Raflesia Patma Mekar Ke-10 Kalinya di Kebun Raya Bogor
Donni Darussalam/Humas Kebun Raya Bogor/Dhk/Grt/L-2
08/8/2015 00:00
(KEBUN RAYA BOGOR/LIPI)
RAFLESIA patma merupakan satu dari 15 jenis raflesia yang ada di Indonesia.
Mekarnya raflesia patma ini merupakan kali ke-10 sejak 2010, Rabu (29/7).
Di antara jenis-jenis raflesia, raflesia patma merupakan jenis raflesia yang pertama kali ditemukan pada 1797 oleh Auguste Deschamps, seorang naturalis berkebangsaan Prancis.
Baru pada 1825 spesies itu dideskripsikan Blume yang menjabat Deputi Direktur Pertanian Kebun Raya Bogor periode 1822-1826.
Dahulu orang mengklaim tidak mungkin raflesia tumbuh di luar habitatnya.
Memelihara raflesia dalam kondisi budi daya masih sangat sukar dilakukan.
Hal itu tidak lain disebabkan sifat biologisnya yang sangat rumit.
Usaha untuk membuatnya hidup di luar habitatnya sudah dilakukan sejak 1857 oleh peneliti-peneliti Belanda, tetapi banyak aspek kehidupan biologisnya yang masih menjadi misteri sehingga kelangkaan masih melekat pada tumbuhan ini.
Keberhasilan membuatnya tumbuh di Kebun Raya Bogor merupakan capaian yang perlu diapresiasi karena merupakan buah ketekunan dari bertahun-tahun mencoba.
Raflesia berhasil tumbuh di Kebun Raya Bogor sejak 1800-an.
Salah satu keberhasilan yang dicatat ialah raflesia patma koleksi H Loudon yang berbunga pada 1852.
Mulai 2004, penelitian intensif dilanjutkan kembali oleh para peneliti di Kebun Raya Bogor.
Pada peristiwa mekarnya raflesia patma kali ini, peneliti raflesia Kebun Raya LIPI Sofi Mursidawati mengatakan mereka telah menanti lebih dari 385 hari.
Akhirnya raflesia berjenis kelamin betina itu mekar sempurna pada akhir Juli lalu dengan diameter 42 cm dan tinggi 15 cm, dengan lima mahkota bunga.
Di tengah bunga patma ada lubang berisi seperti lempengan kulit durian yang mengeluarkan bau busuk dan menyengat.
Proses penyerbukan sebagai awal bau busuk itu berguna untuk memanggil lalat sebagai hewan penyerbuk agar terjadi proses perkembangbiakan.
Hanya lalat jenis tertentu saja yang dapat melakukan penyerbukan bunga patma.
Bunga ini mekar hanya dalam hitungan hari, biasanya 2-3 hari saja kemudian akan layu dan mati.
Setelah keberhasilan ini, tantangan ke depan semakin berat.
Mempertahankan keberadaannya jauh lebih sulit karena secara biologis raflesia patma berevolusi dengan habitat aslinya yang mengakomodasi kehidupannya lewat berbagai faktor alam yang sangat rumit dan spesifik.
Ia bergantung pada pohon inangnya, serangga penyerbuk, penyebaran biji, hingga iklim mikro dan makro habitatnya.
Untuk melakukan budi daya, tentu saja habitatnya harus ditiru habis-habisan.