Yang Muda yang Inovatif

Fario Untung Tanu
20/8/2016 07:21
Yang Muda yang Inovatif
(MI/Atet Dwi Pramadia)

ANAK muda Indonesia memang tak pernah berhenti mengukir prestasi gemilang di mata dunia.

Kali ini, prestasi Suprihatin dan Raafi Jaya Sutrisna di bidang ilmiah membawa nama Indonesia menjadi perhatian dunia.

Pelajar SMA PGRI 2 Kayen, Jawa Tengah, itu berhasil menyabet medali emas pada ajang International Young Inventors Project Olympiad di Georgia, Eropa, April lalu.

Di ajang itu, keduanya berhasil mengalahkan peneliti-peneliti muda lainnya dari 35 negara peserta dengan lebih dari 100 karya proyek ilmiah.

"Kita tidak menyangka apa yang mereka buat selama ini bisa menembus tingkat nasional bahkan internasional, karena sebenarnya bahan-bahan yang digunakan untuk proyek mereka sangat mudah ditemukan dan sangat mudah digunakan," tutur Sutrimo selaku guru pembimbing Hatin dan Raafi.

Raafi dan Hatin berhasil membuat bahan alternatif komposit untuk interior badan pesawat dan otomotif.

Pembuatan itu berhasil digabungkan keduanya dengan memanfaatkan bahan yang sederhana, yakni limbah kulit singkong serta serat batang pohon pisang.

Ide itu muncul karena saat ini sangat banyak ditemukan limbah kulit singkong di sekitar tempat tinggal mereka.

Untuk bisa menjadi komposit, kulit singkong yang didapat terlebih dahulu dikarbonisasi dalam oven dengan suhu 300 derajat celsius.

"Ide ini memang pertama muncul karena banyaknya limbah singkong di daerah tempat tinggal kami yang mencapai 10 ton tiap bulannya yang berasal dari pabrik tepung tapioka," ucap Suprihatin yang biasa dipanggil Hatin.

Tak hanya itu, sampah-sampah pohon pisang yang juga banyak ditemukan di daerah Kayen juga menjadi alasan untuk dijadikan sebagai bahan baku karya ilmiah itu.

Terlebih, pohon pisang yang sudah mati kebanyakan tidak lagi digunakan.

"Jadi kita mengambil seratnya saja. Kebetulan setelah kita banyak membaca di jurnal ilmiah, antara serat pisang dan limbah kulit singkong ini bisa dimaksimalkan menjadi sebuah komposit," tutur Raafi.

Setelah dikarbonisasi, kulit singkong itu akan diaktivasi dengan cara direndam pada larutan H2S04 selama 2 jam.

Barulah setelah direndam dan mencapai tingkat Ph yang diinginkan, serbuk karbon aktif kembali dipanaskan pada suhu 250 derajat celsius.

Sementara itu, serat pohon pisang didapatkan dengan menarik dari serat dari batang pohon pisang dan dibusukkan selama 10 hari.

Setelah keduanya diproses, serat dan karbon aktif ditimbang dan ditunggu hingga kering selama kurun waktu 24 jam.

Uji coba

Setelah kering, kedua bahan campuran itu akan diangkat dari cetakan lalu dihaluskan.

Setelah itu, komposit yang sudah dihaluskan dan diukur secara biometri akan dikatakan sebagai komposit siap uji.

Komposit buatan Raafi dan Hatin itu pun telah lulus uji termal.

Karya ilmiah proyek siswa-siswi SMAN PGRI 2 Kayen, Jawa Tengah, itu juga telah memperoleh medali emas dalam ajang Indonesia Science Project Olympiad Semarang pada Februari 2016 lalu.

"Tugas kami ialah menggali, sekaligus mengembangkan potensi yang ada pada siswa-siswi kami, sehingga mereka bisa mencapai prestasi yang maksimal sehingga dari situ akan sendirinya muncul berbagai siswa yang bisa menjuarai berbagai ajang kompetisi ilmiah," tutur Kepala SMAN PGRI 2 Kayen, Surata.

Di masa depan, Raafi dan Hatin akan terus mendalami penemuan itu.

Mereka pun berharap agar karya mereka dapat digunakan dunia industri dalam negeri untuk berbagai keperluan.

(M-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya