Atasi Kantuk Pengendara Motor

Rio/M-4
20/8/2016 07:11
Atasi Kantuk Pengendara Motor
(MI/Atet Dwi Pramadia)

SEKILAS tampilan helm ini tidak berbeda dengan helm kebanyakan yang digunakan pengendara motor.

Namun, siapa sangka helm yang dilengkapi sistem Androsis itu berfungsi sebagai helm antikantuk. Helm ini merupakan karya dua anak muda asal Kota Surabaya, Kristiawan Manik dan Ricky Nataniel Joevan.

"Sebenarnya helm ini bisa digunakan dengan sembarang helm. Namun, yang kita ciptakan itu alat yang nantinya akan ditempatkan di dalam helm tersebut," ungkap Kristiawan.

Penemuan itu bermula dari tugas mata kuliah proyek desain saat mereka kuliah di Jurusan Teknik Manufaktur Universitas Surabaya (Ubaya).

Dua mahasiswa muda itu melihat begitu banyaknya fenomena angka kecelakaan saat arus mudik akibat pengendara motor mengantuk di tengah jalan.

"Waktu itu memang awalnya hanya tugas di kampus. Nah kita melihat survei jika banyak orang-orang yang kecelakaan saat mudik dan berkendara sepeda motor itu karena mengantuk. Akhirnya saya bersama teman-teman melihat hal itu konyol, orang kecelakaan hanya karena mengantuk," tutur pria 23 tahun itu.

Dengan karya helm itu, mereka berhasil mengukir prestasi dan memperoleh medali emas pada ajang International Invention/Innovation and Design yang digelar di Johor Baru, Malaysia, beberapa waktu lalu.

Cara kerja Androsis, kata Kristiawan, bermula dari alat sensor (microcontroller) untuk ukuran denyut nadi pengemudi kendaraan yang tidak sampai 80 denyut/menit.

Vibrator itu dipasang pada bagian dalam helm, tepatnya di atas kepala/ubun-ubun, melalui lubang kecil tanpa mengurangi fungsi keamanan helm standar.

"Bisa saja dipasang pada leher, tapi nantinya akan kami hubungkan dengan tali helm untuk mendukung program safety riding dari kepolisian, lalu alat sensor ini menghasilkan keluaran untuk vibrator yang terpasang pada batok kepala dari helm dan akhirnya bergetar secara berkala untuk mencegah kantuk seorang pengemudi," katanya.

Melalui Androsis, dua mahasiswa Ubaya itu berhasil mengalahkan 112 peserta, di antaranya berasal dari Amerika Serikat, Australia, Swedia, Jepang, dan Malaysia.

"Setelah melihat penemuan yang dilakukan Kristiawan dan Ricky ini, kita berpikir apa bisa menang dalam kejuaraan itu. Tapi saya pikir dicoba saja, saya juga mendukung penuh karena mereka anak-anak muda yang potensial, dan saya percaya itu," tutur Sunardi Tjandra, dosen pembimbing Fakultas Teknik Manufaktur Ubaya.

Tak disangka, dengan kerja keras dan pengorbanan waktu, tenaga serta pikiran mereka, makalah yang didaftarkan pada kejuaraan itu diterima.

Semakin bekerja keras, semakin tidak disangka pula karya yang dihasilkan bisa mengalahkan para mahasiswa dari negara-negara maju.

"Tidak pernah terbayangkan, makalah yang kami sampaikan diterima bahkan pada akhirnya bisa sampai juara dan meraih medali emas. Sungguh membanggakan," sambung Sunardi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya