Masyarakat Sejahtera dengan Jaminan Kesehatan

Puput Mutiara
16/8/2016 00:45
Masyarakat Sejahtera dengan Jaminan Kesehatan
(ANTARA/WAHYU PUTRO A)

JIKA dilihat dari perspektif pembiayaan, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan telah memberikan kontribusi yang mengindikasikan kesejahteraan masyarakat Indonesia semakin meningkat. Hal itu ditandai dengan adanya proteksi finansial, terutama ketika seseorang sedang sakit. Kepala BPJS Kesehatan Fahmi Idris mengatakan, untuk menjalankan program jaminan sosial di bidang kesehatan, pemerintah mengusung konsep kesatuan solidaritas nasional (national social solidarity) alias gotong royong sehingga masyarakat dapat saling membantu demi tercapainya kesejahteraan bersama. “Dengan adanya program jaminan kesehatan, paling tidak orang bisa terlindungi supaya tidak jatuh miskin saat sakit,” ujar dia saat wawancara khusus dengan Media Indonesia di Jakarta, Rabu (10/8). Menurut Fahmi, biaya yang harus dikeluarkan saat seseorang menderita sakit sering kali tidak dapat diprediksi. Masyarakat yang seharusnya bisa hidup lebih sejahtera dengan materi yang dimiliki terpaksa mengeluarkan uang untuk biaya pengobatan.

Namun, berkat program inisiasi pemerintah yang dimulai sejak 2014 itu, perlahan tapi pasti persoalan beban biaya pengobatan berangsur teratasi. Saat ini jumlah peserta BPJS Kesehatan mencapai 167 juta jiwa atau lebih dari 60% dari total penduduk di Indonesia. Ke depan, ungkap mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia itu, tepatnya 1 Januari 2019, ditargetkan seluruh penduduk Indonesia telah tergabung bersama BPJS Kesehatan. Sementara itu, sudah ada road map atau tahapan demi mewujudkan Indonesia lebih sejahtera lewat terpenuhinya kesehatan masyarakat. “Seperti Indonesia yang terus bertumbuh, program ini juga bertumbuh. Tapi lebih dulu kita siapkan fasilitas kesehatannya dengan sistem yang ada. Selain itu, kesadaran masyarakat juga perlu dibangun,” tuturnya. Meski demikian, ia menilai kesadaran masyarakat akan pentingnya memiliki jaminan kesehatan berangsur-angsur makin baik. Hasil penelitian menunjukkan hampir 95% masyarakat mengetahui dan peduli terhadap keberadaan program JKN. Menurutnya, hal itu penting sebagai modal awal untuk menumbuhkan loyalitas supaya program tersebut bisa berjalan langgeng, terlebih jika nantinya loyalitas itu tumbuh bukan lantaran kewajiban, melainkan sadar akan manfaat yang dirasakan, terutama ketika sakit. “Kita akan terus tumbuhkan kesadaran itu sehingga akhirnya bisa mengadvokasi orang lain untuk ikut bergabung dan mendukung program jaminan kesehatan,” tandasnya.

Sosialisasi edukasi
Program jaminan kesehatan yang dibangun pemerintah tidak hanya diperuntukkan satu golongan tertentu. Kendati belum semua tersentuh program itu, rerata secara nasional masyarakat provinsi dan kabupaten/kota telah menikmati layanan BPJS Kesehatan. Dari data selama 2015, tergambar angka pemanfaatan 100,62 juta kunjungan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), seperti puskesmas, dokter praktik perorangan, dan klinik pratama/swasta. Sejumlah 39,81 juta kunjungan rawat jalan tingkat lanjutan (poliklinik RS) dan 63,1 juta kunjungan rawat inap tingkat lanjutan (RS). Dengan kata lain, secara total jumlah pemanfaatan layanan kesehatan oleh peserta JKN sepanjang 2015 sebesar 146,7 juta kunjungan dan atau kasus. Artinya rerata setiap hati mencapai 402 juta jiwa yang memanfaatkan pelayanan kesehatan tersebut. “Meski begitu, masih banyak masyarakat dan juga tenaga kesehatan yang belum memahami sistem rujukan berjenjang yang kita bangun. Akibatnya pasien menumpuk di RS,” tukasnya. Oleh karena itu, BPJS Kesehatan bersama beberapa pihak terkait, seperti Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan pemerintah daerah, melalui dinas kabupaten/kota serta melibatkan sejumlah organisasi kemasyarakatan, terus melakukan sosialisasi guna mengedukasi masyarakat. Upaya sosialisasi edukasi bakal dilakukan terus-menerus agar masyarakat dapat memahami betul seluk beluk program JKN. Diberitakan, untuk dapat melekatkan kesadaran dan loyalitas terhadap sesuatu hal termasuk program jaminan kesehatan, informasi yang diberikan mesti berulang. “Bahkan sampai nanti 2050 kita jangan berhenti. Sebagaimana siklus sosialisasi yang bersifat kontinu,” ucapnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya