahami pentingnya ASI eksklusif untuk kemudian mendukung setiap ibu yang tengah menyusui.

Ia menegaskan keunggulan ASI sudah tidak diragukan lagi. Berbagai penelitian membuktikan beragam manfaatnya bagi bayi maupun ibu. Tidak ada satu pun jenis susu formula yang bisa mendekati apalagi menyamai ASI. "ASI juga turut meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa. Penelitian membuktikan, anak yang semasa bayi diberi ASI terbukti memiliki tingkat kecerdasan lebih tinggi daripada yang tidak diberi ASI. Dan lagi, program ASI eksklusif juga menghemat anggaran," imbuh Kepala Neonatal Intensive Care Unit (NICU) SHKJ tersebut.

ASI perah
Secara terpisah, dokter spesialis anak, Wiryani Prambudi, menjelaskan langkah terbaik bagi ibu bekerja dalam memberikan ASI perah pada bayi. Ia menerangkan, seorang ibu memang bisa memerah ASI-nya untuk diberikan pada bayi ketika ibu tengah bekerja. ASI perah bisa disimpan dalam lemari es untuk kemudian dihangatkan saat akan diberikan pada bayi. Namun yang digarisbawahi Wiryani, banyak ibu yang keliru dalam manajemen ASI perah. Mereka memberikan terlebih dulu ASI perah dengan masa simpan paling lama pada bayi, daripada ASI perah yang baru. "Padahal, ASI yang terbaik adalah yang memiliki kondisi paling mendekati ASI yang keluar langsung dari payudara ibu. Dengan kata lain, semakin cepat ASI diberikan setelah diperah, semakin baik," ungkap Wiryani.

ASI beku yang kemudian kembali dicairkan menurutnya memang dapat diberikan pada bayi, tetapi merupakan pilihan terakhir sebab meskipun dalam keadaan beku ASI dapat bertahan hingga 6 bulan, paparan suhu yang kerap berubah pada masa penyimpanan dapat memengaruhi kualitas ASI tersebut. Proses pembekuan ASI perah, lanjutnya, berpotensi menghilangkan beberapa zat penting untuk menghalau infeksi pada bayi. Semakin lama penyimpanan ASI dilakukan, baik didinginkan maupun dibekukan, kandungan vitamin C pada ASI makin berkurang. "Meski begitu, pemberian ASI perah tetap lebih baik dalam mendukung kesehatan bayi daripada susu formula," tegasnya. (Pro/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya